Skip to content

31 Oktober 2011

DAFTAR ISI

Daftar Isi                                                                                                                           1

Pendahuluan                                                                                                                    2      a.      Prinsip dan tujuan konsumsi dalam Islam                                                 3

    1. Prinsip Keadilan                                                                                     3
    2. Prinsip Halal                                                                                           4
    3. Prinsip Bersih                                                                                         5
    4. Prinsip Moral                                                                                          5
    5. Prinsip Murah Hati                                                                               5
  1. b. Rasionalitas dalam perilaku konsumsi                                       6
  2. c. Fungsi Utilitas dan Maslahah dalam Islam                                9

PUSTAKA                                                                                                                       14


Pendahuluan

Keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup merupakan naluri manusia. Kebutuhan satu individu digabung dengan kebutuhan individu lainnya dalam satu keluarga, akan menghasilkan kebutuhan keluarga. Kebutuhan keluarga yang digabung dengan kebutuhan keluarga lain dalam satu komunitas tertentu, akan menghasilkan kebutuhan komunitas tersebut. Demikian seterusnya sehingga akhirnya akan terakumulasi menjadi kebutuhan penduduk dunia secara keseluruhan (Nopirin, 2000).

Barang dan jasa yang untuk memperolehnya diperlukan suatu pengorbanan, misalnya ditukar dengan uang atau bentuk penukaran lain, itulah yang disebut sebagai barang ekonomi. Secara garis besar barang ekonomi dapat dikelompokkan kedalam dua bagian besar, yakni barang konsumsi(consumer goods) dan barang modal (capital goods). Adapula barang-barang kebutuhan manusia yang untuk memperolehnya tidak memerlukan pembayaran, misalnya udara yang kita hirup, dan air yang berasal dari tanah. Barang yang demikian disebut barang bebas, karena untuk memperolehnya tidak diperlukan suatu penukaran.

Konsumsi umumnya didefinisikan sebagai pemakaian barang-barang hasil industri (pakaian, makanan dan sebagainya), atau barang-barang yang langsung memenuhi keperluan kita.  Barang-barang seperti ini disebut sebagai barang konsumsi.  Kata yang berhubungan dengan konsusmsi dalam Al-Qur’an dan Hadits, adalah makanan (al-ukul), yang mencakup juga di dalamnya minuman (asy-syarab). Serta hal-hal lainnya seperti pakaian (al-kiswan) dan perhiasan, seperti tercantum di dalam surat Al- A’raaf ayat 31-32:

* ûÓÍ_t6»tƒ tPyŠ#uä (#rä‹è{ ö/ä3tGt^ƒÎ— y‰ZÏã Èe@ä. 7‰Éfó¡tB (#qè=à2ur (#qç/uŽõ°$#ur Ÿwur (#þqèùΎô£è@ 4 ¼çm¯RÎ) Ÿw =Ïtä† tûüÏùΎô£ßJø9$# ÇÌÊÈ ö@è% ô`tB tP§ym spoYƒÎ— «!$# ûÓÉL©9$# ylt÷zr& ¾Ínϊ$t7ÏèÏ9 ÏM»t6Íh‹©Ü9$#ur z`ÏB É-ø—Ìh9$# 4 ö@è% }‘Ïd tûïÏ%©#Ï9 (#qãZtB#uä ’Îû Ío4quŠysø9$# $u‹÷R‘‰9$# Zp|ÁÏ9%s{ tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# 3 y7Ï9ºx‹x. ã@Å_ÁxÿçR ÏM»tƒFy$# 5Qöqs)Ï9 tbqçHs>ôètƒ ÇÌËÈ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makanlah dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba_Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?’ Katakanlah: ‘Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.”

Konsumsi merupakan bagian akhir dan sangat penting dalam pengolahan kekayaan. Sehingga harus  dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk hal-hal yang penting.  Dengan demikian cara penggunaan kekayaan (konsumsi) harus diarahkan pada pilihan-pilihan yang baik dan tepat agar dapat dimanfaatkan pada jalan yang terbaik.

  1. a.      Prinsip dan tujuan konsumsi dalam Islam

Perekonomian Islam berlandaskan kepada al-qur’an dan hadits sebagai panduan yang memberikan petunjuk-petunjuk yang sangat jelas kepada umat Islam.  Berbagai hal tercakup di dalamnya tidak terkecuali mengenai konsumsi.   Dengan berdasar pada petunjuk-petunjuk tersebut, maka kegiatan ekonomi dalam Islam mempunyai tujuan agar manusia mencapai kejayaan (al-falah) di dunia dan akhirat.  Segala sesuatu sumber daya yang ada di bumi ini diciptakan untuk manusia.  Dengan demikian maka konsumsi dalam Islam juga bertujuan untuk kepentingan dunia dan akhirat. Hal ini tercermin dalam Firman Allah pada suat An-Nahl : 13 berikut :

 

“Dan dia (menundukkan pula) apa yang dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.” (QS an-Nahl: 13)

Dalam hal pemenuhan kebutuhan seseorang dalam kegiatan konsumsi, Islam tidak mengakui kegemaran materialistis semata-mata dari pola konsumsi modern.  Etika Ilmu ekonomi Islam berusaha untuk mengurangi kebutuhan material yang luar biasa untuk menghasilkan energi manusia dalam mengejar cita-cita spiritualnya.

Hal ini akan menentukan bagaimana seorang muslim dalam pola konsumsinya, seperti halnya anjuran Rasulullah agar selalu berakhlak mulia.  Dengan demikian maka seorang muslim akan menafkahkan hartanya untuk kebaikan, menjauhi diri dari sifat kikir, serta akan bersikap sederhana.

Adapun prinsip-prinsip konsumsi dalam Islam meliputi beberapa hal berikut :

1.   Prinsip Keadilan

Suatu perekonomian akan bergerak jiak ada produksi dan ada yang mengkonsumsi hasil produksi tersebut.  Dengan demikian Belanja dan konsumsi adalah tindakan untuk mendorong produksi. Jika tidak ada konsumen dan daya beli masyarakat berkurang karena sifat kikir maka cepat atau lambat roda produksi akan terhenti, sehingga perkembangan bangsa akan terhambat.

Memiliki harta tidak bertentangan dengan syara’.  Tetapi harta merupakan sarana untuk menikmati karunia Allah dan wasilah untuk mewujudkan kemaslahatan umum, dan harta bukan merupakan tujuan.  Oleh karena itu dalam membelanjakan harta, harus dilakukan untuk  jalan Allah dan untuk kepentingan diri dan keluarga.  Dalam surat Surat al-Hadid: 10 dijelaskan tentang kewajiban seorang muslim untuk membelanjakan harta di jalan Allah:

“Dan mengapa kamu tidak menafkahkan sebagian hartamu pada jalan Allah, padahal Allahlah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi.”

Islam mewajibkan setiap orang membelanjakan harta untuk kebutuhan pribadi dan keluarganya serta menafkahkan di jalan Allah. Selain itu ia juga dilarang membelanjakan hartanya dalam hal-hal yang diharamkan dan tidak dibenarkan membelanjakan harta di jalan halal yang melebihi batas kewajaran. Islam memperbolehkan umatnya menikmati kebaikan dunia dengan memperhatikan prinsip hemat, mengutamakan kesederhanaan, tidak melewati batas-batas kewajaran. Rasulullah berkata:

“Tidak beranjak kaki seseorang di hari kiamat, kecuali setelah ditanya empat hal… dan tentang hartanya, dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakan.” (Hadits hasan sahih riwayat Tirmidzi).

Setiap muslim dianjurkan untuk menyeimbangkan pendapatan dengan pengeluaran, agar ia tidak terpaksa berhutang dan merendahkan diri di hadapan orang lain. Hutang berdampak negatif bagi individu yang bersangkutan dan juga bagi masyarakat. Sekiranya mereka membiasakan diri bergantung kepada Allah dan pada diri sendiri dan membiasakan diri hidup sederhana, niscaya hal itu lebih baik dan lebih bermanfaat bagi mereka. (Qardhawi).  Rasulullah bersabda:

“Bagi para syuhada akan dihapuskan seluruh dosa mereka kecuali hutang piutang (yang belum mereka bayar).” (HR Muslim)

Dalam konsumsi, Allah tidak menyukai sikap yang boros dan mubazir, berupa kehidupan bermewah-mewah, dalam arti menenggelamkan diri dalam kenikmatan dan bermegah-megah dan dalam Al-Qur’an, Allah mengajak manusia untuk hidup sederhana. Di dalam surat al-Furqan ayat 67 dikatakan:

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) , mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”

Dan sejalan dengan itu Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah memakruhkan kamu menghambur-hamburkan uang.”

2.   Prinsip Halal

Dalam mengkonsumsi sesuatu, Islam mewajibakan umatnya untuk mengkonsumsi barang-barang yang halal.  Sementara itu melarang yang haram untuk di konsumsi.  Dan Allah hanya mengharamkan beberapa saja, bahkan mengizinkannya apabila keadaan memaksa, seperti difirmankan oleh Allah dalam Surat Al-Baqarah 173, yaitu :

 “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 173)

3.  Prinsip Bersih

 

Untuk menjaga kesehatan dan agar tidak merusak selera, makanan yang dikonsumsi haruslah baik, tidak kotor dan tidak menjijikkan.  Rasulullah bersabda (HR Tarmidzi) :

“Makanan diberkahi jika kita mencuci tangan sebelum dan setelah memakannya”

4.  Prinsip Moral

Terkait dengan pembahasan sebelumnya, seorang muslim dalam melakukan konsumsi harus meperhatikan aspek etika dan moral.  Prinsip berlebih-lebihan hanya akan menimbulkan kecemburuan sosial dan menunjukkan kesenjangan sosisial.  Islam mewajibkan adanya zakat yang dilandasi prinsip moral sehingga terjadi pendistribusian harta dari si kaya dan si miskin.

Selain itu, seorang muslim tidak diperbolehkan bersikap kikir serta dianjurkan untuk hidup sederhana dan banyak bersedekah.  Dan dalam konsumsi sebagai ungkapan terima kasih atas rezaeki yang diberikan Allah, kepada setiap muslim ketika melakukan konsumsi mengucapkan basmalah dan setelah selesai mengucapkan hamdallah.

5. Prinsip Murah Hati 

Dalam melakukan konsumsi manusia juga harus dilandasi dengan kemurahan hati, seperti halnya Allah yang dengan karunianya  telah menghalakan makanan-makanan untuk manusia (Qs al-Maidah: 96).

¨@Ïmé& öNä3s9 ߉ø‹|¹ ̍óst7ø9$# ¼çmãB$yèsÛur $Yè»tFtB öNä3©9 Íou‘$§‹¡¡=Ï9ur ( tPÌhãmur öNä3ø‹n=tæ ߉ø‹|¹ ÎhŽy9ø9$# $tB óOçFøBߊ $YBããm 3 (#qà)¨?$#ur ©!$# ü”Ï%©!$# ÏmøŠs9Î) šcrçŽ|³øtéB ÇÒÏÈ

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut[442] dan makanan (yang berasal) dari laut[443] sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.

[442]  Maksudnya: binatang buruan laut yang diperoleh dengan jalan usaha seperti mengail, memukat dan sebagainya. termasuk juga dalam pengertian laut disini ialah: sungai, danau, kolam dan sebagainya.

[443]  Maksudnya: ikan atau binatang laut yang diperoleh dengan mudah, Karena Telah mati terapung atau terdampar dipantai dan sebagainya.

Daripada mengkonsumsi sesuatu berlebih-lebihan, lebih baik menyisisihkan makanan yang ada kemudian kita berikan kepada mereka yang sangat membutuhkannya, karenam masih banyak orang yang kekurangan makanan dan minuman.

Menurut Adiwarman Azwar Karim, uang dalam Islam adalah public goods yang bersifat flow concept sedangkan kapital merupakan private goods yang bersifat stock concept. Sementara itu menurut konvensional uang dan kapital merupakan private goods [1].

Pada tingkatan praktis, perilaku ekonomi (economic behavior) sangat ditentukan oleh tingkat keyakinan atau keimanan seseorang atau sekelompok orang yang kemudian membentuk kecenderungan prilaku konsumsi di pasar. Dengan demikian dapat disimpulkan tiga karakteristik perilaku ekonomi dengan menggunakan tingkat keimanan sebagai asumsi yaitu:

  1. Ketika keimanan ada pada tingkat yang cukup baik, maka motif berkonsumsi atau berproduksi akan didominasi oleh tiga motif utama tadi; mashlahah, kebutuhan dan kewajiban.
  2. Ketika keimanan ada pada tingkat yang kurang baik, maka motifnya tidak didominasi hanya oleh tiga hal tadi tapi juga kemudian akan dipengaruhi secara signifikan oleh ego, rasionalisme (materialisme) dan keinginan-keinganan yang bersifat individualistis.
  3. Ketika keimanan ada pada tingkat yang buruk, maka motif berekonomi tentu saja akan didominasi oleh nilai-nilai individualistis (selfishness); ego, keinginan dan rasionalisme.
  1. b.      Rasionalitas dalam perilaku konsumsi

Ketika kebutuhan masyarakat masih bisa dipenuhi oleh sumber daya yang ada, maka tidak akan terjadi persoalan, bahkan juga tidak akan terjadi persaingan. Namun manakala kebutuhan seseorang atau masyarakat akan barang dan jasa sudah melebihi kemampuan penyediaan barang dan jasa tersebut, maka akan terjadilah apa yang disebut kelangkaan.

Fenomena itu akan mendorong manusia untuk memakmurkan bumi dan menciptakan kesejahteraan bagi kehidupan manusia. Kondisi kelangkaan barang juga dapat dijadikan momen untuk menguji keimanan dan kesabaran manusia. Allah berfirman dalam QS. Asy-Syuura ayat 27 : Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambanya tentulah mereka akan melampaui batas di bumi ini.”Itulah diantara hikmah kelangkaan barang tersebut.

Manusia harus memanfaatkannya seoptimal mungkin tanpa menimbulkan kerusakan dan ketidakadilan dimuka bumi. Implikasi dari prinsip diatas adalah ’ tidak ada kelangkaan absolut dimuka bumi ini’. Menurut Masudul Alam Choudhury dalam bukunya, Contributions to Islamic Economic Theory, manusia menduga adanya kelangkaan karena adanya keterbatasan pengetahuan tentang bagaimana cara memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya. Dengan demikian, dalam konsep Islam tentang ekonomi, barang- barang yang dapat diolah oleh manusia dapat digolongkan sebagai barang yang memiliki kelangkaan, dan termasuk ’barang ekonomi’. Sedangkan barang-barang yang masih diluar jangkauan kapasitas produktif manusia, bukanlah barang-barang yang langka, dengan demikian tergolong ’bukan barang ekonomi’.

Kelangkaan juga membuat seseorang bijak dalam menentukan alokasi sumber daya yang dimilikinya. Pilihan yang tidak jadi diambil disebut opportunity cost. Teori Perilaku konsumen (consumer behavior) mempelajari bagaimana manusia memilih diantara berbagai pilihan yang dihadapinya dengan memanfaatkan sumber daya (resources) yang dimilikinya.

Teori perilaku konsumen rasional dalam paradigma ekonomi konvensional didasari pada prinsip-prinsip dasar utilitarianisme. Diprakarsai oleh Bentham yang mengatakan bahwa secara umum tidak seorangpun dapat mengetahui apa yang baik untuk kepentingan dirinya kecuali orang itu sendiri. Dengan demikian pembatasan terhadap kebebasan individu, baik oleh individu lain maupun oleh penguasa, adalah kejahatan dan harus ada alasan kuat untuk melakukannya. Oleh pengikutnya, John Stuart Mill dalam buku On Liberty yang terbit pada 1859, paham ini dipertajam dengan mengungkapkan konsep ’freedom of action’ sebagai pernyataan dari kebebasan- kebebasan dasar manusia. Menurut Mill, campur tangan negara didalam masyarakat manapun harus diusahakan seminimum mungkin dan campur tangan yang merintangi kemajuan manusia merupakan campur tangan terhadap kebebasan-kebebasan dasar manusia, dan karena itu harus dihentikan.

Lebih jauh Mill berpendapat bahwa setiap orang didalam masyarakat harus bebas untuk mengejar kepentingannya dengan cara yang dipilihnya sendiri, namun kebebasan seseorang untuk bertindak itu dibatasi oleh kebebasan orang lain; artinya kebebasan untuk bertindak itu tidak boleh mendatangkan kerugian bagi orang lain.

Dasar filosofis tersebut melatarbelakangi analisis mengenai perilaku konsumen dalam teori ekonomi konvensional. Beberapa prinsip dasar dalam analisis perilaku konsumen adalah :

  1. Kelangkaan dan terbatasnya pendapatan.
  2. Konsumen mampu membandingkan biaya dengan manfaat.
  3. Tidak selamanya konsumen dapat memperkirakan manfaat dengan tepat. Saat mem     beli suatu barang, bisa jadi manfaat yang diperoleh tidak sesuai dengan harga yang      harus dibayarkan.
  4. Setiap barang dapat disubstitusi dengan barang lain. Dengan demikian konsumen dapat memperoleh kepuasan dengan berbagai cara.
  5. Konsumen tunduk kepada hukum Berkurangnya Tambahan Kepuasan (The Law of      Diminishing Marginal Utility). Semakin banyak jumlah barang dikonsumsi, semakin      kecil  tambahan kepuasan yang dihasilkan. Jika untuk setiap tambahan barang diperlukan biaya sebesar harga barang tersebut (P), maka konsumen akan berhenti membeli barang tersebut manakala tambahan manfaat yang diperolehnya (MU) sama besar  dengan tambahan biaya yang harus dikeluarkan. Maka jumlah konsumsi yang optimal  adalah jumlah dimana MU = P

Tujuan aktifitas konsumsi adalah memaksimalkan kepuasan (utility) dari mengkonsumsi sekumpulan barang/jasa yang disebut ’consumption bundle’ dengan memanfaatkan seluruh anggaran/ pendapatan yang dimiliki. Secara matematis hal itu ditunjukan dengan persoalan optimalisasi:

Max U = U1 + U2 + U3 + … + Un

Dengan kendala : I = P1X1 + P2X2 + P3X3 + …….. + PnXn

dimana :

U         =    total kepuasan

Un,      =    kepuasan dari mengkonsumsi barang n

Pn        =    harga barang n

Xn,      =    banyaknya barang n yang dikonsumsi

I           =    total pendapatan

Komposisi barang-barang yang dikonsumsi oleh konsumen akan stabil atau berada pada keseimbangan manakala tambahan kepuasan yang diperoleh dari setiap jenis barang per satuan harga adalah sama. Jika ada suatu barang yang memberi tambahan kepuasan lebih tinggi per satuan harganya, maka konsumen akan memperbanyak konsumsi barang tersebut dan otomatis mengurangi konsumsi barang lain. Dengan demikian belum tercapainya komposisi konsumsi yang stabil. Kestabilan atau keseimbangan konsumen tercapai manakala :

MUx = MUx = …… = MUi

——-    ——-             ——

Px          Py                  Pi

Asumsi sentral dalam teori ekonomi mikro neoklasik adalah manusia berperilaku secara rasional. Sistem kapitalisme tidak dapat hidup tanpanya. Dalam banyak hal, rasionalitas seringkali memaksa adanya penyederhanaan-penyederhanaan masalah, yang kemudian direkayasa menjadi suatu model.

Model adalah penyederhanaan masalah-masalah ekonomi dengan tujuan agar kita dapat memahami, melakukan prediksi, merancang kebijakan. Begitu banyak asumsi yang tidak realistis didalam sebuah model, sehingga sebuah tingkat kesalahan tertentu merupakan suatu yang tidak terelakkan. Adanya rasa maklum atas kesalahan yang berada diluar jangkauan rasionalitas menunjukkan bahwa masyarakat ilmiah modern menyakini keterbatasan rasionalitas.

Hal itulah yang dikenal dengan ”beyond rationality”. Beyond rationality tidak sama dan tidak identik dengan irrationality.

Mengeluarkan sedekah dari penghasilan kita tanpa ada transaksi penyeimbang yang tampak di depan mata boleh jadi dianggap irasional bagi mereka yang tidak memahami esensi dan manfaat bersedekah. Seseorang yang bersedekah dengan rasional mengharapkan balasan langsung berupa timbulnya pujian, meningkatkan pamor serta reputasinya dan minimal ucapan terima kasih. Balasan-balasan tersebut menimbulkan kepuasan (utility) dalam consumption basket-nya dan untuk itu ia bersedia mengeluarkan tingkat sedekah tertentu plus perangkat- perangkat promosinya jika diperlukan.

Sedangkan mereka yang bersedekah dengan pendekatan beyond rationality, dengan keyakinan adanya balasan pahala di akhirat dan kebaikan didunia  seperti berulang-ulang dijanjikan dalam Al-Qur’an, mereka percaya kepada suatu kebenaran yang tidak perlu langsung nyata didepan mata akan tetapi tingkat kenyakinan dan kebenarannya justru melebihi keyakinan dan kebenaran kalau melihat dengan mata kepala sendiri.

Berdasarkan paparan diatas, maka perilaku konsumsi Islam berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan Hadis perlu didasarkan atas rasionalitas yang disempurnakan yang mengintegrasikan keyakinan kepada kebenaran yang ‘melampaui’ rasionalitas manusia yang sangat terbatas ini.

Dengan demikian, hipotesis utama dalam mempelajari perilaku konsumsi, produksi dan mekanisme pasar dalam Ekonomi Islam adalah bahwa bekerjanya ‘invisible hand’ yang didasari oleh asumsi rasionalitas yang bebas nilai – tidak memadai untuk mencapai tujuan ekonomi Islam yakni terpenuhinya kebutuhan dasar setiap orang dalam suatu masyarakat.

Perilaku konsumen Islami, dengan demikian, terbentuk dari paradigma berpikir yang sama sekali berbeda dengan paradigma hukum permintaan yang kita kenal dalam ekonomi konvensional. Rasionalitas yang sangat diagungkan dalam teori mekanisme pasar dan alokasi sumber daya telah menjauhkan analisis ekonomi modern dari siraman nilai-nilai kemanusiaan dan semangat egaliter yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pola konsumsi pada masa kini lebih menekankan aspek pemenuhan keinginan material daripada aspek kebutuhan yang lain.

Islam memberikan konsep adanya an-nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang). Jiwa yang tenang ini tentu saja tidak berarti jiwa yang mengabaikan tuntutan aspek material dari kehidupan. Disinilah perlu diinjeksikan sikap hidup peduli kepada nasib orang lain yang dalam bahasa Al-Qur’an dikatakan “al-iitsar’.

  1. c.       Fungsi Utilitas dan Maslahah dalam Islam

Syariah Islam menginginkan manusia mencapai dan memelihara kesejahteraannya. Imam Shatibi menggunakan istilah ’maslahah’, yang maknanya lebih luas dari sekedar utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional. Maslahah merupakan tujuan hukum syara’ yang paling utama.

Menurut Imam Shatibi, maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia dimuka bumi ini (Khan dan Ghifari, 1992).  Ada lima elemen dasar menurut beliau, yakni: kehidupan atau jiwa (al-nafs), properti atau harta benda (al-mal), keyakinan (al-din), intelektual (al-aql), dan keluarga atau keturunan (al-nasl). Semua barang dan jasa yang mendukung tercapainya dan terpeliharanya kelima elemen tersebut diatas pada setiap individu, itulah yang disebut maslahah. Kegiatan-kegiatan ekonomi meliputi produksi, konsumsi, dan pertukaran yang menyangkut maslahah tersebut harus dikerjakan sebagai suatu ’religious duty’ atau ibadah. Tujuannya bukan hanya kepuasan di dunia tapi juga kesejahteraan di akhirat. Semua aktivitas tersebut, yang memiliki maslahah bagi umat manusia, disebut ’needs’ atau kebutuhan. Dan semua kebutuhan ini harus dipenuhi.

Mencukupi kebutuhan – dan bukan memenuhi kepuasan/keinginan – adalah tujuan dari aktivitas ekonomi Islam, dan usaha pencapaian tujuan itu adalah salah satu kewajiban dalam beragama.  Adapun sifat- sifat maslahah sebagai berikut :

  1. Maslahah bersifat subjektif dalam arti bahwa setiap individu menjadi hakim bagi     masing-masing dalam menentukan apakah suatu maslahah atau bukan bagi dirinya. Namun, berbeda dengan konsep utility, kriteria maslahah telah ditetapkan oleh syariah dan sifatnya mengikat bagi semua individu.
  2. Maslahah orang per orang akan konsisten dengan maslahah orang banyak. Konsep ini sangat berbeda dengan konsep Pareto Optimum, yaitu keadaan optimal dimana seseorang tidak dapat meningkatkan tingkat kepuasan atau kesejahteraannya tanpa menyebabkan penurunan kepuasan atau kesejahteraan orang lain.
  3. Konsep maslahah mendasari semua aktivitas ekonomi dalam masyarakat, baik itu produksi, konsumsi, maupun dalam pertukaran dan distribusi.

Berdasarkan kelima elemen di atas, maslahah dapat dibagi dua jenis : pertama, maslahah terhadap elemen-elemen yang menyangkut kehidupan dunia dan akhirat, dan kedua: maslahah terhadap elemen–elemen yang menyangkut hanya kehidupan akhirat.  Dengan demikian seorang individu Islam akan memiliki dua jenis pilihan :

  1. Berapa bagian pendapatanya yang akan dialokasikan untuk maslahah jenis pertama dan berapa untuk maslahah jenis kedua.
  2. Bagaimana memilih didalam maslahah jenis pertama : berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan dunia (dalam rangka mencapai ’kepuasan’ di akhirat ) dan berapa bagian untuk kebutuhan akhirat.

Pada tingkat pendapatan tertentu, konsumen Islam, karena memiliki alokasi untuk hal-hal yang menyangkut akhirat, akan mengonsumsi barang lebih sedikit daripada nonmuslim. Hal yang membatasinya adalah konsep maslahah tersebut diatas. Tidak semua barang/jasa yang memberikan kepuasan/utility mengandung maslahah didalamnya, sehingga tidak semua barang/jasa dapat dan layak dikonsumsi oleh umat Islam. Dalam membandingkan konsep ’kepuasan’dengan ’pemenuhan kebutuhan’ (yang terkandung didalamnya maslahah), kita perlu membandingkan tingkatan-tingkatan tujuan hukum syara’yakni antara daruriyyah, tahsiniyyah, dan hajiyyah. Penjelasan dari masing- masing tingkatan itu sebagai berikut :

  1. Daruriyyah : merupakan tujuan yang harus ada dan mendasar bagi penciptaan kesejahteraan didunia dan akhirat, yaitu mencakup terpeliharanya lima elemen dasar kehidupan yakni jiwa, keyakinan atau agama, akal/intelektual, keturunan dan keluarga serta harta benda. Jika tujuan daruriyyah diabaikan, maka tidak akan ada kedamaian, yang timbul adalah kerusakan (fasad) didunia dan kerugian yang nya di akhirat.
  1. Hajiyyah :  bertujuan memudahkan kehidupan dan menghilangkan kesempitan. Hukum syara’ dalam kategori ini tidak dimaksudkan untuk memelihara lima hal pokok tadi melainkan menghilangkan kesempitan dan berhati- hati terhadap lima hal pokok tersebut.
  1. Tahsiniyyah :  menghendaki kehidupan yang indah dan nyaman didalamnya, terdapat beberapa provisi dalam syariah yang dimaksudkan untuk mencapai pemanfaatan yang lebih baik, keindahan dan simplifikasi dari daruriyyah dan hajiyyah. Misalnya dibolehkannya memakai baju yang nyaman dan indah.

Islam memberikan arahan yang sangat indah dengan memperkenalkan konsep israf (berlebih-lebih) dalam membelanjakan harta dan tabzir. Islam memperingatkan agen ekonomi agar jangan sampai terlena dalam berlomba-lomba mencari harta (at-takaatsur). Islam membentuk jiwa dan pribadi yang beriman, bertakwa, bersyukur, dan menerima.

Pola hidup konsumtivisme seperti diatas tidak pantas dan tidak selayaknya dilakukan oleh pribadi yang beriman dan bertakwa.  Satu-satunya gaya hidup yang cocok adalah simple living (hidup sederhana) dalam pengertian yang benar secara syar’i.  Setidaknya terdapat tiga kebutuhan pokok :

  • Pertama, kebutuhan primer yakni nafkah-nafkah pokok bagi manusia yang dapat mewujudkan lima tujuan syariat (yakni memelihara jiwa, akal, agama, keturunan, dan kehormatan). Tanpa kebutuhan primer kehidupan manusia tidak akan berlangsung. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan makan, minum, tempat tinggal, kesehatan, rasa aman, pengetahuan, dan pernikahan.
  • Kedua, kebutuhan sekunder yakni kebutuhan manusia untuk memudahkan kehidupan, agar terhindar dari kesulitan. Kebutuhan ini tidak perlu dipenuhi sebelum kebutuhan primer terpenuhi. Kebutuhan ini pun masih berkaitan dengan lima tujuan syariat itu tadi.
  • Ketiga, kebutuhan pelengkap, yaitu kebutuhan yang dapat menciptakan kebaikan dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia. Pemenuhan kebutuhan ini tergantung pada bagaimana pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder serta berkaitan dengan lima tujuan syariat.

Islam mengharamkan segala pembelanjaan yang tidak mendatangkan manfaat, baik manfaat materiil maupun spiritual. Islam mengajarkan kepada kita sikap pertengahan dalam mengeluarkan harta, tidak berlebihan dan tidak pula kikir. Sikap berlebihan akan merusak jiwa, harta, dan masyarakat. Sementara kikir adalah satu sikap hidup yang dapat menahan dan membekukan harta. Dalam QS.al-Furqaan ayat 67 Allah berfirman : Dan orang- orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebih- lebihan, dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah- tengah antara yang demikian. Atau dalam QS.al-Israa ayat 29 :

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkan karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal”

 

Adanya kelangkaan satu barang tidak hanya menghadirkan ujian keimanan dan kesabaran seorang manusia. Kelangkaan barang juga akan menuntut seorang hamba untuk kreatif dalam menghasilkan barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mencari jalan keluar bagi kesulitan yang dihadapinya.

Kelangkaan akan barang dan jasa timbul bila kebutuhan (keinginan) seseorang atau masyarakat ternyata lebih besar daripada tersedianya barang dan jasa tersebut.

Menurut Imam Al-Ghazali kebutuhan (hajat) adalah keinginan manusia untuk mendapatkan sesuatu yang diperlukan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menjalankan fungsinya. Kita melihat misalnya dalam hal kebutuhan akan makanan dan pakaian. Kebutuhan makanan adalah untuk menolak kelaparan dan melangsungkan kehidupan, kebutuhan pakaian untuk menolak panas dan dingin. Pada tahap ini mingkin tidak bisa dibedakan antara keinginan (syahwat) dan kebutuhan (hajat) dan terjadi persamaan umum antara homo economicus dan homo Islamicus. Namun manusia harus mengetahui bahwa tujuan utama diciptakannya nafsu ingin makan adalah untuk menggerakkannya mencari makanan dalam rangka menutup kelaparan, sehingga fisik manusia tetap sehat dan mampu menjalankan fungsinya secara optimal sebagai hamba Allah yang beribadah kepada-Nya. Disinilah letak perbedaan mendasar antara filosofi yang melandasi teori permintaan Islami dan konvensional.

Lebih jauh Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya niat dalam melakukan konsumsi sehingga tidak kosong dari makna dan steril. Konsumsi dilakukan dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Disini tampak pula pandangan integral beliau tentang falsafah hidup seorang Muslim.

Pembahasan tentang tingkatan-tingkatan pemenuhan kebutuhan manusia (hajat) telah menarik perhatian para ulama disepanjang zaman. Norma dan batasan ini pada gilirannya akan membentuk gaya hidup (life style) dan pola perilaku konsumsi (patterns of consumption behaviour) tertentu yang secara lahiriah akan membedakannya dari gaya hidup yang tidak diilhami oleh roh ajaran Islami.

Dalam bukunya yang berjudul Ihya Ulumiddin Imam al-Ghazali membagi tiga tingkatan konsumsi yaitu, sadd ar-Ramq dan ini disebut juga had ad-dhoruroh, had al-hajah, dan yang tertinggi adalah had at-tana’um. Had ar-ramq atau batasan darurat adalah tingkatan konsumsi yang paling rendah dan bila manusia berada dalam kondisi ini, ia hanya mampu bertahan hidup dengan penuh kelemahan dan kesusahan. Imam Al-Ghazali sendiri menolak gaya hidup seperti ini karena individu tidak akan mampu melaksanakan kewajiban agama dengan baik dan akan meruntuhkan sendi-sendi keduniaan yang pada gilirannya juga akan meruntuhkan agama karena dunia adalah ladang akhirat (ad-Dunya Mazro’ah al-akhirah).

Tingkatan tana’um digambarkan bahwa individu pada tahapan ini melakukan konsumsi tidak hanya didorong oleh usaha memehuni kebutuhannya. Tetapi juga bertujuan untuk bersenang-senang. Menurut Imam Al-Ghazali gaya hidup bersenang- senang ini tidak cocok bagi seorang mukmin yang tujuan hidupnya untuk mencapai derajat tertinggi dalam ibadah dan ketaatan. Kendatipun begitu, gaya hidup demikian tidak seluruhnya haram. Sebagian dihalalkan, yaitu ketika individu menikmatinya dalam kerangka menghadapi nasib di akhirat, walaupun untuk itu, ia akan tetap diminta pertanggungjawabannya kelak. Barangkali keadaan ini dapat lebih ditegaskan bahwa meninggalkan had tana’um tidak diwajibkan secara keseluruhan begitu juga menikmatinya tidak dilarang semuanya.

Antara had ad-dhorurah dengan tana’um terdapat area yang sangat luas disebut had al-hajah dimana keseluruhannya halal dan mubah. Menurut Al-Ghazali area ini memiliki dua ujung batasan yang berbeda yaitu ujung yang berdekatan dengan perbatasan dharurah dan ini di nilainya tidak mungkin dipertahankan karena akan menimbulkan kelemahan dan kesengsaraan dan ujung yang lain berbatasan dengan tana’um dimana individu yang berada disini dianjurkan untuk ekstra waspada. Hal ini disebabkan karena ujung perbatasan ini dapat menjerumuskannya kedalam hal- hal yang membuatnya terlena secara tidak sadar dan akhirnya melalaikan tugasnya dalam beribadah kepada Allah. Beliau menasehati kita agar sedapat mungkin menetap di had al-hajah dengan sedekat mungkin mendekati had ad-dharurah dalam rangka meneladani para Nabi dan Wali. Belakangan Imam Suyuthi (w.911H) dalam al-Asybah wan Nazhoir menulis lima tingkatan yaitu, dharurah, hajah, manfa’ah,ziinah dan fudhul.

PUSTAKA

  1. Mustafa Edwin Nasution, Jangan Pinggirkan Studi Ekonomi Syariah, Republika online,  Senin, 07 Nopember 2005.
  2. Adiwarman Azwar Karim, Ekonomi Islam: Suatu Kajian Ekonomi Makro, The International Institute of Islamic Thought Indonesia (IIIT Indonesia), 2002, hlm. 19 – 22.
  3. Qardhawi, Yusuf, Dr., Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, Rabbani Press, Jakarta, 1995
  4. Makalah-makalah Ayat dan Hadis Ekonomi Islam.


From → Tak terkategori

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: