Skip to content

Pandangan Islam Terhadap Persoalan Ekonomi

31 Oktober 2011

Menurut Para Ahli , perkataan “ekonomi” berasal dari bahasa yunani, Yaitu “Oicos” dan “Nomos” yang berarti rumah, dan nomos yang berarti aturan. Jadi ekonomi ialah aturan2 untuk menyelenggarakan kebutuhan hidup manusia dalam rumah tangga, baik rumah tangga rakyat (Volkshuishouding) maupun rumah tangga Negara (Staatshuishouding).

Dalam bahasa Arab dinamakan mu’amalah maddiyah sebagaimana ialah aturan2 tentang pergaulan dan perhubungan manusia mengenai kebutuhan hidupnya. Lebih tepat lagi dinamakan iqtishad.

Iqtishad ialah mengatur soal2 penghidupan manusia dengan sehemat-hematnya dan secermat-cermatnya.

Karena luasnya kaidah ekonomi, pembahasan ekonomi terbagi pada :

  1. Ekonomi sebagai usaha hidup dan pencarian manusia dinamakan economicsl life
  2. Ekonomi dalam rencana suatu pemerintahan dinamakan political economy
  3. Ekonomi dalam teori dan pengetahuan dinamakan economical science.

Dengan lengkapnya, soal-soal ekonomi ini disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW. dalam suatu hadits yang diriwayatkan Bukhari, Muslim, dan Nasai dari Zubair bin Awwam.

لِأَنَّ يَأْخُذَ أَحَدُ كُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِي بِحُزْمَةِ اْلحَطَيِ عَلىَ ظَهْرِهِ فَيَبِعَهَا فَيَكُفُّ اللهُ بِهَا وَجْهَهُ أَوْيَتَصَلّاَقُ بِهَا خَيْرٌلَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النّاَسَ أَعْطَوْهُ أَوْمَنَعُوْهُ

Artinya :

“seseorang yang membawa tali (pada pagi hari) berangkat mencari dan mengerjakan kayu bakar ke bukit-bukit, lalu menjualnya, memakannya, dan menyedekahkannya lebih baik daripada hidup meminta-minta kepada manusia lainnya.”

Dengan contoh yang sangat sederhana dan klasik, Nabi dapat menegaskan soal-soal ekonomi dan bagiannya:

  1. Mengerjakan kayu bakar berarti berusaha menambah produksi
  2. Berusaha menjualnya berarti mengerjakan distribusi (pembagian)
  3. Memakannya berarti memenuhi konsumsi (pemakaian)
  4. Menyedekahkan kepada orang lain berarti mengerjakan rencana sosial.

Sesuai pula dengan teori ekonomi tentang tingkatan kemajuan perekonomian bahwa pada mulanya masing-masing orang memborong sendiri pekerjaan segala rencana ekonomi ini. Setelah lapangan ekonomi meluas barulah tiap-tiap rencana tersendiri daripada rencana dikerjakan lainnya. Caranya ialah:

  1. Pada zaman purbakala setiap orang menjadi produsen (pengusaha) dan menjadi konsumen pula (pemakai). Setelah perhubungan manusia sedikit meluas, timbullah bagian yang ketiga, yaitu distributor (pembagi), golongan saudagar
  2. Pada mulanya manusia dapat mengerjakan sendiri ketiganya, yaitu mengusahakan (produsen), menjual (distributor), dan memakai (konsumen). Akan tetapi satu persatu kemudian berdiri sendiri dan dikerjakan oleh banyak orang (produsen sendiri, distributor sendiri, dan konsumen sendiri pula). Di zaman modern ini, lapangan ketiganya sangat luas. Rencana ekonomi banyak bercabang-cabang dan tiap-tiap cabang tidak lagi dikerjakan satu orang atau satu bangsa, tetapi memerlukan tenaga banyak orang atau berbagai Negara.[1]

Di ajarkanya bahwa segala pekerjaan untuk mencari rezeki yang halal merupakan amal yang paling mulia dan terhormat meskipun hanya memotong kayu dan menjualnya sekedar menghindari hidup mengemis.

Manusia tidak dapat lepas dari pergaulan bermuamalah. Oleh karena itu, Islam yang diturunkan untuk manusia, membawa suatu tuntutan dan system muaalah yang mengatur dengan rapi perhubungan dalam segala kebutuhan mereka. Ternyata, titik berat dari ajaran Islam diletakkan dalam soal muamalah. Di samping ajarannya yang pokok tentang keimanan dan ibadah kepada Tuhan, ajaran tentang muamalah untuk mengatur perhubungan manusia, tidak pula kurang pentingnya. Ukuran iman seorang muslim tidaklah cukup dengan ibadahnya belaka, tetapi soal muamalah, sosial dan ekonomi dijadikan pula oleh Nabi sebagai ukuran yang setepat-tepatnya bagi keimanan seorang muslim.

Ekonomi atau mu’amalah maddiyah sangat sukar, tetappi memegang peranan yang penting sekali, karena hubungan dengan benda dan uang yang sangat dicintai dan berkuasa di hati manusia. Ekonomi pula, manusia mencapai tingkatan yang paling lebih tinggi dari kemajuan dan kebahagiaan.

Memang, dalam agama Islam, ekonomi dan sosial sangat erat hubungannya karena eratnya pertalian antara kebutuhan dan rohaninya. Keduanya tidaklah dapat dipisahkan, saling berhubungan serta saling berkaitan, sehingga di suatu waktu menjadi satu. Dalam meninjau suatu persoalan dari sudut ekonomi, kita tidak dapat melepaskannya dari sudut sosial.

Materiel dan moral harus berjalan bersama-sama untuk mencapai susunan ekonomi sosial yang sehat dan terartur. Jika materiel berjalan sendiri, dan segala hubungan manusia hanya diukur dengan ukuran kebendaan belaka, sebagai hasilnya dengan susunan ekonomi dunia yang kapitalitas sekarang-niscaya hancurlah hubungan yang baik dan berubahlah sifat manusia dari moralitasnya yang mulia menjadi hewan yang sangat rendah. Begitu pula sebaliknya, moral yang berjalan sendiri tanpa disertai materiel, hilanglah pula kebutuhan hidup manusia yang sangat dihayatinya di dunia ini Misalnya, dalam membicarakan soal perburuhan, tidaklah dapat dipisahkan antara soal gaji dan segala kebutuhan materielnya. Yaitudari soal hak-hak dan kepentingan buruh yang mengenai soal moral baginya. Keduanya memiliki hubungan yang erat sekali, yaitu hubungan antara kepentingan ekonomi di perusahaan yang mengeluarkan produksi dengan kepentingan kaum buruh yang bekerja di dalamnya.

Oleh karena itu, Islam memberikan peringatan kepada seluruh manusia agar tidak memisahkan kebutuhan materiel dan kepentingan moral dan juga persoalan ekonomi dengan persoalan sosial. Memang, masing-masing mempunyai persoalan sendiri-sendiri. Soal ekonomi mempunyai persoalan yang banyak, demikian pula sosial. Akan tetapi, dalam prinsipnya, haruslah dipecahkan dan diselesaikan dengan perhitungan yang tepat atas dasar materiel dan moral yang sehat.


[1] Abdullah Zaky AlKaaf, Ekonomi dalam Perspektif Islam, (Pustaka setia: Bandung, 2002), Cet. 1, hlm. 18-20

From → Tak terkategori

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: