Skip to content

Tafsir 1 Tentang Tujuan Pendidikan

27 Oktober 2011

PEMBAHASAN

1. Pengertian Tujuan Pendidikan

Tujuan adalah suatu yang diharapakan tercapai setelah sesuatu kegiatan selesai atau tujuan adalah cita, yakni suasana ideal itu nampak yang ingin diwujudkan. Dalam tujuan pendidikan, suasana ideal itu tampak pada tujuan akhir (ultimate aims of education). Adapun tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana individu hidup, selain sebagai arah atau petunjuk dalam pelaksanaan pendidikan, juga berfungsi sebagai pengontrol maupun mengevaluasi keberhasilan proses pendidikan.
Sebagai pendidikan yang notabenenya Islam, maka tentunya dalam merumuskan tujuan harus selaras dengan syari’at Islam. Adapun rumusan tujuan pendidikan Islam yang disampaikan beberapa tokoh adalah :
1. Al-attas (1979;1) menghendaki tujuan pendidikan Islam adalah manusia yang baik
2. Marimba (1964:39) berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya orang yang berkepribadian Muslim.
3. Al-Abrasyi (1974:15) menghendaki tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang berakhlak mulia.
4. Munir Mursyi (1977;18) menyatakan bahwa tujuan akhir pendidikan menurut Islam adalah manusia sempurna
5. Menurut Abdul Fattah Jalal (1988:119), tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Ia mengatakan bahwa tujuan ini akan mewujudkan tujuan-tujuan khusus.
6. Dr. Ali Ashraf; “tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang menyerahkan diri secara mutlak kepada Allah pada tingkat individu, masyarakat dan kemanusiaan pada umumnya”.

7. Muhammad Athiyah al-Abrasy. “the fist and highest goal of Islamic is moral refinment and spiritual, training” (tujuan pertama dan tertinggi dari pendidikan Islam adalah kehalusan budi pekerti dan pendidikan jiwa)”
8. Syahminan Zaini; “Tujuan Pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berjasmani kuat dan sehat dan trampil, berotak cerdas dan berilmua banyak, berhati tunduk kepada Allah serta mempunyai semangat kerja yang hebat, disiplin yang tinggi dan berpendirian teguh”.
Dari berbagai pendapat tentang tujuan pendidikan Islam diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta moral yang tinggi, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai anggota masyarakat.
2. Tafsir Ali Imran ayat 138-139
  ••              
Artinya :
138. (Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Ali Imran : 138)
139. Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Q.S. Ali Imran : 139)
Arti kata :
ini = هَذَا
penjelasan tentang akibat jelek yang mereka lakukan, berupa kebohongan = بَيَانٌ
Penambah penerang mata hati dan petunjuk kepada jalan agama lurus = وَهُدًى
Manusia = لِلنَّاسِ
Dan Pelajaran/suatu hal yang bias melunakkan hati dan mengajak = وَمَوْعِظَةٌ
berpegang kepada ketaatan yang ada padanya
Bagi Orang-orang Yang Bertakwa = لِلْمُتَّقِينَ
Dan Jangan bersikap lemah = تَهِنُوا وَلَا
Dan janganlah kamu bersedih hati = تَحْزَنُوا وَلَا

Penjelasan :
Surah Ali ‘Imran (Arab: آل عمران , Āli-‘Imrān, “Keluarga ‘Imran”) adalah surah ke-3 dalam al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah. Dinamakan Ali ‘Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran, ibu Nabi Isa. Surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut apa yang disampaikan Al-Qur’an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad dan sebagainya.
Ayat ini memerintahkan untuk mempelajari “sunnah” yakni kebiasaan-kebiasaan atau ketetapan lilahi dalam masyarakat. Sunatullah adalah kebiasaan –kebiasaan Allah dalam memperlakukan masyarakat. Perlu diingat bahwa apa yang dinamai hukum-hukum alampun adalah kebiasaan-kebiasaan yang dialami manusia menyangkut fenomena alam. Apa yang ditegaskan al-Qur’an ini dikonfirmasiakn oleh ilmuan : hukum-hukum alam sebagaimana hukum-hukum kemasyarakatan bersifat umum dan pasti. Tidak satupun di negeri manapun yang dapat terbebaskan dari sanksi bila melanggarnya. Hukum-hukum ini tidak memperingatkan siapa yang melanggarnya dan sanksinya pun membisu sebagaimana membisunya hukum itu sendiri. Masyarakat dan jenis manusia yang tidak membedakan antara yang haram dan halal akan terbentur oleh malapetaka ketercabikan, dan kematian. Ini semata-mata adalah sanksi otomatis, karena hukum alam/ kemasyarakatan : demikian tulis Alexic Carrel yang menamai huku-hukum kemasyarakatan dengan hukum-hukum alam/materi. Demikian juga terlihat bahwa kitab suci al-Qur’an adalah kitab pertama yang mengungkapkan adanya hukum-hukum yang mengatur kehidupan masyarakat. Tidak heran hal tersebut diungkapkan al-Qur’an, karena kitab suci itu berfungsi mengubah masyarakat dan mengeluarkan anggotanya dari kegelapan menuju terang benderang, dari kehidupan negative menuju kehidupan positif. Al-Qur’an memang adalah penerang bagi seluruh manusia, petunjuk, serta peringatan bagi orang-orang bertakwa.
Janganlah kamu bersikap lemah dan bersedih hati atas apa yang telah menimpamu dan luput darimu, karena kamu adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya. Akidahmu lebih tinggi karena kamu hanya bersujud kepada Allah saja, sedang mereka sujud kepada sesuatu dari makhluk Ciptaan-Nya. Manhaj kamulebih tinggi karena kamu berjalan menurut manhaj Allah, sedang mereka menempuh jalan kehidupan menurut manhaj yang dibuat oleh makhluk Allah. Peranan kamu lebih tinggi, karena kamu mengemban wasiat atas kemanusiaan seluruhnya, pembawa petunjuk kepada semua manusia, sedang mereka menyimpang dari manhaj Allah, tersesat dari jalan yang lurus. Kedudukanmu lebih tinggi karena kamu adalah pewaris bumi sebagaimana yang dijanjikan Allah, sedang mereka akan musnah dan dilupakan. Maka jika kamu benar-benar beriman, niscaya kamu adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya. Jika kamu benar-benar beriman, maka janganlah kamu merasa lemah dan bersedih hati, karena semua itu adalah Sunnah Allah, yang mungkin saja ditimpakan kepadamu dan mungkin saja ditimpakan kepada orang-orang lain. Akan tetapi hanya kamulah yang akan mendapatkan akibat yang baik setelah kamu berjihad dan berusaha keras, setelah mendapatkan ujian dan setelah mengalami pembersihan.
Ayat ini menghendaki agar kaum muslimin jangan bersifat lemah dan bersedih hati, meskipun mereka mengalami kekalahan dan penderitaan yang cukup pahit pada perang Uhud, karena kalah atau menang dalam sesuatu peperangan adalah soal biasa yang termasuk dalam ketentuan Allah. Yang demikian itu hendaklah dijadikan pelajaran. Kaum muslimin dalam peperangan sebenarnya mempunyai mental yang kuat dan semangat yang tinggi jika mereka benar-benar beriman.
Dapat juga dilihat dari sisi jalan dan hasil perang itu. Ketika mereka taat kepada Rasul, para pemanah tidak meninggalkan posisinya dan mereka berhasil menang serta mengkocar kacirkan kaum musyrik, bahkan membunuh dua orang lebih dari mereka. Tetapi ketika mereka melanggar perintah Rasul Saw, justru mereka yang kocar-kacir sehingga pada akhirnya gugur 70 orang lebih.

3. Tafsir Al-Fath : 29

                                                         • •  
Artinya :

29. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
[1406] Maksudnya: pada air muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati mereka.

Artikata :
dengan dia adalah keras = مَعَهُ أَشِدَّاءُ
berkasih sayang sesama mereka = رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
pahala = فَضْلًا
sifat orang-orang mukmin = مَثَلُهُمْ
Ajaib yang sesuai dengan yang dikatakan dalam perumpamaan-perumpamaan tentang keindahannya.
kamu lihat mereka ruku’ = تَرَاهُمْ رُكَّعًا
Penjelasan :
Seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya itulah citra islam sejak dari permulaan kebangkitannya, bertambah lama bertambah banyak pengikutnya hingga ia menjadi kuat dan mengagumkan/tidak ubahnya dengan tunas yang tumbuh pada pokoknya. Hal demikian menjengkelkan hati orang-orang kafir.
Setelah Allah SWT. menyebutkan bahwa Dia mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama Islam, supaya Dia meluhurkan derajat agama tersebut atas semua agama-agama yang lain, maka dilanjutkan dengan menerangkan ihwal rasul dan umat yang kepada mereka ia diutus. Allah menggambarkan mereka dengan sifat-sifat yang seluruhnya terpuji dan merupakan peringatan bagi generasi sesudah mereka dan sifat-sifat itulah mereka dapat menguasai bangsa-bangsa lain dan memiliki negeri-negeri mereka, bahkan menggenggam tampuk kepemimpinan seluruh dunia. Yaitu :
1. Bahwa mereka bersikap keras terhadap siapa pun yang menentang agama-Nya, dan mengajak bermusuhan, dan bersifat belas kasih sesame mereka.
2. Bahwa mereka menjadikan salat dan keikhlasan kepada Allah sebagai kebiasaan mereka pada kebanyakan waktu.
3. Bahwa mereka dengan amal mereka mengharapkan pahala dari Tuhan mereka dan kedekatan-Nya serta keridaan dari-Nya.
4. Bahwa mereka mempunyai tanda yang dengan itu mereka mudah dikenal. Yakni bahwa mereka bercahaya pada wajah mereka, khuyu’ dan tunduk yang bias dikenali oleh orang yang cerdas.
5. Bahwa Injil mengumpamakan keadaan mereka dengan mengatakan, akan muncul suatu kaum yang akan tumbuh bagaikan tumbuhnya tanaman, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran.
Bahwasanya pada permulaan Islam orang-orang mukmin jumlahnya sedikit saja. Kemudian mereka semakin banyak dan semakin teratur dan hari demi hari semakin meningkat sehingga membuat orang-orang kagum terhadap mereka Nabi saw. berdakwah sendirian. Kemudian Allah memperkuat dengan orang-orang yang ada bersamanya sebagaimana diperkuatnya benih yang pertama dari suatu tanaman dengan hal-hal yang keluar padanya.
Surah Al-Fath (Arab: الفتح , “Kemenangan”) adalah surah ke-48 dalam al-Qur’an. Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 29 ayat. Dinamakan Al-Fath yang berarti Kemenangan diambil dari perkataan Fat-han yang terdapat pada ayat pertama surah ini. Sebagian besar dari ayat-ayat surah ini menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan kemenangan yang dicapai Nabi Muhammad SAW. dalam peperangannya.
Nabi Muhammad SAW sangat gembira dengan turunnya ayat pertama surat ini. Kegembiraan ini dinyatakan dalam sabda beliau yang diriwayatkan Sahih Bukhari; Sesungguhnya telah diturunkan kepadaku satu surat, yang surat itu benar-benar lebih aku cintai dari seluruh apa yang disinari matahari. Kegembiraan Nabi Muhammad SAW itu ialah karena ayat-ayatnya menerangkan tentang kemenangan yang akan diperoleh Muhammad SAW. dalam perjuangannya dan tentang kesempurnaan nikmat Allah kepadanya.
4. Kandungan Al-Qur’an Surat al-Dzariyat [51] ayat 56

      
Artinya :
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. ” (Q.S. al-Dzariyat [51] : 56
Arti kata :

aku tidak menciptak jin = خَلَقْتُ الْجِنَّ
dan manusia وَالْإِنسَ =
melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku = . إِلاّلِيَعْبُدُونِ

Penjelasan :
Surah Az-Zariyat (Arab: الذاريات ,”Angin Yang Menerbangkan”) adalah surah ke-51 dalam al-Qur’an. Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 60 ayat. Dinamakan Az-Zariyat yang berarti Angin Yang Menerbangkan diambil dari perkataan Az-Zariyat yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Ayat ini dengan sangat jelas mengabarkan kepada kita bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain hanyalah untuk “mengabdi” kepada Allah SWT. Dalam gerak langkah dan hidup manusia haruslah senantiasa diniatkan untuk mengabdi kepada Allah. Tujuan pendidikan yang utama dalam Islam menurut Al-Qur’an adalah agar terbentuk insan-insan yang sadar akan tugas utamanya di dunia ini sesuai dengan asal mula penciptaannya, yaitu sebagai abid. Sehingga dalam melaksanakan proses pendidikan, baik dari sisi pendidik atau anak didik, harus didasari sebagai pengabdian kepada Allah SWT semata.
Mengabdi dalam terminologi Islam sering diartikan dengan beribadah. Ibadah bukan sekedar ketaatan dan ketundukan, tetapi ia adalah satu bentuk ketundukan
dan ketaatan yang mencapai puncaknya akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi. Ibadah juga merupakan dampak keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang tidak terjangkau dan tidak terbatas. Ibadah dalam pandangan ilmu Fiqh ada dua yaitu ibadah mahdloh dan ibadah ghoiru mahdloh. Ibadah mahdloh adalah ibadah yang telah ditentukan oleh Allah bentuk, kadar atau waktunya seperti halnya sholat, zakat, puasa dan haji. Sedangkan ibadah ghoiru mahdloh adalah sebaliknya, kurang lebihnya yaitu segala bentuk aktivitas manusia yang diniatkan untuk memperoleh ridho dari Allah SWT.
Pokok-Pokok Isi
– Keimanan
• Bagaimana keadaan orang-orang yang beriman di dalam syurga sebagai balasan ketaatan bagi orang yang bertakwa
• Manusia dan jin dijadikan Allah untuk beribadah kepada-Nya
• Allah sebagai pemberi rezki
• Neraka sebagai balasan bagi orang- orang kafir
– Hukum-hukum
• Larangan mempersekutukan Allah dengan selain-Nya
• Perintah berpaling dari orang-orang musyrik yang berkepala batu dan memberikan peringatan dan pengajaran kepada orang-orang mukmin
• Pada harta kekayaan seseorang terdapat hak orang miskin
Manusia diciptakan oleh Allah SWT agar menyembah kepadanya. Kata menyembah sebagai terjemahan dari lafal ‘abida-ya’budu-‘ibadatun (taat, tunduk, patuh). Beribadah berarti menyadari dan mengaku bahwa manusia merupakan hamba Allah yang harus tunduk mengikuti kehendaknya, baik secara sukarela maupun terpaksa.
• Ibadah muhdah (murni), yaitu ibadah yang telah ditentukan waktunya, tata caranya, dan syarat-syarat pelaksanaannya oleh nas, baik Al Qur’an maupun hadits yang tidak boleh diubah, ditambah atau dikurangi. Misalnya shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya.
• Ibadah ‘ammah (umum), yaitu pengabdian yang dilakuakn oleh manusia yang diwujudkan dalam bentuk aktivitas dan kegiatan hidup yang dilaksanakan dalam konteks mencari keridhaan Allah SWT
Jadi, setiap insan tujuan hidupnya adalah untuk mencari keridhaan Allah SWT, karena jiwa yang memperoleh keridhaan Allah adalah jiwa yang berbahagia, mendapat ketenangan, terjauhkan dari kegelisahan dan kesengsaraan bathin. Sedangkan diakhirat kelak, kita akan memperoleh imbalan surga dan dimasukkan dalam kelompok hamba-hamba Allah SWT yang istimewa. Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi :
 • •      •       • 
Artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhainya. Maka masuklah dalam jamaah hamba-hambaku. Dan masuklah ke dalam surgaku.” (QS Al Fajr : 27-30)
Selama hidup di dunia manusia wajib beribadah, menghambakan diri kepada Allah. Seluruh aktivitas hidupnya harus diarahkan untuk beribadah kepadanya. Islam telah memberi petunjuk kepada manusia tentang tata cara beribadah kepada Allah. Apa-apa yang dilakukan manusia sejak bangun tidur samapai akan tidur harus disesuaikan dengan ajaran Islam.
Jin dan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT mempunayi tugas pokok di muka bumi, yaitu untuk mengabdi kepada Allah SWT. Pengabdian yang dikehendaki oleh Allah SWT adlah bertauhid kepadanya, yakni bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Jin dan manusia wajib mengesakan Allah dalam segala situasi dan kondisi, baik dalam keadaan suka maupun duka.
Petunjuk Allah hanya akan diberikan kepada manusia yang taat dan patuh kepada Allah dan rasulnya, serta berjihad dijalannya. Taat kepada Allah dibuktikan dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Taat kepada rasul berarti bersedia menjalankan sunah-sunahnya. Kesiapan itu lalu ditambah dengan keseriusan berjihad, berjuang di jalan Allah dengan mengorbankan harta, tenaga, waktu, bahkan jiwa.

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari uraian dan penjelasan di atas, pemakalah menyimpulkan :
1. Tujuan utama dalam pendidikan Islam adalah membentuk pribadi muslim yang sadar akan tujuan asal mula penciptaannya, yaitu sebagai abid (hamba). Sehingga dalam melaksanakan proses pendidikan, baik dari sisi pendidik atau anak didik, harus didasari sebagai pengabdian kepada Allah SWT semata, selain itu dalam setiap gerak langkahnya selalu bertujuan memperoleh ridho dari Yang Maha Kuasa.
2. Pendidikan Islam mempunyai misi membentuk kader-kader khalifah fil ardl yang mempunyai sifat-sifat terpuji seperti amanah, jujur, kuat jasmani dan mempunyai pengetahuan yang luas dalam berbagai bidang. Diharapkan akan terbentuk muslim yang mampu mengemban tugas sebagai pembawa kemakmuran di bumi dan “Rahmatan Lil Alamin“.
3. Secara umum tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta moral yang tinggi, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai anggota masyarakat.
B. Saran
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca terutama pada dosen mata kuiah ini, agar dapat pembuatan makalah selanjutnya menjadi lebih baik. Atas kritik dan saranya, penulis ucapkan terima kasih.

From → Tak terkategori

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: