Skip to content

DAFTAR ISI

Daftar Isi                                                                                                                           1

Pendahuluan                                                                                                                    2      a.      Prinsip dan tujuan konsumsi dalam Islam                                                 3

    1. Prinsip Keadilan                                                                                     3
    2. Prinsip Halal                                                                                           4
    3. Prinsip Bersih                                                                                         5
    4. Prinsip Moral                                                                                          5
    5. Prinsip Murah Hati                                                                               5
  1. b. Rasionalitas dalam perilaku konsumsi                                       6
  2. c. Fungsi Utilitas dan Maslahah dalam Islam                                9

PUSTAKA                                                                                                                       14


Pendahuluan

Keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup merupakan naluri manusia. Kebutuhan satu individu digabung dengan kebutuhan individu lainnya dalam satu keluarga, akan menghasilkan kebutuhan keluarga. Kebutuhan keluarga yang digabung dengan kebutuhan keluarga lain dalam satu komunitas tertentu, akan menghasilkan kebutuhan komunitas tersebut. Demikian seterusnya sehingga akhirnya akan terakumulasi menjadi kebutuhan penduduk dunia secara keseluruhan (Nopirin, 2000).

Barang dan jasa yang untuk memperolehnya diperlukan suatu pengorbanan, misalnya ditukar dengan uang atau bentuk penukaran lain, itulah yang disebut sebagai barang ekonomi. Secara garis besar barang ekonomi dapat dikelompokkan kedalam dua bagian besar, yakni barang konsumsi(consumer goods) dan barang modal (capital goods). Adapula barang-barang kebutuhan manusia yang untuk memperolehnya tidak memerlukan pembayaran, misalnya udara yang kita hirup, dan air yang berasal dari tanah. Barang yang demikian disebut barang bebas, karena untuk memperolehnya tidak diperlukan suatu penukaran.

Konsumsi umumnya didefinisikan sebagai pemakaian barang-barang hasil industri (pakaian, makanan dan sebagainya), atau barang-barang yang langsung memenuhi keperluan kita.  Barang-barang seperti ini disebut sebagai barang konsumsi.  Kata yang berhubungan dengan konsusmsi dalam Al-Qur’an dan Hadits, adalah makanan (al-ukul), yang mencakup juga di dalamnya minuman (asy-syarab). Serta hal-hal lainnya seperti pakaian (al-kiswan) dan perhiasan, seperti tercantum di dalam surat Al- A’raaf ayat 31-32:

* ûÓÍ_t6»tƒ tPyŠ#uä (#rä‹è{ ö/ä3tGt^ƒÎ— y‰ZÏã Èe@ä. 7‰Éfó¡tB (#qè=à2ur (#qç/uŽõ°$#ur Ÿwur (#þqèùΎô£è@ 4 ¼çm¯RÎ) Ÿw =Ïtä† tûüÏùΎô£ßJø9$# ÇÌÊÈ ö@è% ô`tB tP§ym spoYƒÎ— «!$# ûÓÉL©9$# ylt÷zr& ¾Ínϊ$t7ÏèÏ9 ÏM»t6Íh‹©Ü9$#ur z`ÏB É-ø—Ìh9$# 4 ö@è% }‘Ïd tûïÏ%©#Ï9 (#qãZtB#uä ’Îû Ío4quŠysø9$# $u‹÷R‘‰9$# Zp|ÁÏ9%s{ tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# 3 y7Ï9ºx‹x. ã@Å_ÁxÿçR ÏM»tƒFy$# 5Qöqs)Ï9 tbqçHs>ôètƒ ÇÌËÈ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makanlah dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba_Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?’ Katakanlah: ‘Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.”

Konsumsi merupakan bagian akhir dan sangat penting dalam pengolahan kekayaan. Sehingga harus  dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk hal-hal yang penting.  Dengan demikian cara penggunaan kekayaan (konsumsi) harus diarahkan pada pilihan-pilihan yang baik dan tepat agar dapat dimanfaatkan pada jalan yang terbaik.

  1. a.      Prinsip dan tujuan konsumsi dalam Islam

Perekonomian Islam berlandaskan kepada al-qur’an dan hadits sebagai panduan yang memberikan petunjuk-petunjuk yang sangat jelas kepada umat Islam.  Berbagai hal tercakup di dalamnya tidak terkecuali mengenai konsumsi.   Dengan berdasar pada petunjuk-petunjuk tersebut, maka kegiatan ekonomi dalam Islam mempunyai tujuan agar manusia mencapai kejayaan (al-falah) di dunia dan akhirat.  Segala sesuatu sumber daya yang ada di bumi ini diciptakan untuk manusia.  Dengan demikian maka konsumsi dalam Islam juga bertujuan untuk kepentingan dunia dan akhirat. Hal ini tercermin dalam Firman Allah pada suat An-Nahl : 13 berikut :

 

“Dan dia (menundukkan pula) apa yang dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.” (QS an-Nahl: 13)

Dalam hal pemenuhan kebutuhan seseorang dalam kegiatan konsumsi, Islam tidak mengakui kegemaran materialistis semata-mata dari pola konsumsi modern.  Etika Ilmu ekonomi Islam berusaha untuk mengurangi kebutuhan material yang luar biasa untuk menghasilkan energi manusia dalam mengejar cita-cita spiritualnya.

Hal ini akan menentukan bagaimana seorang muslim dalam pola konsumsinya, seperti halnya anjuran Rasulullah agar selalu berakhlak mulia.  Dengan demikian maka seorang muslim akan menafkahkan hartanya untuk kebaikan, menjauhi diri dari sifat kikir, serta akan bersikap sederhana.

Adapun prinsip-prinsip konsumsi dalam Islam meliputi beberapa hal berikut :

1.   Prinsip Keadilan

Suatu perekonomian akan bergerak jiak ada produksi dan ada yang mengkonsumsi hasil produksi tersebut.  Dengan demikian Belanja dan konsumsi adalah tindakan untuk mendorong produksi. Jika tidak ada konsumen dan daya beli masyarakat berkurang karena sifat kikir maka cepat atau lambat roda produksi akan terhenti, sehingga perkembangan bangsa akan terhambat.

Memiliki harta tidak bertentangan dengan syara’.  Tetapi harta merupakan sarana untuk menikmati karunia Allah dan wasilah untuk mewujudkan kemaslahatan umum, dan harta bukan merupakan tujuan.  Oleh karena itu dalam membelanjakan harta, harus dilakukan untuk  jalan Allah dan untuk kepentingan diri dan keluarga.  Dalam surat Surat al-Hadid: 10 dijelaskan tentang kewajiban seorang muslim untuk membelanjakan harta di jalan Allah:

“Dan mengapa kamu tidak menafkahkan sebagian hartamu pada jalan Allah, padahal Allahlah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi.”

Islam mewajibkan setiap orang membelanjakan harta untuk kebutuhan pribadi dan keluarganya serta menafkahkan di jalan Allah. Selain itu ia juga dilarang membelanjakan hartanya dalam hal-hal yang diharamkan dan tidak dibenarkan membelanjakan harta di jalan halal yang melebihi batas kewajaran. Islam memperbolehkan umatnya menikmati kebaikan dunia dengan memperhatikan prinsip hemat, mengutamakan kesederhanaan, tidak melewati batas-batas kewajaran. Rasulullah berkata:

“Tidak beranjak kaki seseorang di hari kiamat, kecuali setelah ditanya empat hal… dan tentang hartanya, dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakan.” (Hadits hasan sahih riwayat Tirmidzi).

Setiap muslim dianjurkan untuk menyeimbangkan pendapatan dengan pengeluaran, agar ia tidak terpaksa berhutang dan merendahkan diri di hadapan orang lain. Hutang berdampak negatif bagi individu yang bersangkutan dan juga bagi masyarakat. Sekiranya mereka membiasakan diri bergantung kepada Allah dan pada diri sendiri dan membiasakan diri hidup sederhana, niscaya hal itu lebih baik dan lebih bermanfaat bagi mereka. (Qardhawi).  Rasulullah bersabda:

“Bagi para syuhada akan dihapuskan seluruh dosa mereka kecuali hutang piutang (yang belum mereka bayar).” (HR Muslim)

Dalam konsumsi, Allah tidak menyukai sikap yang boros dan mubazir, berupa kehidupan bermewah-mewah, dalam arti menenggelamkan diri dalam kenikmatan dan bermegah-megah dan dalam Al-Qur’an, Allah mengajak manusia untuk hidup sederhana. Di dalam surat al-Furqan ayat 67 dikatakan:

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) , mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”

Dan sejalan dengan itu Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah memakruhkan kamu menghambur-hamburkan uang.”

2.   Prinsip Halal

Dalam mengkonsumsi sesuatu, Islam mewajibakan umatnya untuk mengkonsumsi barang-barang yang halal.  Sementara itu melarang yang haram untuk di konsumsi.  Dan Allah hanya mengharamkan beberapa saja, bahkan mengizinkannya apabila keadaan memaksa, seperti difirmankan oleh Allah dalam Surat Al-Baqarah 173, yaitu :

 “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 173)

3.  Prinsip Bersih

 

Untuk menjaga kesehatan dan agar tidak merusak selera, makanan yang dikonsumsi haruslah baik, tidak kotor dan tidak menjijikkan.  Rasulullah bersabda (HR Tarmidzi) :

“Makanan diberkahi jika kita mencuci tangan sebelum dan setelah memakannya”

4.  Prinsip Moral

Terkait dengan pembahasan sebelumnya, seorang muslim dalam melakukan konsumsi harus meperhatikan aspek etika dan moral.  Prinsip berlebih-lebihan hanya akan menimbulkan kecemburuan sosial dan menunjukkan kesenjangan sosisial.  Islam mewajibkan adanya zakat yang dilandasi prinsip moral sehingga terjadi pendistribusian harta dari si kaya dan si miskin.

Selain itu, seorang muslim tidak diperbolehkan bersikap kikir serta dianjurkan untuk hidup sederhana dan banyak bersedekah.  Dan dalam konsumsi sebagai ungkapan terima kasih atas rezaeki yang diberikan Allah, kepada setiap muslim ketika melakukan konsumsi mengucapkan basmalah dan setelah selesai mengucapkan hamdallah.

5. Prinsip Murah Hati 

Dalam melakukan konsumsi manusia juga harus dilandasi dengan kemurahan hati, seperti halnya Allah yang dengan karunianya  telah menghalakan makanan-makanan untuk manusia (Qs al-Maidah: 96).

¨@Ïmé& öNä3s9 ߉ø‹|¹ ̍óst7ø9$# ¼çmãB$yèsÛur $Yè»tFtB öNä3©9 Íou‘$§‹¡¡=Ï9ur ( tPÌhãmur öNä3ø‹n=tæ ߉ø‹|¹ ÎhŽy9ø9$# $tB óOçFøBߊ $YBããm 3 (#qà)¨?$#ur ©!$# ü”Ï%©!$# ÏmøŠs9Î) šcrçŽ|³øtéB ÇÒÏÈ

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut[442] dan makanan (yang berasal) dari laut[443] sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.

[442]  Maksudnya: binatang buruan laut yang diperoleh dengan jalan usaha seperti mengail, memukat dan sebagainya. termasuk juga dalam pengertian laut disini ialah: sungai, danau, kolam dan sebagainya.

[443]  Maksudnya: ikan atau binatang laut yang diperoleh dengan mudah, Karena Telah mati terapung atau terdampar dipantai dan sebagainya.

Daripada mengkonsumsi sesuatu berlebih-lebihan, lebih baik menyisisihkan makanan yang ada kemudian kita berikan kepada mereka yang sangat membutuhkannya, karenam masih banyak orang yang kekurangan makanan dan minuman.

Menurut Adiwarman Azwar Karim, uang dalam Islam adalah public goods yang bersifat flow concept sedangkan kapital merupakan private goods yang bersifat stock concept. Sementara itu menurut konvensional uang dan kapital merupakan private goods [1].

Pada tingkatan praktis, perilaku ekonomi (economic behavior) sangat ditentukan oleh tingkat keyakinan atau keimanan seseorang atau sekelompok orang yang kemudian membentuk kecenderungan prilaku konsumsi di pasar. Dengan demikian dapat disimpulkan tiga karakteristik perilaku ekonomi dengan menggunakan tingkat keimanan sebagai asumsi yaitu:

  1. Ketika keimanan ada pada tingkat yang cukup baik, maka motif berkonsumsi atau berproduksi akan didominasi oleh tiga motif utama tadi; mashlahah, kebutuhan dan kewajiban.
  2. Ketika keimanan ada pada tingkat yang kurang baik, maka motifnya tidak didominasi hanya oleh tiga hal tadi tapi juga kemudian akan dipengaruhi secara signifikan oleh ego, rasionalisme (materialisme) dan keinginan-keinganan yang bersifat individualistis.
  3. Ketika keimanan ada pada tingkat yang buruk, maka motif berekonomi tentu saja akan didominasi oleh nilai-nilai individualistis (selfishness); ego, keinginan dan rasionalisme.
  1. b.      Rasionalitas dalam perilaku konsumsi

Ketika kebutuhan masyarakat masih bisa dipenuhi oleh sumber daya yang ada, maka tidak akan terjadi persoalan, bahkan juga tidak akan terjadi persaingan. Namun manakala kebutuhan seseorang atau masyarakat akan barang dan jasa sudah melebihi kemampuan penyediaan barang dan jasa tersebut, maka akan terjadilah apa yang disebut kelangkaan.

Fenomena itu akan mendorong manusia untuk memakmurkan bumi dan menciptakan kesejahteraan bagi kehidupan manusia. Kondisi kelangkaan barang juga dapat dijadikan momen untuk menguji keimanan dan kesabaran manusia. Allah berfirman dalam QS. Asy-Syuura ayat 27 : Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambanya tentulah mereka akan melampaui batas di bumi ini.”Itulah diantara hikmah kelangkaan barang tersebut.

Manusia harus memanfaatkannya seoptimal mungkin tanpa menimbulkan kerusakan dan ketidakadilan dimuka bumi. Implikasi dari prinsip diatas adalah ’ tidak ada kelangkaan absolut dimuka bumi ini’. Menurut Masudul Alam Choudhury dalam bukunya, Contributions to Islamic Economic Theory, manusia menduga adanya kelangkaan karena adanya keterbatasan pengetahuan tentang bagaimana cara memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya. Dengan demikian, dalam konsep Islam tentang ekonomi, barang- barang yang dapat diolah oleh manusia dapat digolongkan sebagai barang yang memiliki kelangkaan, dan termasuk ’barang ekonomi’. Sedangkan barang-barang yang masih diluar jangkauan kapasitas produktif manusia, bukanlah barang-barang yang langka, dengan demikian tergolong ’bukan barang ekonomi’.

Kelangkaan juga membuat seseorang bijak dalam menentukan alokasi sumber daya yang dimilikinya. Pilihan yang tidak jadi diambil disebut opportunity cost. Teori Perilaku konsumen (consumer behavior) mempelajari bagaimana manusia memilih diantara berbagai pilihan yang dihadapinya dengan memanfaatkan sumber daya (resources) yang dimilikinya.

Teori perilaku konsumen rasional dalam paradigma ekonomi konvensional didasari pada prinsip-prinsip dasar utilitarianisme. Diprakarsai oleh Bentham yang mengatakan bahwa secara umum tidak seorangpun dapat mengetahui apa yang baik untuk kepentingan dirinya kecuali orang itu sendiri. Dengan demikian pembatasan terhadap kebebasan individu, baik oleh individu lain maupun oleh penguasa, adalah kejahatan dan harus ada alasan kuat untuk melakukannya. Oleh pengikutnya, John Stuart Mill dalam buku On Liberty yang terbit pada 1859, paham ini dipertajam dengan mengungkapkan konsep ’freedom of action’ sebagai pernyataan dari kebebasan- kebebasan dasar manusia. Menurut Mill, campur tangan negara didalam masyarakat manapun harus diusahakan seminimum mungkin dan campur tangan yang merintangi kemajuan manusia merupakan campur tangan terhadap kebebasan-kebebasan dasar manusia, dan karena itu harus dihentikan.

Lebih jauh Mill berpendapat bahwa setiap orang didalam masyarakat harus bebas untuk mengejar kepentingannya dengan cara yang dipilihnya sendiri, namun kebebasan seseorang untuk bertindak itu dibatasi oleh kebebasan orang lain; artinya kebebasan untuk bertindak itu tidak boleh mendatangkan kerugian bagi orang lain.

Dasar filosofis tersebut melatarbelakangi analisis mengenai perilaku konsumen dalam teori ekonomi konvensional. Beberapa prinsip dasar dalam analisis perilaku konsumen adalah :

  1. Kelangkaan dan terbatasnya pendapatan.
  2. Konsumen mampu membandingkan biaya dengan manfaat.
  3. Tidak selamanya konsumen dapat memperkirakan manfaat dengan tepat. Saat mem     beli suatu barang, bisa jadi manfaat yang diperoleh tidak sesuai dengan harga yang      harus dibayarkan.
  4. Setiap barang dapat disubstitusi dengan barang lain. Dengan demikian konsumen dapat memperoleh kepuasan dengan berbagai cara.
  5. Konsumen tunduk kepada hukum Berkurangnya Tambahan Kepuasan (The Law of      Diminishing Marginal Utility). Semakin banyak jumlah barang dikonsumsi, semakin      kecil  tambahan kepuasan yang dihasilkan. Jika untuk setiap tambahan barang diperlukan biaya sebesar harga barang tersebut (P), maka konsumen akan berhenti membeli barang tersebut manakala tambahan manfaat yang diperolehnya (MU) sama besar  dengan tambahan biaya yang harus dikeluarkan. Maka jumlah konsumsi yang optimal  adalah jumlah dimana MU = P

Tujuan aktifitas konsumsi adalah memaksimalkan kepuasan (utility) dari mengkonsumsi sekumpulan barang/jasa yang disebut ’consumption bundle’ dengan memanfaatkan seluruh anggaran/ pendapatan yang dimiliki. Secara matematis hal itu ditunjukan dengan persoalan optimalisasi:

Max U = U1 + U2 + U3 + … + Un

Dengan kendala : I = P1X1 + P2X2 + P3X3 + …….. + PnXn

dimana :

U         =    total kepuasan

Un,      =    kepuasan dari mengkonsumsi barang n

Pn        =    harga barang n

Xn,      =    banyaknya barang n yang dikonsumsi

I           =    total pendapatan

Komposisi barang-barang yang dikonsumsi oleh konsumen akan stabil atau berada pada keseimbangan manakala tambahan kepuasan yang diperoleh dari setiap jenis barang per satuan harga adalah sama. Jika ada suatu barang yang memberi tambahan kepuasan lebih tinggi per satuan harganya, maka konsumen akan memperbanyak konsumsi barang tersebut dan otomatis mengurangi konsumsi barang lain. Dengan demikian belum tercapainya komposisi konsumsi yang stabil. Kestabilan atau keseimbangan konsumen tercapai manakala :

MUx = MUx = …… = MUi

——-    ——-             ——

Px          Py                  Pi

Asumsi sentral dalam teori ekonomi mikro neoklasik adalah manusia berperilaku secara rasional. Sistem kapitalisme tidak dapat hidup tanpanya. Dalam banyak hal, rasionalitas seringkali memaksa adanya penyederhanaan-penyederhanaan masalah, yang kemudian direkayasa menjadi suatu model.

Model adalah penyederhanaan masalah-masalah ekonomi dengan tujuan agar kita dapat memahami, melakukan prediksi, merancang kebijakan. Begitu banyak asumsi yang tidak realistis didalam sebuah model, sehingga sebuah tingkat kesalahan tertentu merupakan suatu yang tidak terelakkan. Adanya rasa maklum atas kesalahan yang berada diluar jangkauan rasionalitas menunjukkan bahwa masyarakat ilmiah modern menyakini keterbatasan rasionalitas.

Hal itulah yang dikenal dengan ”beyond rationality”. Beyond rationality tidak sama dan tidak identik dengan irrationality.

Mengeluarkan sedekah dari penghasilan kita tanpa ada transaksi penyeimbang yang tampak di depan mata boleh jadi dianggap irasional bagi mereka yang tidak memahami esensi dan manfaat bersedekah. Seseorang yang bersedekah dengan rasional mengharapkan balasan langsung berupa timbulnya pujian, meningkatkan pamor serta reputasinya dan minimal ucapan terima kasih. Balasan-balasan tersebut menimbulkan kepuasan (utility) dalam consumption basket-nya dan untuk itu ia bersedia mengeluarkan tingkat sedekah tertentu plus perangkat- perangkat promosinya jika diperlukan.

Sedangkan mereka yang bersedekah dengan pendekatan beyond rationality, dengan keyakinan adanya balasan pahala di akhirat dan kebaikan didunia  seperti berulang-ulang dijanjikan dalam Al-Qur’an, mereka percaya kepada suatu kebenaran yang tidak perlu langsung nyata didepan mata akan tetapi tingkat kenyakinan dan kebenarannya justru melebihi keyakinan dan kebenaran kalau melihat dengan mata kepala sendiri.

Berdasarkan paparan diatas, maka perilaku konsumsi Islam berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan Hadis perlu didasarkan atas rasionalitas yang disempurnakan yang mengintegrasikan keyakinan kepada kebenaran yang ‘melampaui’ rasionalitas manusia yang sangat terbatas ini.

Dengan demikian, hipotesis utama dalam mempelajari perilaku konsumsi, produksi dan mekanisme pasar dalam Ekonomi Islam adalah bahwa bekerjanya ‘invisible hand’ yang didasari oleh asumsi rasionalitas yang bebas nilai – tidak memadai untuk mencapai tujuan ekonomi Islam yakni terpenuhinya kebutuhan dasar setiap orang dalam suatu masyarakat.

Perilaku konsumen Islami, dengan demikian, terbentuk dari paradigma berpikir yang sama sekali berbeda dengan paradigma hukum permintaan yang kita kenal dalam ekonomi konvensional. Rasionalitas yang sangat diagungkan dalam teori mekanisme pasar dan alokasi sumber daya telah menjauhkan analisis ekonomi modern dari siraman nilai-nilai kemanusiaan dan semangat egaliter yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pola konsumsi pada masa kini lebih menekankan aspek pemenuhan keinginan material daripada aspek kebutuhan yang lain.

Islam memberikan konsep adanya an-nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang). Jiwa yang tenang ini tentu saja tidak berarti jiwa yang mengabaikan tuntutan aspek material dari kehidupan. Disinilah perlu diinjeksikan sikap hidup peduli kepada nasib orang lain yang dalam bahasa Al-Qur’an dikatakan “al-iitsar’.

  1. c.       Fungsi Utilitas dan Maslahah dalam Islam

Syariah Islam menginginkan manusia mencapai dan memelihara kesejahteraannya. Imam Shatibi menggunakan istilah ’maslahah’, yang maknanya lebih luas dari sekedar utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional. Maslahah merupakan tujuan hukum syara’ yang paling utama.

Menurut Imam Shatibi, maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia dimuka bumi ini (Khan dan Ghifari, 1992).  Ada lima elemen dasar menurut beliau, yakni: kehidupan atau jiwa (al-nafs), properti atau harta benda (al-mal), keyakinan (al-din), intelektual (al-aql), dan keluarga atau keturunan (al-nasl). Semua barang dan jasa yang mendukung tercapainya dan terpeliharanya kelima elemen tersebut diatas pada setiap individu, itulah yang disebut maslahah. Kegiatan-kegiatan ekonomi meliputi produksi, konsumsi, dan pertukaran yang menyangkut maslahah tersebut harus dikerjakan sebagai suatu ’religious duty’ atau ibadah. Tujuannya bukan hanya kepuasan di dunia tapi juga kesejahteraan di akhirat. Semua aktivitas tersebut, yang memiliki maslahah bagi umat manusia, disebut ’needs’ atau kebutuhan. Dan semua kebutuhan ini harus dipenuhi.

Mencukupi kebutuhan – dan bukan memenuhi kepuasan/keinginan – adalah tujuan dari aktivitas ekonomi Islam, dan usaha pencapaian tujuan itu adalah salah satu kewajiban dalam beragama.  Adapun sifat- sifat maslahah sebagai berikut :

  1. Maslahah bersifat subjektif dalam arti bahwa setiap individu menjadi hakim bagi     masing-masing dalam menentukan apakah suatu maslahah atau bukan bagi dirinya. Namun, berbeda dengan konsep utility, kriteria maslahah telah ditetapkan oleh syariah dan sifatnya mengikat bagi semua individu.
  2. Maslahah orang per orang akan konsisten dengan maslahah orang banyak. Konsep ini sangat berbeda dengan konsep Pareto Optimum, yaitu keadaan optimal dimana seseorang tidak dapat meningkatkan tingkat kepuasan atau kesejahteraannya tanpa menyebabkan penurunan kepuasan atau kesejahteraan orang lain.
  3. Konsep maslahah mendasari semua aktivitas ekonomi dalam masyarakat, baik itu produksi, konsumsi, maupun dalam pertukaran dan distribusi.

Berdasarkan kelima elemen di atas, maslahah dapat dibagi dua jenis : pertama, maslahah terhadap elemen-elemen yang menyangkut kehidupan dunia dan akhirat, dan kedua: maslahah terhadap elemen–elemen yang menyangkut hanya kehidupan akhirat.  Dengan demikian seorang individu Islam akan memiliki dua jenis pilihan :

  1. Berapa bagian pendapatanya yang akan dialokasikan untuk maslahah jenis pertama dan berapa untuk maslahah jenis kedua.
  2. Bagaimana memilih didalam maslahah jenis pertama : berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan dunia (dalam rangka mencapai ’kepuasan’ di akhirat ) dan berapa bagian untuk kebutuhan akhirat.

Pada tingkat pendapatan tertentu, konsumen Islam, karena memiliki alokasi untuk hal-hal yang menyangkut akhirat, akan mengonsumsi barang lebih sedikit daripada nonmuslim. Hal yang membatasinya adalah konsep maslahah tersebut diatas. Tidak semua barang/jasa yang memberikan kepuasan/utility mengandung maslahah didalamnya, sehingga tidak semua barang/jasa dapat dan layak dikonsumsi oleh umat Islam. Dalam membandingkan konsep ’kepuasan’dengan ’pemenuhan kebutuhan’ (yang terkandung didalamnya maslahah), kita perlu membandingkan tingkatan-tingkatan tujuan hukum syara’yakni antara daruriyyah, tahsiniyyah, dan hajiyyah. Penjelasan dari masing- masing tingkatan itu sebagai berikut :

  1. Daruriyyah : merupakan tujuan yang harus ada dan mendasar bagi penciptaan kesejahteraan didunia dan akhirat, yaitu mencakup terpeliharanya lima elemen dasar kehidupan yakni jiwa, keyakinan atau agama, akal/intelektual, keturunan dan keluarga serta harta benda. Jika tujuan daruriyyah diabaikan, maka tidak akan ada kedamaian, yang timbul adalah kerusakan (fasad) didunia dan kerugian yang nya di akhirat.
  1. Hajiyyah :  bertujuan memudahkan kehidupan dan menghilangkan kesempitan. Hukum syara’ dalam kategori ini tidak dimaksudkan untuk memelihara lima hal pokok tadi melainkan menghilangkan kesempitan dan berhati- hati terhadap lima hal pokok tersebut.
  1. Tahsiniyyah :  menghendaki kehidupan yang indah dan nyaman didalamnya, terdapat beberapa provisi dalam syariah yang dimaksudkan untuk mencapai pemanfaatan yang lebih baik, keindahan dan simplifikasi dari daruriyyah dan hajiyyah. Misalnya dibolehkannya memakai baju yang nyaman dan indah.

Islam memberikan arahan yang sangat indah dengan memperkenalkan konsep israf (berlebih-lebih) dalam membelanjakan harta dan tabzir. Islam memperingatkan agen ekonomi agar jangan sampai terlena dalam berlomba-lomba mencari harta (at-takaatsur). Islam membentuk jiwa dan pribadi yang beriman, bertakwa, bersyukur, dan menerima.

Pola hidup konsumtivisme seperti diatas tidak pantas dan tidak selayaknya dilakukan oleh pribadi yang beriman dan bertakwa.  Satu-satunya gaya hidup yang cocok adalah simple living (hidup sederhana) dalam pengertian yang benar secara syar’i.  Setidaknya terdapat tiga kebutuhan pokok :

  • Pertama, kebutuhan primer yakni nafkah-nafkah pokok bagi manusia yang dapat mewujudkan lima tujuan syariat (yakni memelihara jiwa, akal, agama, keturunan, dan kehormatan). Tanpa kebutuhan primer kehidupan manusia tidak akan berlangsung. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan makan, minum, tempat tinggal, kesehatan, rasa aman, pengetahuan, dan pernikahan.
  • Kedua, kebutuhan sekunder yakni kebutuhan manusia untuk memudahkan kehidupan, agar terhindar dari kesulitan. Kebutuhan ini tidak perlu dipenuhi sebelum kebutuhan primer terpenuhi. Kebutuhan ini pun masih berkaitan dengan lima tujuan syariat itu tadi.
  • Ketiga, kebutuhan pelengkap, yaitu kebutuhan yang dapat menciptakan kebaikan dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia. Pemenuhan kebutuhan ini tergantung pada bagaimana pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder serta berkaitan dengan lima tujuan syariat.

Islam mengharamkan segala pembelanjaan yang tidak mendatangkan manfaat, baik manfaat materiil maupun spiritual. Islam mengajarkan kepada kita sikap pertengahan dalam mengeluarkan harta, tidak berlebihan dan tidak pula kikir. Sikap berlebihan akan merusak jiwa, harta, dan masyarakat. Sementara kikir adalah satu sikap hidup yang dapat menahan dan membekukan harta. Dalam QS.al-Furqaan ayat 67 Allah berfirman : Dan orang- orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebih- lebihan, dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah- tengah antara yang demikian. Atau dalam QS.al-Israa ayat 29 :

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkan karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal”

 

Adanya kelangkaan satu barang tidak hanya menghadirkan ujian keimanan dan kesabaran seorang manusia. Kelangkaan barang juga akan menuntut seorang hamba untuk kreatif dalam menghasilkan barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mencari jalan keluar bagi kesulitan yang dihadapinya.

Kelangkaan akan barang dan jasa timbul bila kebutuhan (keinginan) seseorang atau masyarakat ternyata lebih besar daripada tersedianya barang dan jasa tersebut.

Menurut Imam Al-Ghazali kebutuhan (hajat) adalah keinginan manusia untuk mendapatkan sesuatu yang diperlukan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menjalankan fungsinya. Kita melihat misalnya dalam hal kebutuhan akan makanan dan pakaian. Kebutuhan makanan adalah untuk menolak kelaparan dan melangsungkan kehidupan, kebutuhan pakaian untuk menolak panas dan dingin. Pada tahap ini mingkin tidak bisa dibedakan antara keinginan (syahwat) dan kebutuhan (hajat) dan terjadi persamaan umum antara homo economicus dan homo Islamicus. Namun manusia harus mengetahui bahwa tujuan utama diciptakannya nafsu ingin makan adalah untuk menggerakkannya mencari makanan dalam rangka menutup kelaparan, sehingga fisik manusia tetap sehat dan mampu menjalankan fungsinya secara optimal sebagai hamba Allah yang beribadah kepada-Nya. Disinilah letak perbedaan mendasar antara filosofi yang melandasi teori permintaan Islami dan konvensional.

Lebih jauh Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya niat dalam melakukan konsumsi sehingga tidak kosong dari makna dan steril. Konsumsi dilakukan dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Disini tampak pula pandangan integral beliau tentang falsafah hidup seorang Muslim.

Pembahasan tentang tingkatan-tingkatan pemenuhan kebutuhan manusia (hajat) telah menarik perhatian para ulama disepanjang zaman. Norma dan batasan ini pada gilirannya akan membentuk gaya hidup (life style) dan pola perilaku konsumsi (patterns of consumption behaviour) tertentu yang secara lahiriah akan membedakannya dari gaya hidup yang tidak diilhami oleh roh ajaran Islami.

Dalam bukunya yang berjudul Ihya Ulumiddin Imam al-Ghazali membagi tiga tingkatan konsumsi yaitu, sadd ar-Ramq dan ini disebut juga had ad-dhoruroh, had al-hajah, dan yang tertinggi adalah had at-tana’um. Had ar-ramq atau batasan darurat adalah tingkatan konsumsi yang paling rendah dan bila manusia berada dalam kondisi ini, ia hanya mampu bertahan hidup dengan penuh kelemahan dan kesusahan. Imam Al-Ghazali sendiri menolak gaya hidup seperti ini karena individu tidak akan mampu melaksanakan kewajiban agama dengan baik dan akan meruntuhkan sendi-sendi keduniaan yang pada gilirannya juga akan meruntuhkan agama karena dunia adalah ladang akhirat (ad-Dunya Mazro’ah al-akhirah).

Tingkatan tana’um digambarkan bahwa individu pada tahapan ini melakukan konsumsi tidak hanya didorong oleh usaha memehuni kebutuhannya. Tetapi juga bertujuan untuk bersenang-senang. Menurut Imam Al-Ghazali gaya hidup bersenang- senang ini tidak cocok bagi seorang mukmin yang tujuan hidupnya untuk mencapai derajat tertinggi dalam ibadah dan ketaatan. Kendatipun begitu, gaya hidup demikian tidak seluruhnya haram. Sebagian dihalalkan, yaitu ketika individu menikmatinya dalam kerangka menghadapi nasib di akhirat, walaupun untuk itu, ia akan tetap diminta pertanggungjawabannya kelak. Barangkali keadaan ini dapat lebih ditegaskan bahwa meninggalkan had tana’um tidak diwajibkan secara keseluruhan begitu juga menikmatinya tidak dilarang semuanya.

Antara had ad-dhorurah dengan tana’um terdapat area yang sangat luas disebut had al-hajah dimana keseluruhannya halal dan mubah. Menurut Al-Ghazali area ini memiliki dua ujung batasan yang berbeda yaitu ujung yang berdekatan dengan perbatasan dharurah dan ini di nilainya tidak mungkin dipertahankan karena akan menimbulkan kelemahan dan kesengsaraan dan ujung yang lain berbatasan dengan tana’um dimana individu yang berada disini dianjurkan untuk ekstra waspada. Hal ini disebabkan karena ujung perbatasan ini dapat menjerumuskannya kedalam hal- hal yang membuatnya terlena secara tidak sadar dan akhirnya melalaikan tugasnya dalam beribadah kepada Allah. Beliau menasehati kita agar sedapat mungkin menetap di had al-hajah dengan sedekat mungkin mendekati had ad-dharurah dalam rangka meneladani para Nabi dan Wali. Belakangan Imam Suyuthi (w.911H) dalam al-Asybah wan Nazhoir menulis lima tingkatan yaitu, dharurah, hajah, manfa’ah,ziinah dan fudhul.

PUSTAKA

  1. Mustafa Edwin Nasution, Jangan Pinggirkan Studi Ekonomi Syariah, Republika online,  Senin, 07 Nopember 2005.
  2. Adiwarman Azwar Karim, Ekonomi Islam: Suatu Kajian Ekonomi Makro, The International Institute of Islamic Thought Indonesia (IIIT Indonesia), 2002, hlm. 19 – 22.
  3. Qardhawi, Yusuf, Dr., Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, Rabbani Press, Jakarta, 1995
  4. Makalah-makalah Ayat dan Hadis Ekonomi Islam.


FILOSOFI DASAR EKONOMI ISLAM

BAB I

FILOSOFI DASAR EKONOMI ISLAM

  1. Pendahuluan

Sistem ekonomi dunia yang saat ini bersifat sekuler -dimana terjadi dikotomi antara agama dengan kehidupan duniawi termasuk di dalamnya aktivitas ekonomi- telah mulai terkikis. Terjadinya dikotomi ini terjadi pada masa kegelapan (dark ages) yang terjadi di Eropa, dimana pada masa tersebut kekuasaan gereja Katolik sangat dominan. Sehingga hal ini menimbulkan pergerakan yang berupaya untuk mengikis kekuasaan gereja yang terlalu besar pada masa itu. Pergerakan inilah yang pada akhirnya memunculkan suatu aliran pemikiran bahwa harus terjadi suatu pembedaan atau pembatasan antara aktivitas agama dengan aktivitas dunia, sebab munculnya pemikiran keilmuan seringkali dianggap bertentangan dengan doktrin gereja pada masa itu.

Hal tersebut tidak berlaku dalam Islam, sebab Islam tidak mengenal pembedaan antara ilmu agama dengan ilmu duniawi. Hal ini terbukti bahwa pada masa kegelapan (dark ages) yang terjadi di Eropa, justru terjadi masa keemasan dan kejayaan Islam. Dimana terjadi pembaharuan dan perkembangan pemikiran oleh para ilmuwan muslim, bahkan menjadi dasar landasan pengembangan keilmuan sampai saat ini, seperti ilmu aljabar.

Namun hal ini tidak pernah diketahui oleh dunia terutama oleh para generasi muda muslim, sehingga generasi muda muslim saat ini melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Barat pada waktu dark ages –yaitu melakukan dikotomi antara aktivitas spiritual dan aktivitas duniawi- yang justru membuat Islam semakin redup cahayanya. Karena Negara Barat semakin maju ketika jauh dari ajaran agamanya, sementara umat Islam akan semakin tertinggal ketika meninggalkan agamanya.

Ilmu ekonomi adalah suatu disiplin ilmu yang menerangkan tentang proses pengambilan keputusan dalam mengalokasikan kelangkaan sumber daya dalam pemenuhan kegiatan produksi dan aktivitas konsumsi dalam rangka menciptakan suatu kesejahteraan dalam kehidupan manusia. Ilmu ekonomi dibagi dalam dua cabang utama, yaitu mikroekonomi dan makroekonomi. Mikroekonomi menangani perilaku satuan-satuan ekonomi individual termasuk di dalamnya dalam pengambilan keputusan dalam rangka untuk mengatasi permasalahan alokasi akibat kelangkaan sumber daya. Satuan-satuan ini mencakup konsumen, pekerja atau buruh, para penanam modal, pemilik tanah, perusahaan bisnis –intinya setiap individu atau entitas memainkan peranan dalam berfungsinya suatu perekonomian. Mikroekonomi menjelaskan cara dan alasan-alasan satuan ini membuat keputusan-keputusan ekonomis. Bidang lain yang penting dari mikroekonomi adalah bagaimana satuan-satuan ekonomi berinteraksi untuk membentuk satuan-satuan yang lebih besar –pasar dan industri[1].

Sementara makroekonomi, cabang utama lain dari ekonomi menangani kepada isu-isu yang bersifat makro atau lebih luas lagi[2], termasuk di dalamnya mengenai jumlah agregat ekonomi, seperti tingkat dan laju pertumbuhan produksi nasional, suku bunga, pengangguran dan inflasi. Tetapi pembatasan antara makroekonomi dan mikroekonomi sudah semakin pudar belakangan ini. Analisis mikroekonomi selalu dimulai dengan pemahaman mengenai kelembagaan dalam ekonomi, termasuk di dalamnya hukum, yang mampu menjelaskan prilaku produsen dalam mengalokasikan sumber dayanya. Para produsen itu pada akhirnya akan mampu mempengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan, namun para konsumen tersebut memiliki batasan dalam melakukan pilihannya.

Dengan mempelajari mengenai aspek kelembagaan dalam ekonomi, kita akan belajar mengenai keterbatasan yang dihadapi oleh individu dalam mengambil keputusan yang akan mampu mempengaruhi mereka dalam mengalokasikan sumber dayanya. Untuk memahami apa pilihan mereka, kita harus mampu mengerti apa yang menjadi motif mereka dalam mengambil keputusan ekonominya. Mikroekonomi selalu mengasumsikan bahwasanya motivasi manusia dalam melakukan aktivitas ekonominya oleh kepentingan pribadi yang bersifat materi –yaitu nafsu dalam memiliki suatu produk baik barang maupun jasa-, sehingga asumsi awal dalam mikroekonomi konvensional adalah kepentingan pribadi yang bersifat materi inilah yang menjadi motif utama manusia dalam melakukan aktivitas ekonominya. Meskipun ilmu mikroekonomi mamou mengakomodasi kepentingan lainnya termasuk kemungkinan kepedulian kita dengan kesejahteraan sesama.

Dalam konteks skenario ekonomi masa kini di satu sisi ditandai oleh adanya kompetisi, efisiensi, pragmatisme dan transparansi, di pihak lain model saling ketergantungan (cooperation) antar manusia atau lembaga semakin kompleks dan bervariasi. Dalam kondisi ini, ada persoalan besar dan sangat mendasar yaitu paradigma ilmu ekonomi yang ada ternyata tidak mampu memecahkan problem ekonomi yang dihadapi manusia. Teori-teori ekonomi yang ada terbukti tidak mampu mewujudkan ekonomi global yang berkeadilan dan berkeadaban. Malah yang terjadi adalah dikotomi antara kepentingan individu, masyarakat, negara serta hubungan antarnegara.  Selain itu, teori ekonomi yang ada saat ini tidak mampu menyelesaikan kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Juga tidak mampu menyelaraskan hubungan antar regional di suatu negara, antara negara-negara di dunia terutama antara negara-negara maju dengan negara berkembang dan terbelakang. Lebih parahnya lagi adalah terabaikannya pelestarian sumber daya alam (non renewable resources).  Untuk itu, tidak heran jika belakangan banyak muncul kritik dari pakar ekonomi itu sendiri.

Ilmu ekonomi adalah suatu ilmu sosial yang menaruh perhatian berkaitan dengan prilaku manusia dan sebagai suatu ilmu maka ketika mempelajari tentang prilaku manusia para ekonom menggunakan langkah-langkah ilmiah, yaitu:

  1. Observasi awal

Suatu metode ilmiah selalu mengawali dengan observasi atas suatu fenomena yang terjadi, sehingga mampu melahirkan suatu pertanyaan dalam observasi tersebut yang menarik untuk dibahas terutama berkaitan dalam penjelasan mengenai aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh individu.

  1. Merumuskan teori

Setelah melakukan observasi awal tersebut, maka seorang ilmuwan akan mampu menjelaskan secara logis atas fenomena yang diamati dan ini dinamakan dengan teori.

  1. Identifikasi implikasi dan dampak

Namun tidaklah cukup suatu teori hanya mampu menjelaskan kejadian yang diamati, namun seorang ilmuwan harus mampu mengidentifikasi implikasi dan dampak yang dapat ditimbulkan dari teori tersebut.

  1. Observasi lanjutan dan pengujian

Untuk membuktikan apakah suatu teori atau valid adalah dengan melakukan observasi lanjutan dan pengujian. Hal ini untuk membuktikan bahwa teori yang telah disusun dapat diberlakukan secara umum.

  1. Merumuskan kembali teori

Setelah pengujian maka ilmuwan akan mampu merumuskan dan menyempurnakan teori atas fenomena yang dijelaskan, sehingga dapat diaplikasikan dalam menjelaskan aktivitas yang diamati.

Seorang ekonom akan memformulasikan teorinya dalam sebuah model, yaitu penjelasan sederhana mengenai suatu fenomena. Seorang ekonom akan banyak bekerja dengan model atau persamaan matematis. Hal ini dikarenakan sebagian besar keputusan ekonomi adalah bersifat kuantitatif. Model matematis akan mampu memberikan keakuratan dalam menganalisis aktivitas atau fenomena ekonomi yang tengah terjadi.

Hal mendasar dalam memformulasikan suatu teori adalah penyederhanaan asumsi. Para ekonom dalam merumuskan teorinya selalu mendasarkan pada suatu asumsi, sehingga suatu asumsi dapat beralasan dalam menjelaskan suatu fenomena namun pada saat yang lain tidak mampu menjelaskan. Namun penyederhanaan asumsi diperlukan dalam membentuk suatu teori dasar atas fenomena yang diamati.

  1. Definisi Ekonomi Islam

Wacana mengenai penerapan ekonomi Islam dalam aktivitas ekonomi sehari-hari telah dimulai di Indonesia pada decade 1970-an, namun tonggak utama perkembangan ekonomi Islam adalah dengan berdirinya salah satu bank syariah pada tahun 1992. Perkembangan ekonomi Islam adalah wujud dari upaya menerjemahkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, dimana Islam memiliki nilai-nilai universal yang mampu masuk ke dalam setiap sendi kehidupan manusia tidak hanya aspek spiritual semata namun turut pula masuk dalam aspek duniawi termasuk di dalamnya dalam aktivitas ekonomi masyarakat.

Ekonomi Islam yang tengah berkembang saat ini baik tataran teori maupun praktik merupakan wujud nyata dari upaya operasionalisasi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, dengan melalui proses panjang dan akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan jaman. Perkembangan teori ekonomi Islam telah dimulai pada masa Rasulullah dengan turunnya ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan ekonomi seperti QS Al-Baqarah ayat 275 dan 279 tentang jual beli dan riba; QS Al-Baqarah ayat 282 tentang pencatatan transaksi muamalah; QS Al-Maidah ayat 1 tentang akad; QS Al-A’raf ayat 31, An-Nisaa’ ayat 5 dan 10 tentang pengaturan pencarian, penitipan dan pembelanjaan harta; serta masih banyak ayat lainnya yang menjelaskan tentang berbagai aktivitas ekonomi masyarakat. Ayat-ayat di atas ini memperlihatkan bahwa Islam pun telah menetapkan pokok aturan mengenai ekonomi meskipun pada masih bersifat umum dan praktik implementasi di lapangan akan saling berbeda antar generasi dan jaman.

Para pemikir muslim yang mendalami ekonomi Islam juga hingga kini belum ada kesatuan pandangan dalam mengkonstruksi teori ekonomi Islam. Terdapat perbedaan penafsiran, pendekatan, dan metodologi yang dibangun dalam membentuk konsep ekonomi Islam. Hal ini karena adanya perbedaan latar belakang pendidikan, keahlian, dan pengalaman yang dimiliki.[3]  Merujuk  pendapat Aslem Haneef,  seorang pemikir ekonomi Islam Malaysia para pemikir muslim di bidang ekonomi  dikelompokkan dalam tiga kategori : pertama, pakar bidang fiqih atau hukum Islam sehingga pendekatan yang dilakukan adalah legalistik dan normatif; kedua, kelompok modernis yang lebih berani dalam memberikan interpretasi terhadap ajaran Islam agar dapat menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat kini; ketiga para praktisi atau ekonom muslim yang berlatar belakang pendidikan Barat. Mereka mencoba menggabungkan pendekatan fiqih dan ekonomi sehingga ekonomi Islam terkonseptualisasi secara integrated dengan kata lain mereka berusaha mengkonstruksi ekonomi Islam seperti ekonomi konvensional tetapi dengan mereduksi nilai-nilai yang tidak sejalan dengan Islam dan memberikan nilai Islam pada analisis ekonominya.

Perkembangan pemikiran ekonomi Islam dari sejak masa nabi sampai sekarang dapat dibagi menjadi 6 tahapan[4]. Tahap pertama (632-656 M), yaitu pada masa Rasulullah SAW. Tahap kedua (656-661 M), yaitu pemikiran ekonomi Islam pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin. Tahap ketiga (738-1037 M), yaitu para pemikir Islam di periode awal seperti Zayd bin Ali, Abu Hanifa, Abu Yusuf, Abu Ubayd, Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan pemikir ekonomi Islam lainnya pada periode awal.

Tahap keempat atau periode kedua (1058-1448 M). Pemikir ekonomi Islam periode ini Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun, Ibnu Mas’ud, Jalaluddin Rumi, Ibnu Rusyd dan pemikir ekonomi Islam lainnya yang hidup pada masa ini. Tahap kelima atau periode ketiga (1446-1931 M), yaitu Shah Waliyullah Al-Delhi, Muhammad bin Abdul Wahab, Jamaluddin Al-Afghani, Mufti Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, Ibnu Nujaym, Ibnu Abidin, Syekh Ahmad Sirhindi. Tahap keenam atau periode lanjut (1931 M – sekarang), yaitu Muhammad Abdul Mannan, M. Nejatullah Siddiqi, Yusuf Qardhawi, Syed Nawab Haider Naqvi, Monzer Khaf, Muhammad Baqir As-Sadq, Umer Chapra dan tokoh ekonomi Islam pada masa sekarang.

Dawam Rahardjo[5], memilah istilah ekonomi Islam ke dalam tiga kemungkinan pemaknaan, pertama yang dimaksud ekonomi Islam adalah ilmu ekonomi  yang berdasarkan nilai atau ajaran Islam. Kedua, yang dimaksud ekonomi Islam adalah sistem. Sistem menyangkut pengaturan yaitu pengaturan kegiatan ekonomi dalam suatu masyarakat atau negara berdasarkan suatu cara atau metode tertentu. Sedangkan pilihan ketiga adalah ekonomi Islam dalam pengertian perekonomian umat Islam.

Beberapa definisi dan pengertian Ekonomi Islam  telah dikemukakan oleh para pakar yang mengembangkan keilmuan ini. Dapat disebutkan di sini antara lain, Monzer Kahf dalam bukunya The Islamic Economy menjelaskan bahwa ekonomi adalah subset dari agama. Kata Ekonomi Islam sendiri difahami sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari paradigma Islam yang sumbernya merujuk pada al Quran dan Sunnah.[6] Menurut Kahf pula,[7] ekonomi Islam adalah bagian dari ilmu ekonomi yang bersifat interdisipliner dalam arti kajian ekonomi Islam tidak dapat berdiri sendiri tetapi perlu penguasaan yang baik dan mendalam terhadap ilmu-ilmu syariah dan ilmu pendukungnya juga terhadap ilmu-ilmu yang berfungsi sebagai tool of analysis seperti matematika, statistik, logika, ushul fiqh.

Definisi ekonomi Islam juga dikemukakan oleh para pakar ekonomi Islam kontemporer lainnya seperti: 1) Umar Chapra[8], Ilmu ekonomi Islam adalah suatu cabang pengetahuan yang membantu merealisasikan kesejahteraan manusia melalui suatu alokasi dan distribusi sumberdaya alam yang langka yang sesuai dengan Maqashid, tanpa mengekang kebebasan individu untuk menciptakan keseimbangan makroekonomi dan ekologi yang berkesinambungan, membentuk solidaritas keluarga, sosial dan jaringan moral masyarakat; 2)  S.M. Hasanuzzaman[9]: “Ilmu ekonomi Islam adalah pengetahuan dan aplikasi dari ajaran dan aturan syari’ah yang mencegah ketidakadilan dalam memperoleh sumber-sumber daya material sehingga tercipta kepuasan manusia dan memungkinkan mereka menjalankan perintah Allah dan masyarakat.; 3) M. Nejatullah Siddiqi[10] mendefisinisikan: “Ilmu ekonomi Islam adalah jawaban dari pemikir muslim terhadap tantangan-tantangan ekonomi pada zamannya, dengan panduan Qur’an dan Sunnah, akal dan pengalaman.”; 4) Syed Nawab Haider Naqvi[11]: “ Ilmu ekonomi Islam adalah perwakilan perilaku kaum muslimin dala suatu masyarakat muslim tipikal”. Tidak jauh berbeda dengan pemikir lainnya, Muhammad Abdul Manan (1992)[12] berpendapat bahwa  ilmu ekonomi Islam dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi masyarakat yang diilhami nilai-nilai Islam. Ia mengatakan bahwa ekonomi Islam merupakan bagian dari suatu tata kehidupan lengkap, berdasarkan empat bagian nyata dari pengetahuan, yaitu: al-Quran, as-Sunnah, Ijma dan Qiyas.

Dalam kaitan ini, M.M. Metwally (1995)[13] mendefinisikan Ekonomi Islam sebagai, ilmu yang mempelajari perilaku muslim dalam suatu masyarakat Islam  yang  mengikuti Al-Quran, As-Sunnah, Qiyas dan Ijma. M.M. Metwally (1995)[14] memberikan alasan bahwa dalam ajaran Islam, perilaku individu dan masyarakat dikendalikan kearah bagaimana memenuhi kebutuhan dan  menggunakan sumber daya yang ada. Dalam Islam disebutkan bahwa sumber daya yang tersedia adalah berkecukupan, dan oleh karena itu, dengan kecakapannya, manusia dituntut untuk memakmurkan dunia yang sekaligus sebagai ibadah kepada Tuhannya. Ekonomi dengan demikian, merupakan ilmu dan sistem, yang bertugas untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia dan berkecukupan itu dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dalam konteks kemaslahatan bersama.

Ilmu Ekonomi Islam memiliki akar teologi, tetapi ia bukanlah kajian yang mendalam tentang teologi dan memang bukan bagian dari teologi. Ilmu ekonomi Islam memiliki hubungan yang erat dengan fiqh dan perundang-undangan Islam (syari’ah dan tasyri’) terutama subyek yang berkaitan dengan hubungan antara manusia (muamalah). Akan tetapi, ia bukanlah ilmu fiqh. Ilmu ekonomi Islam adalah ilmu ekonomi dan keprihatinan utamanya adalah problema-problema ekonomi dan institusinya. Dalam perspektif ini ia seharusnya dipandang sebagai suatu disiplin akademik. Secara umum ekonomi Islam didefinisikan sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan yang berupaya memandang, meneliti, dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi dengan cara-cara Islami berdasarkan al Quran dan Sunnah. Ilmu ekonomi Islam tidak mendikotomikan antara aspek normatif dan positif.[15] Dalam pandangan positivisme ekonomi hanya mempelajari perilaku ekonomi yang terjadi dan memisahkan dari aspek norma dan etika. Memasukan aspek etika dipandang sebagai sesuatu yang normatif.

Ekonomi Islam mempelajari apa yang terjadi pada individu dan masyarakat yang perilaku ekonominya diilhami oleh nilai-nilai Islam. Berikut argumentasi yang dikembangkan oleh para pemikir ekonomi Islam terkait hal tersebut[16]: Pertama, ilmu ekonomi Islam syarat dengan nilai-nilai. Ilmu ekonomi Islam jelas akan melakukan fungsi penjelasan (eksplanatori) terhadap suatu fakta secara obyektif. Ia juga melakukan fungsi prediktif seperti yang dilakukan oleh ilmu ekonomi konvensional. Dalam menjalankan kedua fungsi ini, ia menjalankan fungsi utama sains secara positif atau menjelaskan “apa” (what is). Namun kiprahnya tidak hanya terbatas pada aspek positif berupa penjelasan dan prediksi saja. Pada tahapan tertentu ia juga harus melakukan fungsi normatif, menjatuhkan penilaian (value judgement) dan menjelaskan apa yang seharusnya (what should be). Ini berarti bahwa ilmu ekonomi Islam bukanlah value-neutral. Ia memiliki seperangkat nilainya tersendiri, kerangka kerja nilai-nilai dimana dia beroperasi. Karena itulah maka reformasi ekonomi Islam tidak dapat dilakukan secara isolasi atau parsial, ia hanya dapat dilakukan dalam konteks Islamisasi masyarakat secara total.

Kedua, dalam kerangka ini, hubungan-hubungan teknis akan dipelajari dan dikembangkan dengan tetap mempertimbangkan mashlahat dan tetap dalam konteks suatu kerangka nilai.[17] Dengan demikian ilmu ekonomi Islam tidak hanya berbicara tentang bagaimana perilaku manusia ekonomi itu (economic man) dalam lapangan ekonomi, tetapi juga bagaimana  suatu disiplin normatif dapat diimplementasikan dan diinjeksikan ke dalam diri manusia sehingga sasaran yang hendak diinginkan Islam dapat diwujudkan. Ketiga, karena citranya yang demikian itulah maka dalam kerangka kerja ini terdapat peran kebijakan dari sektor pemerintah terhadap perilaku manusia agar tetap berada pada arah realisasi dan pemenuhan akan nilai-nilai tersebut. Hal ini menjadikan lingkup kajian ilmu ekonomi Islam lebih luas dan komprehensif. Lebih komprehensif karena ia bukan hanya  berbicara tentang motif tetapi juga perilaku, lembaga dan kebijakan. Ia mempelajari perilaku manusia seperti apa adanya, namun ia juga memiliki suatu visi tertentu di masa yang akan datang dimana perilaku manusia harus diarahkan kepadanya. Pendekatan demikian merupakan ciri menonjol dari ilmu ekonomi Islam.

Dengan demikian upaya untuk memajukan ekonomi, memproduksi barang dan jasa dalam kegiatan produksi, dan mengkonsumsi hasil-hasil produksi serta mendistribusikannya, seharusnya berpijak kepada ajaran agama. Artinya, apabila kita mengacu pada ajaran Islam, tujuan hidup mardatillah harus mendasari (mengilhami dan mengarahkan) konsistensi antara niat (li Allah ta ala) dan cara-cara untuk memperoleh tujuan berekonomi (kaifiat).[18]  Dalam pengertian tersebut Ilmu ekonomi Islam adalah juga suatu upaya yang sistematis mempelajari masalah-masalah ekonomi dan perilaku manusia dan interaksi antara keduanya. Upaya ilmiah itu juga mencakup masalah pembangunan suatu kerangka kerja ilmiah untuk membentuk pemahaman teoritis (theoritical understanding), rekayasa institusi yang diperlukan dan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan proses produksi, distribusi dan konsumsi yang dapat membantu memenuhi kebutuhan manusia secara optimal dan ideal. Batasan ini masih bersifat tentatif namun jelas memberikan gambaran yang tegas bahwa ilmu ekonomi Islam adalah studi tentang problem-problem ekonomi dan institusi yang berkaitan dengannya.

Bila dipelajari ajaran-ajaran Islam di bidang ini, dapat disimpulkan beberapa point yang sangat penting sebagai petunjuk untuk membangun disiplin ini. Pertama, Islam memberikan petunjuk tentang adanya seperangkat tujuan dan nilai-nilai dalam kehidupan perekonomian. Kedua, Islam memberikan kepada manusia sikap psikologis dan satu spektrum yang mengandung motif-motif dan insentif. Islam juga memasok prinsip-prinsip hubungan perekonomian. Pokok-pokok petunjuk di atas merupakan hasil inferensi yang dipetik dari ruh ajaran Islam.

Mengacu pada pemikiran Choudhury (1998) disepakati bahwa epistemologi fundamental ekonomika Islami didasarkan pada Al-Qur’an dan as-Sunnah yang merupakan “the primordial stock of knowledge” sehingga disebut sebagai tauhidi epistimologi.  Runtun proses bagaimana implementasi epistemologi Tauhidi ke dalam tata aturan kehidupan ditempuh melalui ijtihad terekam dalam Qiyas maupun Ijma, dan juga pemikiran kontemporer dari pemikir Muslim hingga saat ini           Karakter dari epistimologi Tauhidi ialah (a) premis aksiomatiknya tidak berubah, (b) tidak dapat dipecah-pecah, (c) dalam kesatuan dan sempurna, dan (d) dapat diimplementasikan secara universal kepada semua sistem, karena merupakan kesatuan (unity), maka derivasinya adalah persatuan (unification) dari “the primordial stock of knowledge”. Aksioma yang dimaksud   diturunkan  dari  Al Qur’an,  yakni  bahwa  Allah SWT adalah Maha Pencipta yang dengan 99 sifat-sifat-Nya memanifestasikan kemuliaan-Nya atas ciptaan-Nya. Oleh karena itu, manusia sebagai khalifah di muka bumi harus juga memanifestasikan sifat-sifat-Nya ke dalam kehidupan sehari-hari. Di sini, manusia dibekali amanah untuk berkebebasan dalam menjalankan kegiatan sehari-harinya, menciptakan dan menjaga kehidupan dunia dan akhirat secara berkeseimbangan, dan bertanggungjawab atas pekerjaannya itu baik di dunia dalam rangka bermuamalat maupun di akhirat pada hari pembalasan. Format berkehidupan seperti ini disebutkan sebagai tujuan mardhatillah. Inilah butir-butir iman yang masuk ke dalam aksioma al-iqtishad (ekonomi).

Berdasar atas pertimbangan tersebut di atas, teori, model dan sistem ekonomi Islam -sebagai alternatif teori ekonomi yang telah mati- harus didasarkan pada aksiomatik etika Islam yang dirangkum dalam Tauhid, Kebebasan, Keseimbangan, dan Pertanggungjawaban dari setiap individu. Mengacu pada pemikiran Choudury (1998) tentang prinsip-prinsip Ekonomika Islami adalah : (1) Tauhid dan Ukhuwwah, (2) Kerja dan Produktivitas, dan (3) Keadilan Distributif . Sebagai khalifah di bumi, manusia berkewajiban untuk memanfaatkan bumi dan kekayaan yang terkandung di dalamnya yang serba berkecukupan itu untuk sebesar-besar kemaslahatan ummat, bukan untuk orang seorang, karena setiap insan beriman bahwa pemilikan mutlak adalah pada Allah swt. Untuk itu, ia harus bekerjasama dengan sesama seraya memohon bimbingan Allah. Hubungan dengan Allah dan dengan sesama dalam keseharian kerja inilah yang menjadikan suatu hasil kerja dapat disebut sebagai bermanfaat. Pemanfaatannya tidak sekedar berkisar pada tematik alokasi sumber daya yang optimal, pertukaran antar barang dan jasa melalui pasar, dan memaksimumkan laba, tetapi yang lebih penting dari itu semua adalah keadilan sosial.

Tujuan yang ingin dicapai dalam suatu sistem ekonomi Islam berdasarkan konsep dasar dalam Islam yaitu tauhid dan berdasarkan rujukan kepada Al-Qur’an dan Sunnah adalah:

  1. Pemenuhan kebutuhan dasar manusia meliputi pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan untuk setiap lapisan masyarakat.
  2. Memastikan kesetaraan kesempatan untuk semua orang
  3. Mencegah terjadinya pemusatan kekayaan dan meminimalkan ketimpangan dana distribusi pendapatan dan kekayaan di masyarakat.
  4. Memastikan kepada setiap orang kebebasan untuk mematuhi nilai-nilai moral
  5. Memastikan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi

Kerangka institusional suatu masyarakat Islam yang diajukan oleh M.Nejatullah Siddiqi dalam artikelnya “Teaching Economics in An Islamic Perspective” adalah:

  1. Meskipun kepemilikan mutlak adalah milik Allah SWT, namun dalam Islam diperkenankan suatu kepemilikan pribadi, dimana dibatasi oleh kewajiban dengan sesama dan batasan-batasan moral yang diatur oleh syariah.
  2. Kebebasan untuk berusaha dan berkreasi sangat dihargai, namun tetap mendapatkan batasan-batasan agar tidak merugikan pihak lain dalam hal ini kompetisi yang berlangsung haruslah persaingan sehat.
  3. Usaha gabungan (joint enterprise) haruslah menjadi landasan utama dalam bekerjasama, dimana sistem bagi hasil dan sama-sama menanggung risiko yang mungkin timbul diterapkan.
  4. Konsultasi dan musyawarah haruslah menjadi landasan utama dalam pengambilan keputusan publik.
  5. Negara bertanggung jawab dan mempunyai kekuasaan untuk mengatur individu dalam setiap keputusan dalam rangka mencapai tujuan Islam.

Empat nilai utama yang bisa ditarik dari ekonomi Islam adalah

  1. Peranan positif dari negara, sebagai regulator yang mampu memastikan kegiatan ekonomi berjalan dengan baik sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan oleh orang lain.
  2. Batasan moral atas kebebasan yang dimiliki, sehingga setiap individu dalam setiap melakukan aktivitasnya akan mampu pula memikirkan dampaknya bagi orang lain.
  3. Kesetaraan kewajiban dan hak, hal ini mampu menyeimbangkan antara hak yang diterima dan kewajiban yang harus dilaksanakan.
  4. Usaha untuk selalu bermusyawarah dan bekerja sama, sebab hal ini menjadi salah satu fokus utama dalam ekonomi Islam.

Pesatnya perkembangan lembaga keuangan syari’ah memberi angin segar bagi maraknya kegiatan ilmiah berbasis Ekonomi Islam yang dilakukan, terutama oleh kalangan akademisi Perguruan Tinggi Umum maupun Islam, hal ini juga menunjukkan semakin meningkatnya apresiasi umat Islam terhadap upaya penegakkan syari’ah dalam bidang ekonomi atau upaya artikulasi nilai-nilai Islam dalam ruangan ekonomi. Bahkan saat ini beberapa perguruan tinggi telah menjadikan ekonomi Islam sebagai objek kajian (subjek matter) baik dalam bentuk program studi maupun konsentrasi. Ada semacam justifikasi sosial atas kelemahan dan kekurangan sistem ekonomi konvensional yang selama ini dijalankan, sekaligus menumbuhkan kuriositas umat Islam, khususnya, untuk lebih memahami Ekonomi Islam. Bahkan bagi sebagian kelompok masyarakat muslim ada semacam tuntutan untuk menemukan kembali khazanah Islam yang sempat terlupakan dalam bidang ekonomi.

Maraknya kajian-kajian tentang ilmu ekonomi Islam tidak dapat dipisahkan dari fenomena kebangkitan kembali kepada ajaran-ajaran Islam yang orisinil (Islamic Resurgance) di seluruh dunia Islam bahkan di kawasan minoritas Muslim. Kebangkitan Islam yang melanda hampir di seluruh dunia kini tengah mencari suatu tatanan baru yang jangkauannya tidak hanya pada aspek ideologis, moral, kultural dan politik saja, namun juga pada aspek ekonomi. Penggerak utama di balik kebangkitan ini adalah keinginan untuk merekontruksi struktur masyarakat dan perekonomiannya dengan mengadopsi nilai-nilai keimanan, agama dan tradisi sejarah mereka.

Sistem menyangkut pengaturan, seluruh perangkat keorganisasian, institusi dan prinsip-prinsip yang berhubungan tentang bagaimana masyarakat mencapai tujuan materialnya.  Spesifikasinya, sistem ekonomi harus mempunyai persyaratan, yaitu: (a) ia harus mengidentifikasi institusi tertentu yang menopang format dimana kegiatan ekonomi berlangsung, (b) tujuan dari kegiatan ekonomi ingin dicapai, dan (c) sarana-sarana dan proses melalui kelengkapan ini tujuan dapat dicapai. Dalam kaitan ini dapat dilihat tulisan tentang Islamic concept of ownership oleh Mohammad Sakr, Islamic economic system oleh Sultan Abu Ali, dan Distributive Justice in Islam oleh Mohammad Anas Zarqa. Fokus pertama mencakup filosofi dan tatanan institusi dalam sistem ekonomi Islam, yang kedua melihat secara rinci elemen-elemen dari sistem dan bagaimana memfungsikannya, sedangkan yang ketiga menganalisis tujuan sistem ekonomi Islam dan sarana pencapaiannya dalam kerangka Syariah. Daya jangkau lapangan ini meliputi persoalan kepemilikan; individu, bersama dan negara, kebebasan bertransaksi, kesejahteraan sosial serta hubungan si Kaya dan si Miskin. Pelaku utama dalam lapangan ini adalah pemerintah melalui regulasi dan perundang-undangan.

Setiap sistem ekonomi memiliki tujuan-tujuan yang hendak direalisasikan. Sistem ekonomi Islam lebih komprehensif dan utuh didasarkan pada pandangan-pandangan yang benar terhadap hakekat manusia. Sistem-sistem yang ada memiliki filosofi yang berbeda-beda tentang manusia sekalipun berasal dari muara yang sama yaitu materialisme.

Kelompok materialisme hanya memandang manusia dari sudut keuntungan fisik semata sehingga tidak utuh dan tidak seimbang, maka akan mendorong dan menggiring manusia ke arah paham kebendaan dan hedonisme. Sedangkan ekonomi Islam dengan mengikuti pemikiran yang ditawarkan Prof. Choudhury, didasarkan atas prinsip : Tauhid (norma/moral Islam), persaudaraan (brotherhood), kerja dan produktivitas (work and productivity), distribusi pendapatan dan kekayaaan yang merata ( distributive equity), kerjasama (cooperation), organisasi (organization)/ institusi Islam (islamic institutionalism).[19] Prinsip tersebut teraplikasikan ke dalam sistem ekonomi Islam. Beberapa karakteristik sistem ekonomi Islam menurut para pemikir ekonomi Islam seperti M.A Manan [20] dan Monzer Kahf[21], setidaknya meliputi: a) mengakui kepemilikan individu dan kolektif dalam konteks kemaslahatan; b) tiadanya transaksi berbasis bunga  dan mengunggulkan sistem bagi hasi /profit anda loss sharing seperti dalam mudharabah atau musyarakah, c) berfungsinya institusi zakat sebagai salah satu  sarana distribusi, d) mengakui mekanisme pasar, e) perlu adanya peranan negara atau pemerintah dalam fungsinya sebagai regulator dan supervisi.

Umar Chapra[22], merinci beberapa fungsi yang harus dilakukan pemerintah negara Islam yaitu : a) memberantas kemiskinan, b) menciptakan kondisi full employment dan pertumbuhan yang tinggi, c) menjaga stabilitas nilai real uang, d) menegakkan hukum dan ketertiban, e) menjamin keadilan sosial dan ekonomi, f) mengatur jaminan sosial dan mendorong distirbusi pendapatan dan kekayaan yang adil, g) mengharmoniskan hubungan internasional dan menjaga pertahanan negara.

Demikian beberapa karakteristik ekonomi Islam yang pada gilirannya akan membentuk tahapan ketiga yang disebut sebagai perekonomian umat Islam. Ketiga, Ekonomi Islam sebagai “Perekonomian umat Islam” atau lebih tepat “Perekonomian Dunia Islam”. Wilayah ini menjadi objek pola laku umat Islam sebagai pelaku ekonomi. Prinsip yang dikembangkan lebih ditekankan pada kinerja unit ekonomi umat Islam. Lapangan ini menjadi arena umat Islam yang menjadi pelaku utamanya. Perubahan masyarakat dari satu sistem nilai ke sistem nilai baru merupakan proses panjang, diperlukan strategi dan keinginan kuat dari seluruh pihak, sehingga ekonomi Islam kehadirannya memang dibutuhkan oleh masyarakat dan bukan sesuatu yang mengada-ada atau dipaksakan.

Penegakkan pada salah satu level saja tidak akan menghasilkan tegaknya syari’ah Islam dalam bidang ekonomi. Teori ekonomi Islam yang kuat tanpa diterapkan menjadi sistem hanya akan menjadikan ekonomi Islam sebagai kajian ilmu belaka tanpa memberi dampak pada kehidupan ekonomi. Dengan demikian diperlukan adanya upaya yang sinergi pada ketiga level tersebut dengan melibatkan seluruh komponen dalam rangka menegakkan syari’ah Islam dalam bidang ekonomi. Selain para praktisi, ulama, dan organisasi sosial keagamaan, peran para akademisi juga menjadi sangat strategis dalam upaya membangun, mengembangkan ekonomi Islam di Indonesia.

Kegiatan pemikiran ekonomi di dunia Islam setidaknya mengambil dua pola. Pertama adalah pola ideal yakni sistem ekonomi Islam yang lebih komprehensif dan holistik sebagai agenda jangka panjang dan hal ini diupayakan secara terus-menerus. Kedua adalah pola pragmatis yaitu mengembangkan sistem yang bersifat parsial dan satu aspek saja, dalam hal ini lembaga keuangan syariah (perbankan syariah). Di Indonesia, realitas menunjukkan bahwa perkembangan pemikiran ekonomi Islam dimulai melalui pola kedua, sehingga tidak heran jika pengembangan industri keuangan syariah tumbuh lebih cepat daripada pengkajian teoritis dan konseptual dalam pembentukan sistem yang lebih komprehensif, sehingga wajar keterbatasan sumber daya insani yang memahami secara baik aspek ekonomi dan syariah menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam rangka pengembangan ekonomi Islam. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan lembaga keuangan syariah itu sendiri merupakan pintu masuk bagi para pemikir muslim Indonesia untuk lebih mendalami ekonomi Islam dalam kerangka ilmu dan sistem. Konsep perbankan dan keuangan Islam yang pada mulanya hanya merupakan diskusi teoritis, kini telah menjadi realitas faktual yang tumbuh dan berkembang. Bahkan, saat ini industri perbankan syariah telah bertransformasi dari hanya sekedar bank alternatif dengan sistem syariah menjadi bank yang mampu memainkan peranannya dalam percaturan ekonomi dunia. Bank syariah semestinya tumbuh subur di Indonesia yang mendasarkan kehidupan berbangsa dan bernegara dengan Pancasila dan konstitusi yang menghendaki adanya ekonomi yang berkeadilan.

Menurut Sri Edi Swasosno, Ekonomi Syariah adalah sejalan dengan Ekonomi Pancasila dan bersifat compatible meski tidak sepenuhnya substitutable, untuk itu ekonomi syariah tidak boleh direduksi hanya dengan memusatkan pada upaya membangun bank-bank syariah. Ekonomi syariah harus dapat menangkal sistem ekonomi yang exploitatory secara luas, yang memelihara dan menumbuhkan kesenjangan ekonomi, yang membiarkan terjadinya trade off secara sistemik, yang subordinatif dan diskriminatori, yang membiarkan berkembangnya laissez faire dalam arti luas.

Untuk itu perbankan syariah diharapkan mampu memainkan perannya yang strategis terutama dalam mendukung perekonomian nasional terutama upaya memperkuat usaha masyarakat sehingga keadilan distributif dapat terwujud dalam tempo yang tidak terlalu lama. Perjuangan yang selayaknya dilakukan oleh para penggerak ekonomi syariah adalah mewujudkan suatu sistem yang berdasarkan konsep penafian sistem bunga dalam trasaksi bisnisnya, mengembalikan uang pada fungsinya sebagai media penukaran bukan menjadikannya sebagai komoditas, pengembangan syirkah dan trasaksi syariah lainnya dalam membentuk pola hubungan yang partisipatif dan egaliter bukan eksploitatif. Perbankan syariah ataupun lembaga keuangan syariah adalah salah satu dan bukan satu-satunya institusi yang dapat menerapkan konsep tersebut.

  1. C.                Permasalahan Utama dalam Ekonomi

Ekonomi merupakan studi tentang manusia, dimana terjadi pertentangan antara kebutuhan dan keinginan manusia yang sifatnya tidak terbatas berbenturan dengan kapasitas sumber daya yang terbatas. Oleh karenanya ekonomi hadir tentang bagaimana menggunakan atau mengalokasikan sumber-sumber daya ekonomi yang terbatas jumlahnya tersebut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sebaik-baiknya. Sehingga yang menjadi masalah pokok dalam suatu sistem ekonomi adalah masalah kelangkaan (scarcity). Kebutuhan manusia meliputi kebutuhan fisik dasar akan makanan, pakaian, keamanan, kebutuhan sosial serta kebutuhan individu akan pengetahuan dan suatu keinginan untuk mengekspresikan diri. Sementara keinginan adalah bentuk kebutuhan manusia yang dihasilkan oleh budaya dan kepribadian individual. Manusia mempunyai keinginan yang nyaris tanpa batas tetapi sumber dayanya terbatas. Jadi mereka akan memilih produk yang memberi nilai dan kepuasan paling tinggi untuk uang yang dimilikinya. Dengan keinginan dan sumber daya yang dimiliki manusia akan menciptakan permintaan akan produk dengan manfaat yang paling memuaskan.

Permintaan adalah keinginan manusia yang didukung oleh kemampuan daya beli seseorang. Keinginan dapat berubah menjadi permintaan bilamana disertai dengan daya beli. Konsumen memandang produk sebagai kumpulan manfaat dan memilih produk yang memberikan kumpulan terbaik untuk uang yang mereka keluarkan. Tidaklah dapat dikatakan sebagai suatu permintaan apabila keinginan tersebut tidak disertai dengan kemampuan untuk membeli suatu produk atau jasa tersebut.

Berdasarkan pandangan atas kebutuhan dan persyaratan apa yang dibutuhkan untuk memenuhinya, akan berlanjut kepada kelangkaan relatif atas pemenuhan kebutuhan dalam rangka pencapaian nilai yang lebih tinggi dan pencapaian suatu tujuan tertentu. Dalam pandangan ekonomi konvensional “ilmu ekonomi adalah studi tentang pemanfaatan sumber daya yang langka atau terbatas (scarcity) untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas (unlimited)[23]”.

Secara umum, ilmu ekonomi adalah studi tentang pilihan atas berbagai kebutuhan dan keinginan manusia yang dibatasi oleh sumber daya yang sifatnya terbatas. Kelangkaan tidak dapat terelakkan dalam kehidupan manusia dan telah menjadi pusat permasalahan ekonomi. Namun apakah sumber daya masyarakat itu? Lalu kenapa kelangkaan tersebut terjadi? Kemudian konsekuensi apa yang didapat dari terjadinya kelangkaan? Sumber daya terdiri atas sumber daya alami dan sumber daya buatan. Dimana sumber daya alami terdiri atas sumber daya alam dan sumber daya manusia. Sedangkan sumber daya buatan adalah modal dan pengusaha. Para ahli ekonomi menamakan seluruh sumber daya ini sebagai faktor-faktor produksi, sebab mereka ini digunakan untuk memproduksi barang-barang yang dibutuhkan orang. Barang-barang yang dihasilkan atau diproduksi dinamakan komoditi. Komoditi dapat dipisahkan menjadi barang dan jasa, dimana barang selalu berujud sedangkan jasa tidak berwujud.

Bagi sebagian besar umat manusia yang hidup di dunia ini kelangkaan merupakan suatu hal yang nyata, sedangkan sumber daya yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan tersebut terbatas jumlahnya tidak sebanding dengan besarnya permintaan. Walaupun suatu negara itu sudah kaya atau makmur bukan berarti masalah kelangkaan sudah selesai. Namun tetap saja dibutuhkan output yang lebih banyak lagi agar seluruh rumah tangga dapat mengkonsumsinya. Karena keterbatasan sumber daya tersebut, maka setiap individu menghadapi masalah pengambilan keputusan tentang apa yang harus diproduksi dan bagaimana membagi produk tersebut di kalangan anggota masyarakat. Setiap individu dalam masyarakat mempunyai preferensi yang berbeda dalam menentukan pilihan tersebut. Keterbatasan dalam melakukan pilihan tersebut secara tidak langsung menunjukkan akan timbulnya suatu biaya, hal ini dikenal dengan biaya peluang (opportunity cost). Dimana keputusan untuk memiliki sesuatu lebih banyak sama dengan keputusan untuk memiliki hal lainnya lebih sedikit. Setiap kali keterbatasan atau kelangkaan memaksa seseorang untuk menentukan pilihan, maka dia sedang menghadapi masalah biaya peluang. Biaya ini diukur dengan satuan alternatif yang dilepaskan. Karena ketika seseorang menentukan pilihannya atas sesuatu hal, maka ia melepaskan kepuasan pilihannya atas suatu hal yang lain.

Gambar 1.1. menggambarkan kombinasi yang harus diambil atas dua pilihan barang X dan barang Y.  Hal ini terjadi karena keterbatasan anggaran yang dimiliki oleh individu. Dalam contoh ini digambarkan biaya peluang (opportunity cost) adalah konstan, sehingga garis pembatas berbentuk lurus. Namun dalam dunia riel, biaya peluang bisa saja tidak konstan. Selain itu ada lagi proses pemilihan yang dilakukan oleh produsen ketika memutuskan akan memutuskan untuk memproduksi suatu barang. Gambar 1.1. memperlihatkan bahwa apabila seorang individu memilih titik A, maka individu tersebut telah memilih seluruh komoditi Y dan melepaskan keinginannya atas komoditi X, begitu pula sebaliknya apabila memilih titik C. Sementara titik B adalah individu mencoba mengkombinasikan konsumsinya antara komoditi X dan komoditi Y.

Karena sumber daya terbatas, pilihan untuk memproduksi suatu barang lebih banyak akan menurunkan produksi barang lain. Sehingga proses produksi yang bisa dicapai adalah kombinasi berdasarkan sumber daya yang tersedia. Hal ini bisa digambarkan dalam suatu kurva yang dinamakan batas kemungkinan produksi (production possibility frontier). Kemiringan (slope) kurva ini turun ke kanan bawah. Dari gambar 1.2. terlihat bahwa titik a dan titik d merupakan kombinasi yang tidak bisa dicapai, karena sumber daya yang dimiliki tidak mencukupi untuk memproduksi sebanyak itu. Sementara titik c merupakan titik yang tidak optimal, karena ada sumber daya yang tidak terpakai

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Batas kemungkinan produksi mengungkapkan tiga konsep yaitu keterbatasan/kelangkaan (scarcity), pilihan (choice) dan biaya peluang (opportunity cost). Keterbatasan ditunjukkan oleh kombinasi-kombinasi yang tidak bisa dicapai di atas batas garis; pilihan ditunjukkan oleh kebutuhan untuk memilih dari sekian titik-titik alternatif yang bisa dicapai sepanjang batas; biaya peluang diperlihatkan oleh kemiringan batas tersebut ke kanan bawah.

Sehingga dari permasalahan utama mendasar, setiap masyarakat menghadapi dan harus memecahkan tiga permasalahan pokok ekonomi[24]:

  1. Apa yang harus diproduksi  dan dalam jumlah berapa barang tersebut diproduksi (WHAT)
  2. Bagaimana sumber-sumber ekonomi (faktor-faktor produksi) yang tersedia harus dipergunakan untuk memproduksi barang-barang tersebut secara optimal (HOW)
  3. Untuk siapa barang-barang tersebut diproduksikan; atau bagaimana barang-barang tersebut dibagikan diantara warga masyarakat (FOR WHOM)

Masyarakat memecahkan ketiga permasalahan ekonomi pokok tersebut dengan berbagai cara mulai dari kebiasaan, tradisi, insting, komando (paksaan) sampai kepada mekanisme harga di pasar. Dalam dunia ekonomi modern saat ini untuk memecahkan permasalahan di atas adalah dengan menyerahkannya kepada mekanisme harga di pasar. Gerak harga (mekanisme harga) dari setiap barang dan faktor produksi bisa memecahkan ketiga masalah ekonomi pokok dari masyarakat dengan jalan:

  1. Bila masyarakat menghendaki lebih banyak akan sesuatu barang, maka harga barang tersebut akan naik. Sehingga penjual memperoleh keuntungan yang lebih besar, selanjutnya produsen akan memperbesar kapasitas produksinya atas produk tersebut, akibat peningkatan kapasitas produksi  maka total barang akan bertambah. Barang akan semakin ditingkatkan produksinya sampai dengan batas maksimal yang dapat diproduksi, sampai dengan batas maksimal dimana penawaran lebih tinggi dari permintaan, maka harga barang tersebut akan menurun dan akhirnya produsen akan menurunkan kapasitas produksinya. Proses sebaliknya akan terjadi bila harga turun. Jadi gerak harga-harga barang menentukan apa dan berapa setiap barang akan tersedia (diproduksikan) di dalam masyarakat. (Masalah What);
  2. Barang dihasilkan dari proses pengkombinasian faktor-faktor produksi oleh produsen, dimana faktor-faktor produksi ini merupakan kombinasi paling efisien dan efektif bagi perusahaan dalam proses produksinya. Bila harga sesuatu faktor produksi naik, maka produsen akan berusaha mengadakan penghematan penggunaan faktor tersebut dan menggunakan lebih banyak faktor-faktor produksi yang lain untuk proses produksinya, dan berusaha mencari barang subtitusi yang paling efisien dalam produksinya. Sehingga produsen akan selalu mencari kombinasi faktor produksi yang paling efisien dalam proses produksinya.  Gerak harga faktor produksi menentukan kombinasi optimal yang digunakan produsen dalam proses produksinya. (Masalah How);
  3. Barang-barang hasil produksi dijual baik oleh produsen maupun konsumen. Konsumen membayar harga barang-barang hasil produksi oleh produsen tersebut dari penghasilan yang diterimanya, dimana penghasilan yang didapat oleh konsumen tersebut bersumber dari penjualan jasa-jasa atas faktor produksi yang dimilikinya kepada produsen berupa upah dari tenaga yang mereka keluarkan kepada produsen. Pola distribusi penghasilan antar warga masyarakat tidak hanya ditentukan oleh harga faktor-faktor produksi saja tetapi juga oleh pola kepemilikan. Semakin terpusat suatu kepemilikan, maka akan semakin terpusat pula distribusi barang-barang di masyarakat. Gerak harga barang dan faktor produksi menentukan distribusi barang-barang yang dihasilkan di dalam masyarakat antara warga masyarakat. (Masalah For Whom).

Meskipun dalam mekanisme harga yang dalam bahasa ekonomi dipengaruhi oleh “invisible hand” tidak semuanya bisa dipecahkan oleh mekanisme harga di pasar. Sebab ada bagian yang secara umum mekanisme harga tidak memecahkan masalah dengan baik, karena menyangkut kepentingan umat yang lebih besar[25]:

  1. Distribusi pendapatan

Mekanisme harga tidak selalu bisa menjamin dipecahkannya masalah “For Whom” secara adil, sebab ada pihak yang semakin dirugikan dan diinjak-injak oleh pihak lain. Hal ini terkait dengan pola kepemilikan yang terjadi di masyarakat, dimana terjadi kesenjangan pendapatan di masyarakat yang memerlukan suatu mekanisme agar tercipta suatu keadilan, dan hal ini kurang dapat dilakukan oleh mekanisme harga. Apabila hal ini sepenuhnya dilepas menurut mekanisme harga yang terjadi maka akan dapat menyebabkan pemusatan kekayaan kepada segelintir kelompok tertentu yang memiliki akses modal lebih besar dan merugikan kelompok masyarakat yang lemah yang kurang memiliki akses modal. Sehingga tugas negara adalah untuk memastikan untuk tidak terjadinya kesenjangan pendapatan di masyarakat.

  1. Ketidaksempurnaan pasar

Hal ini apabila terjadi suatu perbedaan yang tajam dalam hal kekuasaan ekonomi antara pihak-pihak yang bertransaksi di pasar, maka harga yang terjadi di pasar tidak menggambarkan keadaan masyarakat sebenarnya. Struktur pasar pesaingan sempurna sangatlah sulit untuk ditemukan dalam kehidupan nyata, karenanya mekanisme harga yang sepenuhnya diserahkan kepada sistem pasar akan mengerucut kepada terjadinya ketidaksempurnaan pasar, karena struktur pasar yang paling banyak adalah struktur oligopoli. Sehingga dalam hal ini masalah “What” dan “How”  tidak terpecahkan dengan baik.

  1. Barang-barang publik

Dalam kehidupan ini ada barang-barang yang hanya bisa disediakan secara kolektif oleh masyarakat maupun pemerintah (contoh: keamanan, , infrastruktur jalan, sarana publik, taman kota, dan sebagainya). Dimana tidak terdapatnya harga pasar bagi barang-barang publik ini, barang-barang publik ini tidak dapat disediakan oleh swasta karena secara ekonomi tidak menguntungkan. Hal ini menyebabkan barang-barang publik harus disediakan oleh negara demi kesejahteraan masyarakat. Sehingga terlihat sekali lagi bahwa masalah “What” untuk barang-barang publik ini tidak bisa dipecahkan dengan baik oleh mekanisme harga.

  1. Eksternalitas

Dalam mekanisme pasar tidak bisa atau kurang memperhitungkan dampak-dampak yang ditimbulkan secara tidak langsung dari kegiatan ekonomi baik itu eksternalitas positif –yaitu dampak pembangunan yang memberikan hasil positif terhadap masyarakat- (contoh: pembangunan jalan membuat suatu daerah menjadi terbuka dari aktivitas dan kegiatan perekonomian dan berakibat pada semakin majunya perekonomian yang terdapat di suatu daerah) maupun eksternalitas negatif –yaitu pembangunan yang berdampak negatif terhadap masyarakat- (contoh: polusi udara yang ditimbulkan oleh pabrik atau polusi debu yang ditimbulkan akibat pembangunan suatu jalan tol mengakibatkan terjangkitnya penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) di masyarakat).

  1. Makro ekonomi

Mekanisme harga pun seringkali tidak bisa diandalkan secara penuh untuk menstabilkan gejolak (fluktuasi) naik turunnya kegiatan ekonomi secara total (nasional atau makro), dalam hal ini intervensi pemerintah masih sangat diperlukan. Penyesuaian dalam aktivitas makro ekonomi tidak dapat dilakukan oleh mekanisme harga melainkan harus diselesaikan oleh bidang ilmu ekonomi publik dan ekonomi politik. Sebab apabila mengandalkan sepenuhnya kepada mekanisme harga, banyak permasalahan makroekonomi yang perlu diselesaikan secara lebih bijaksana dengan mempertimbangkan berbagai macam aspek.

Dalam kelima bidang ini, mekanisme harga tidak bisa diharapkan menyelesaikan permasalahan ekonomi secara otomatis dan baik, sehingga masih dibutuhkan tindakan-tindakan dan kebijakan yang harus dirumuskan dan dijalankan secara sadar, terstruktur dan sistematis oleh negara dalam bentuk suatu perencanaan pembangunan. Dalam praktik mekanisme harga dan perencanaan digunakan secara bersama-sama. Tidaklah ada suatu negara yang murni menerapkan mekanisme harga secara total dan tidak ada suatu negara pun yang murni menerapkan perencanaan secara total. Suatu hal yang mustahil apabila mekanisme harga dan perencanaan menjadi suatu bagian terpisahkan, sebab hal ini akan menjadikan perekonomian suatu negara menjadi terpuruk.

Ekonomi konvensional mempunyai paradigma yang berbeda dengan ekonomi Islam. Karena ekonomi konvensional melihat ilmu sebagai sesuatu yang sekuler dan sama sekali tidak memasukkan faktor X (yaitu faktor Tuhan) didalamnya. Sehingga ekonomi konvensional menjadi suatu bidang ilmu yang bebas nilai (positivistik). Sementara ekonomi Islam dibangun di atas prinsip-prinsip syariah. Dalam tataran ini, ekonom muslim tidak berbeda pendapat. Namun ketika diminta untuk menjelaskan apa dan bagaimana konsep ekonomi Islam itu mulai muncullah perbedaan pendapat. Sampai saat ini pemikiran para ekonom muslim kontemporer terbagi atas tiga mazhab. Kenapa pemikiran para ekonom muslim ini dapat dikatakan sebagai mazhab? Sebab pemikiran-pemikiran mereka telah tersusun secara sistematis. Tiga mazhab[26] tersebut adalah:

¨      Mazhab Iqtishaduna

¨      Mazhab Mainstream

¨      Mazhab Alternatif-kritis

1.                  Mazhab Iqtishaduna

            Mazhab ini dipelopori oleh Baqir as-sadr dengan bukunya “Iqtishaduna”. Dimana mazhab ini berpendapat bahwa ilmu ekonomi (economics) tidak bisa berjalan seirama dengan Islam. Ilmu ekonomi tetaplah ekonomi, dan Islam adalah tetap Islam. Kedua hal ini tidak akan bisa disatukan karena berasal dari pengertian dan filosofi yang berbeda. Yang satu anti-Islam (anti Tuhan) dan yang satu lagi Islam (Tuhan). Perbedaan pengertian dan filosofi ini akan berdampak pada perbedaan cara pandang yang digunakan dalam melihat suatu masalah ekonomi termasuk pula dalam alat analisis yang dipergunakan.

Menurut ilmu ekonomi, masalah ekonomi muncul karena adanya keinginan manusia yang tidak terbatas sementara sumber daya yang tersedia terbatas, dimana faktor utama permasalahan ekonomi adalah masalah kelangkaan. Mazhab ini menolak pernyataan ini, karena menurut mereka Islam tidak mengenal adanya sumber daya yang terbatas. Dalil yang mereka pergunakan untuk memperkuat argumentasi mereka adalah Al Qur’an Surat Al Qamar ayat 49

Sungguh telah Kami ciptakan segala sesuatu dalam ukuran yang setepat-tepatnya”.

Dengan demikian segala sesuatu telah terukur dengan sempurna, sebenarnya Allah telah memberikan sumber daya yang cukup bagi seluruh manusia. Kemudian mereka mengajukan sanggahan atas keinginan manusia yang tidak terbatas, menurut mereka keinginan manusia pun bersifat terbatas. Sebagai contoh: manusia akan berhenti makan bila sudah kenyang. Sehingga ditarik suatu kesimpulan bahwa keinginan manusia yang tidak terbatas itu adalah salah, sebab kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa keinginan manusia terbatas.

Mazhab ini berpendapat bahwa permasalahan dalam ekonomi muncul karena adanya distribusi yang tidak merata dan tidak adil sebagai akibat sistem ekonomi yang membenarkan terjadinya eksploitasi atas sekelompok pihak yang lemah oleh sekelompok pihak yang lebih kuat, dimana pihak yang kuat akan mampu menguasai sumber daya yang ada sementara di pihak lain pihak yang lemah sama sekali tidak mempunyai akses terhadap sumber daya tersebut. Sehingga masalah ekonomi muncul bukan karena sumber daya yang terbatas, tetapi karena keserakahan manusia yang tidak terbatas. Manusia secara fitrahnya merupakan makhluk yang tidak pernah merasa puas atas apa yang telah dimilikinya. Mereka akan selalu berusaha mewujudkan setiap yang diinginkan.

Oleh karena itu istilah ekonomi Islam menurut mazhab ini adalah suatu istilah yang tidak tepat dan menyesatkan, sehingga istilah ekonomi Islam harus dihentikan atau dihilangkan. Sebagai gantinya untuk menjelaskan mengenai sistem ekonomi dengan prinsip Islam ditawarkan suatu istilah baru yang berasal dari filosofi Islam yaitu iqtishad. Iqtishad menurut mereka bukan sekedar terjemahan dari ekonomi saja. Iqtishad berasal dari bahasa Arab qasd yang secara harfiah berarti equlibrium atau keadaan sama, seimbang atau pertengahan. Oleh karenanya, semua teori ekonomi konvensional ditolak dan dibuang dan diganti oleh teori-teori baru yang disusun berdasarkan nash-nash Al Qur’an dan Sunnah.

  1. 2.                  Mazhab Mainstream

            Mazhab kedua ini berbeda pendapat dengan mazhab pertama. Mazhab kedua atau yang lebih dikenal dengan mazhab mainstream ini justru setuju bahwa masalah ekonomi muncul karena sumber daya yang terbatas yang dihadapkan pada keinginan manusia yang tidak terbatas. Dalil yang dipakai oleh mazhab ini adalah Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 155

Dan sungguh akan kami uji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar”.

Sedangkan keinginan manusia yang tidak terbatas dianggap sebagai hal yang alamiah dan bersifat sunatullah serta merupakan fitrah manusia. Dalilnya adalah surat At Takaatsur ayat 1-5

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke liang kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu)”.

Perbedaan mazhab ini dengan ekonomi konvensional adalah dalam penyelesaian masalah ekonomi tersebut. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa masalah kelangkaan ini menyebabkan manusia harus melakukan pilihan. Dalam ekonomi konvensional, pilihan dan penentuan skala prioritas dilakukan berdasarkan selera pribadi masing-masing tidak peduli apakah itu bertentangan dengan norma serta nilai agama ataukah tidak. Dengan kata lain pilihan dilakukan berdasarkan tuntutan nafsu semata (Homo economicus). Sedangkan dalam ekonomi Islam penentuan pilihan tidak bisa tanpa aturan, sebab semua sendi kehidupan kita telah diatur oleh Al Qur’an dan Sunnah. Sehingga kita sebagai manusia ekonomi Islam (Homo Islamicus) harus selalu patuh pada aturan-aturan syariah yang ada.

Tokoh-tokoh mazhab antara lain adalah Umer Chapra, Metwally, M A Mannan, M N Siddiqi, dll. Mayoritas mereka adalah para pakar ekonomi yang belajar serta mengajar di universitas-universitas barat, dan sebagian besar di antara mereka adalah ekonom Islamic Development Bank (IDB). Sehingga mazhab ini tidak pernah membuang sekaligus teori-teori ekonomi konvensional ke keranjang sampah. Yang bermanfaat diambil, yang tidak bermanfaat dibuang, sehingga terjadi suatu proses transformasi keilmuan yang diterangi dan dipandu oleh prinsip-prinsip syariah Islam. Sebab keilmuan yang saat ini berkembang di dunia Barat pada dasarnya merupakan pengembangan keilmuan yang dikembangkan oleh para ilmuwan muslim pada era dark ages, sehingga bukan tak mungkin ilmu yang berkembang sekarang pun masih ada beberapa yang sarat nilai karena merupakan pengembangan dari pemikiran ilmuwan muslim terdahulu.

  1. 3.                  Mazhab Alternatif –kritis

            Mazhab ketiga dipelopori oleh Timur Kuran, Jomo, Muhammad Arif, dll. Mazhab ini mengkritik kedua mazhab sebelumnya. Mazhab pertama dikritik sebagai mazhab yang berusaha untuk menemukan sesuatu yang baru yang pada hakikat aslinya sudah ditemukan oleh orang lain. Mereka menghancurkan teori lama, untuk kemudian menggantinya dengan teori baru yang notabenenya sebagian telah ditemukan. Sedangkan mazhab kedua dikritik sebagai jiplakan dari ekonomi konvensional dengan menghilangkan variabel riba dan memasukkan variabel zakat serta niat. Mazhab ketiga ini merupakan mazhab yang kritis, mereka berpendapat bahwa analisis kritis bukan saja harus dilakukan terhadap ekonomi konvensional yang telah ada, tetapi juga terhadap ekonomi Islam itu sendiri. Sebab ekonomi Islam muncul sebagai tafsiran manusia atas Al Qur’an dan Sunnah, dimana tafsiran ini bisa saja salah dan setiap orang mungkin mempunyai tafsiran berbeda atasnya. Setiap teori yang diajukan oleh ekonomi Islam harus selalu diuji kebenarannya agar ekonomi Islam dapat muncul sebagai rahmatan lil-alamin di dunia ini.

 

  1. D.                Rancang Bangun Ekonomi Islam

Dalam pembahasan tentang apa yang dimaksud dengan ekonomi Islam, kita harus mengetahui terlebih dahulu mengenai rancang bangun ekonomi Islam[27], dengan mengetahui rancang bangun ekonomi Islam kita dapat memperoleh suatu gambaran utuh dan menyeluruh secara singkat tentang ekonomi Islam. Dimana terdiri atas atap, tiang dan landasan. Diharapkan nantinya dengan mengetahui rancang bangun ini, dapat memahami lebih lanjut mengenai apa ekonomi Islam itu sendiri. Landasan terdiri atas aqidah (tauhid), adil, nubuwwa, khilafah dan ma’ad.

Aqidah (tauhid) merupakan konsep Ketuhanan umat Islam terhadap Allah SWT. Dimana dalam pembahasan ekonomi Islam berasal dari ontologi tauhid, dan hal ini menjadi prinsip utama dalam syariah. Sebab kunci keimanan seseorang adalah dilihat dari tauhid yang dipegangnya, sehingga rukun Islam yang pertama adalah syahadat yang memperlihatkan betapa pentingnya tauhid dalam setiap insan beriman. Oleh karenanya setiap perilaku ekonomi manusia harus didasari oleh prinsip-prinsip yang sesuai dengan ajaran Islam yang berasal dari Allah SWT. Karenanya setiap tindakan atau perilaku yang menyimpang dari syariah akan dilarang, sebab hal tersebut akan dapat menimbulkan kemudharatan bagi kehidupan umat manusia baik bagi individu itu sendiri maupun bagi orang lain. Sehingga hal ini akan memunculkan tiga asas pokok yang dipegang oleh setiap individu muslim:

  1. Dunia dengan segala isinya adalah milik Allah dan berjalan menurut kehendak-Nya. Sehingga pemilik mutlak atas harta yang kita miliki hanya Allah semata, dan kita hanya sebagai pemegang amanah atas harta tersebut yang harus mengelola dengan sebaik-baiknya.
  2. Allah adalah pencipta semua makhluk dan semua makhluk tunduk kepada-Nya. Hal ini akan memunculkan sikap rendah hati dari manusia, bahwa kita tidak layak sombong atas yang dimiliki sebab manusia hanyalah makhluk ciptaan Allah semata.
  3. Iman kepada hari kiamat akan mempengaruhi tingkah laku ekonomi manusia menurut horizon waktu. Setiap individu muslim akan selalu memiliki dua horizon waktu dalam bertindak, yaitu horizon waktu hidup di dunia dan horizon waktu hidup di akhirat.

Adil disini mengandung makna bahwa dalam setiap aktivitas ekonomi yang dijalankan agar tidak terjadi suatu tindakan yang dapat mendholimi orang lain. Konsep adil ini mempunyai dua konteks yaitu konteks individual dan konteks sosial. Menurut konteks individual, janganlah dalam akitivitas perekonomiannya ia sampai menyakiti diri sendiri. Sedang dalam konteks sosial, dituntut jangan sampai merugikan orang lain. Oleh karenanya harus terjadi keseimbangan antara individu dan sosial. Hal ini menunjukkan dalam setiap aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh insan beriman haruslah adil, agar tidak ada pihak yang tertindas. Karakter pokok dari nilai keadilan bahwa masyarakat ekonomi haruslah memiliki sifat makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran menurut syariat Islam. Berkaitan dengan masalah perilaku ekonomi umat manusia, maka keadilan mengandung maksud:

  1. Keadilan berarti kebebasan yang bersyarat akhlak Islam, keadilan yang tidak terbatas hanya akan mengakibatkan ketidakserasian di antara pertumbuhan produksi dengan hak-hak istimewa bagi segolongan kecil untuk mengumpulkan kekayaan melimpah dan mempertajam pertentangan antara yang kuat dan akhirnya akan menghancurkan tatanan sosial kemasyarakatan.
  2. Keadilan harus ditetapkan di semua fase kegiatan ekonomi.  Keadilan dalam produksi dan konsumsi ialah paduan efisiensi dan memberantas pemborosan. Adalah suatu kezaliman dan penindasan apabila seseorang dibiarkan berbuat terhadap hartanya sendiri yang melampaui batas yang ditetapkan dan bahkan sampai merampas hak orang lain.

Mungkin beberapa orang menganggap bahwa tuntunan dalam ekonomi Islam ini hanya bisa dijalankan oleh Nabi. Anggapan ini keliru, sebab ilmu yang diajarkan oleh Allah SWT melalui perantara Nabi Muhammad saw pasti benar adanya. Dengan konsep nubuwwa ini, kita dituntut untuk percaya dan yakin bahwa ilmu Allah itu benar adanya dan akan membawa keselamatan dunia dan akhirat. Serta dapat dijalankan oleh seluruh umat manusia dan bukan hanya oleh Nabi saja. Sebab ajaran Nabi Muhammad saw adalah suatu ajaran yang memiliki nilai-nilai universal di dalamnya. Sehingga prinsip-prinsip yang terkandung dalam ekonomi Islam merupakan prinsip-prinsip ekonomi universal yang dapat diterapkan oleh seluruh umat, baik oleh umat Islam maupun umat selain Islam. Sifat-sifat keteladanan Rasulullah seperti shidiq, amanah, tabligh dan fathonah mampu dilaksanakan oleh umatnya meskipun tidak akan sesempurna seperti yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah. Namun hal ini membuktikan bahwa ekonomi Islam pun mampu dilaksanakan oleh setiap individu.

Khilafah atau berarti pemimpin, membawa implikasi bahwa pemimpin umat dalam hal ini bisa berarti pemerintah adalah suatu yang kecil namun memegang peranan penting dalam tata kehidupan bermasyarakat. Islam menyuruh kita untuk mematuhi pemimpin selama masih dalam koridor ajaran Islam. Ini berarti negara memegang peranan penting dalam dalam mengatur segenap aktivitas dalam perekonomian. Hal ini menunjukkan bahwa regulasi dan aturan tersebut tetap dibutuhkan, namun selama tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Dengan kata lain, peran negara adalah berupaya menegakkan kewajiban dan keharusan mencegah terjadinya hal-hal yang diharamkan.

Ma’ad atau return, ini berarti dalam Islam pun membolehkan mengambil keuntungan dalam melakukan aktivitas perekonomian. Oleh karenanya salah besar yang beranggapan bahwa dalam Islam tidak boleh mengambil keuntungan. Keuntungan merupakan salah satu hal yang dianjurkan dalam suatu aktivitas ekonomi. Namun yang dilarang dalam Islam adalah mengambil keuntungan yang berlebihan apalagi sampai merugikan orang banyak, misal dengan melakukan penimbunan –untuk menciptakan kelangkaan barang- untuk mendapat harga yang berlipat ganda.

Setelah membahas landasannya, sekarang kita membahas mengenai tiang dari ekonomi Islam, yang terdiri atas multitype ownership (kepemilikan multi jenis), freedom to act (kebebasan berusaha), dan social justice (kesejahteraan sosial).

Multitype ownership, Islam mengakui jenis-jenis kepemilikan yang beragam. Dalam ekonomi kapitalis, kepemilikan yang diakui hanyalah kepemilikan individu semata yang bebas tanpa batasan. Sedangkan dalam ekonomi sosialis, hanya diakui kepemilikan bersama atau kepemilikan oleh negara, dimana kepemilikan individu tidak diakui dan setiap orang mendapatkan imbal jasa yang sama rata. Dalam Islam kedua-dua kepemilikan diakui berdasarkan batasan-batasan yang sesuai dengan ajaran Islam. Oleh karenanya Islam mengakui adanya kepemilikan yang bersifat individu, namun tetap ada batasan-batasan syariat yang tidak boleh dilanggar –seperti akumulasi modal yang hanya menumpuk di sekelompok golongan semata-. Kepemilikan individu dalam Islam sangat dijunjung tinggi, akan tetapi tetap ada batasan yang membatasi agar tidak ada pihak lain yang dirugikan karena kepemilikan individu tersebut. Pemilikan dalam ekonomi Islam adalah:

  1. Pemilikan terletak pada kemanfaatannya dan bukan menguasai secara mutlak terhadap sumber-sumber ekonomi.
  2. Pemilikan terbatas sepanjang usia hidup manusia di dunia, dan bila orang tersebut meninggal harus didistribusikan kepada ahli warisnya menurut ketentuan Islam
  3. Pemilikan perorangan tidak dibolehkan terhadap sumber-sumber ekonomi yang menyangkut kepentingan umum atau menjadi hajat hidup orang banyak, sumber-sumber ini menjadi milik umum atau negara.

Economic Freedom, dalam ekonomi Islam setiap manusia bebas melakukan aktivitas ekonomi apa saja, selama aktivitas ekonomi yang dilakukan bukan aktivitas ekonomi yang dilarang dalam kerangka yang Islami. Hal ini berbeda dengan ekonomi kapitalis yang tidak terdapat pembatasan dalam kebebasan beraktivitas, sehingga terjadi kebebasan yang terlalu berlebihan bahkan menyebabkan tertindasnya pihak lain, dalam ekonomi kapitalis berlaku hukum rimba dimana yang terkuatlah yang dapat menguasai semuanya termasuk sumber daya modal dan alam. Hal ini berakibat teraniayanya hak orang lain diakibatkan kebebasan tanpa batasan. Dan tidak juga seperti ekonomi sosialis yang terlalu membatasi kebebasan beraktivitas seseorang, sehingga cenderung menghilangkan kreativitas dan produktivitas umat. Pembatasan yang terlalu berlebihan terhadap aktivitas ekonomi menyebabkan stagnasi dalam produktivitas.

Social justice (social welfare), dalam Islam konsep ini bukanlah charitable -bukan karena kebaikan hati kita-. Dalam Islam, walaupun harta yang kita dapat berasal dari usaha sendiri secara halal, tetap saja terdapat hak orang lain di dalamnya. Sebab kita tidak mungkin mendapatkan semuanya tanpa bantuan orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karenanya Islam mewajibkan zakat dan voluntary sector (infak, sadaqah, wakaf, dan hibah) agar terjadi pemerataan dalam distribusi pendapatan. Namun pemerataan disini bukan berarti sama rata, sama rasa, melainkan yang sesuai dengan bagiannya. Instrumen zakat adalah salah satu instrumen pemerataan yang pertama dibandingkan dengan suatu sistem jaminan sosial di Barat. Selain itu kerjasama (cooperative) merupakan karakter dalam masyarakat ekonomi Islami versus kompetisi bebas dari masyarakat kapitalis dan kediktatoran ekonomi marxisme.

Kerjasama ekonomi harus dilaksanakan dalam semua tingkat kegiatan ekonomi, produksi, distribusi barang maupun jasa. Salah satu bentuk kerjasama dalam ekonomi Islam adalah qirad. Qirad adalah kerjasama antara pemilik modal atau uang dengan pengusaha pemilik keahlian atau keterampilan atau tenaga dalam pelaksanaan unit-unit ekonomi atau proyek usaha. Yang terakhir adalah atap dari rancang bangun ekonomi Islam itu sendiri yaitu akhlak yang menjadi perilaku Islami dalam perekonomian. Atau bisa juga dalam kaitannya dengan ekonomi bisa diartikan sebagai suatu etika yang harus ada dalam setiap aktivitas ekonomi. Teori dan prinsip ekonomi yang kuat belumlah cukup untuk membangun kerangka ekonomi yang kuat. Namun harus dilengkapi dengan akhlak. Dengan akhlak ini, manusia dalam menjalankan aktivitasnya tidak akan sampai merugikan orang lain dan tetap menjaga sesuai dengan syariah. Akhlak yang mulia mampu menuntun umat dalam aktivitas ekonominya tidak merugikan pihak lain, misalnya dengan tidak melakukan gharar, maysir, dan riba.

Sebab teori yang unggul dan sistem ekonomi yang sesuia dengan syariah sama sekali bukan jaminan secara otomatis akan memajukan perekonomian umat. Sistem ekonomi Islami hanya memastikan tidak adanya transaksi yang bertentangan dengan syariat. Kinerja ekonomi sangat tergantung pada siapa yang ada di belakangnya. Baik buruknya perilaku bisnis para pengusaha menentukan sukses dan gagalnya bisnis yang dijalankan. Dengan melihat pengertian di atas dapat kita tarik beberapa pengertian yaitu: Pertama, Ekonomi Islam sebagai ilmu adalah merupakan landasan dari rancang bangun ini. Kedua, Ekonomi Islam sebagai suatu sistem atau Sistem Ekonomi Islam adalah yang menjadi tiang dari rancang bangun. Dan Ketiga, Ekonomi Islam sebagai suatu perekonomian atau Perekonomian Islam adalah yang kita sebut sebagai atapnya.

  1. E.     Metodologi Ekonomi Islam

Setiap sistem ekonomi pasti didasarkan atas ideologi yang memberikan landasan dan tujuannya, di satu pihak, dan aksioma-aksioma serta prinsip-prinsipnya di lain pihak. Proses yang diikuti dengan seperangkat aksioma dan prinsip yang dimaksudkan untuk lebih mendekatkan tujuan sistem tersebut merupakan landasan sistem tersebut yang bisa diuji. Setiap sistem ekonomi membuat kerangka dimana suatu komunitas sosio-ekonomik dapat memanfaatkan sumber-sumber alam dan manusiawi untuk kepentingan produksi dan mendistribusikan hasil-hasil produksi ini untuk kepentingan konsumsi. Validitas sistem ekonomi dapat diuji dengan konsistensi internalnya, kesesuainnya dengan berbagai sistem yang mengatur aspek-aspek kehidupan lainnya, dan kemungkinannya untuk berkembang dan tumbuh.

Suatu sistem untuk mendukung ekonomi Islam seharusnya diformulasikan berdasarkan pandangan Islam tentang kehidupan. Berbagai aksioma dan prinsip dalam sistem seperti itu seharusnya ditentukan secara pasti dan proses fungsionalisasinya seharusnya dijelaskan agar dapat menunjukkan kemurnian dan aplikabilitasnya. Namun demikian perbedaan yang nyata seharusnya ditarik antara sistem ekonomi Islam dan setiap tatanan yang bersumber padanya. Dalam literatur Islam mengenai ekonomi, sedikit perhatian sudah diberikan kepada masalah ini, namun pembahasan yang ada tentang ekonomi Islam masih terbatas pada latar belakang hukumnya saja atau kadang-kadang disertai dengan beberapa prinsip ekonomi dalam Islam. Kajian mengenai prinsip-prinsip ekonomi itu hanya sedikit menyinggung mengenai sistem ekonomi.

Selain itu, suatu pembedaan harus ditarik antara bagian dari fiqih Islam yang membahas hukum dagang (fiqh muamalah) dan ekonomi Islam. Bagian yang disebut pertama menetapkan kerangka di bidang hukum untuk kepentingan bagian yang disebut belakangan, sedangkan yang disebut kemudian mengkaji proses dan penanggulangan kegiatan manusia yng berkaitan dengan produksi, distribusi dan konsumsi dalam masyarakat muslim. Tidak adanya pembedaan antara fiqh muamalah dan ekonomi Islam merupakan salah satu kesalahan konsep dalam literatur mengenai ekonomi Islam, sehingga seringkali suatu teori ekonomi berubah menjadi pernyataan kembali mengenai hukum Islam. Hal lain yang tidak menguntungkan dalam pembahasan ekonomi Islam dengan fiqh muamalah adalah menyebabkan terpecah-pecahnya dan kehilangan keterkaitan menyeluruhnya dengan teori ekonomi.

Kajian tentang sejarah sangat penting bagi ekonomi, karena sejarah adalah laboratorium umat manusia. Ekonomi, sebagai salah satu ilmu sosial perlu kembali kepada sejarah agar dapat melaksanakan eksperimen-eksperimennya dan menurunkan kecenderungan jangka jauh dalam berbagai ubahan ekonomiknya. Sejarah memberikan dua aspek utama kepada ekonomi, yaitu sejarah pemikiran ekonomi dan sejarah unit-unit ekonomi seperti individu-individu, badan-badan usaha dan ilmu ekonomi. Kajian tentang sejarah pemikiran ekonomi dalam Islam seperti itu akan membantu menemukan sumber-sumber pemikiran ekonomi Islam kontemporer di satu pihak dan di pihak lain akan memberi kemungkinan kepada kita untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai perjalanan pemikiran ekonomi Islam selama ini. Kedua-duanya akan memperkaya ekonomi Islam kontemporer dan membuka jangkauan lebih luas bagi konseptualisasi dan aplikasinya.

Namun terdapat dua bahaya dalam mengkaji tentang sejarah pemikiran ekonomi Islam, yaitu pertama, bahaya terlalu kaku dan taqlid antara teori dan aplikasinya, dimana terlalu kaku menggunakan patokan berdasarkan aplikasi yang terdapat pada masa terdahulu dan kurang melakukan inovasi dan pengembangan teori yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah serta kurang aplikatifnya teori berdasarkan situasi dan kondisi yang berbeda. Kedua, pembatasan teori dengan sejarahnya. Bahaya kedua ini muncul ketika para ahli ekonomi Islam menganggap pengalaman historik itu mengikat bagi kurun waktu sekarang. Hal ini tercermin dalam ketidakmampuan para ekonom Islam untuk mengancang Al-Qur’an dan Sunnah itu secara langsung, yang pada gilirannya menimbulkan teori ekonomi Islam yang hanya bersifat historik dan tidak bersifat ideologik. Literatur Islam yang ada sekarang mengenai ekonomi mempergunakan dua macam metode, yaitu metode deduksi dan metode pemikiran retrospektif. Metode pertama dikembangkan oleh para ahli ekonomi Islam dan fuqaha. Metode pertama diaplikasikan terhadap ekonomi Islam modern untuk menampilkan prinsip-prinsip sistem Islam dan kerangka hukumnya dengan berkonsultasi dengan sumber-sumber Islam, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Metode kedua dipergunakan oleh banyak penulis muslim kontemporer yang merasakan tekanan kemiskinan dan keterbelakangan di dunia Islam dan berusaha mencari berbagai pemecahan terhadap persoalan-persoalan ekonomi umat muslim dengan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah untuk mencari dukungan atas pemecahan-pemecahan tersebut dan mengujinya dengan memperhatikan petunjuk Tuhan.

  1. F.     Hukum Ekonomi Islam
  2. 1.      Hakikat Hukum Ekonomi

Hukum ekonomi adalah pernyataan mengenai kecenderungan suatu pernyataan hubungan sebab akibat antara dua kelompok fenomena. Semua hukum ilmiah adalah hukum dalam arti yang sama. Tetapi, hukum-hukum ilmu ekonomi tidak bisa setepat dan seakurat seperti dalam hukum ilmu-ilmu pengetahuan alam (eksak). Hal ini disebabkan oleh alasan-alasan berikut: Pertama, ilmu ekonomi adalah ilmu pengetahuan sosial, dengan demikian harus  mengendalikan banyak orang yang dikendalikan oleh banyak motif. Kedua, data ekonomi tidak saja banyak jumlahnya, tetapi data itu sendiri bisa berubah. Ketiga, banyak faktor yang tidak dapat diketahui dalam situasi tertentu.

“Hukum-hukum ekonomi”, tulis Seligman dalam karyanya Principles of Economics, “pada hakikatnya bersifat hipotetik”. Semua hukum ekonomi memuat isi anak kalimat bersyarat sebagai berikut “hal-hal lain diasumsikan sama keadaannya (ceteris paribus)”, yakni anggapan bahwa dari seperangkat fakta-fakta tertentu, akan menyusul kesimpulan-kesimpulan tertentu jika tidak terjadi perubahan pada faktor-faktor lain pada waktu yang bersamaan. Hal ini berbeda dengan hukum pada ilmu eksak yang bisa dilakukan eksperimen tanpa perlu membuat suatu asumsi. Ilmu ekonomi, tidak seperti cabang-cabang ilmu pengetahuan sosial lainnya, mempunyai pengukur bersama dari motif-motif manusia dalam bentuk uang.

  1. 2.      Sumber Hukum Ekonomi Islam

Ada berbagai metode pengambilan hukum (istinbath) dalam Islam, yang secara garis besar dibagi atas yang telah disepakati oleh seluruh ulama dan yang masih menjadi perbedaan pendapat, dimana secara khusus hal ini dapat dipelajari dalam disiplin ilmu ushl fiqh. Metode pengambilan hukum atas suatu permasalahan dalam Islam ada bermacam-macam metode, namun dalam buku ini hanya akan dijelaskan metode pengambilan hukum yang telah disepakati oleh seluruh ulama, terdiri atas Al-qur’an, hadits & sunnah, ijma, dan qiyas.

  1. a.      Al-Qur’an

Sumber hukum Islam yang abadi dan asli adalah kitab suci Al- Qur’an. Al-Qur’an merupakan amanat sesungguhnya yang disampaikan Allah melalui ucapan Nabi Muhammad saw untuk membimbing umat manusia. Amanat ini bersifat universal, abadi dan fundamental. Pengertian Al-Qur’an adalah sebagai wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw (baik isi maupun redaksi) melalui perantaraan malaikat Jibril. Akan tetapi, terjadi salah pengertian di antara beberapa kalangan terpelajar Muslim dan non Muslim mengenai arti sebenarnya dari kitab suci Al Qur’an. Anggapan mereka bahwa Al Qur’an itu diciptakan oleh Nabi Muhammad saw dan bukan firman Allah SWT. Anggapan mereka ini salah besar, sebab Al Qur’an itu merupakan firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril. Lagipula tidak mungkin Nabi Muhammad saw yang tidak bisa baca dan tulis (ummi mampu menulis Al Qur’an yang bahasanya indah dan penuh dengan makna.

Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk menjadikan Al Qur’an itu sebagai pedoman hidup kita agar tidak tersesat dari jalan yang lurus. Pedoman hidup ini bukan saja hanya dalam ibadah ritual semata, melainkan juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengamalkan ilmu Allah itu, Allah akan mencurahkan rahmatnya kepada kaum tersebut. Dan alangkah beruntungnya umat Islam yang menjalankan syariat Islam dengan sungguh-sungguh dalam setiap aktivitas perekonomian akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sehingga dalam setiap penarikan dan pembuatan hukum ekonomi haruslah mencari rujukan terlebih dahulu di dalam Al-Qur’an apakah hal tersebut dilarang oleh syariah atau tidak. Apabila tidak ditemukan dalam Al-Qur’an mengenai hukum ekonomi yang ingin kita tarik kesimpulan, maka kita dapat mencarinya dalam sumber hukum Islam yang lain yaitu dalam Hadits dan Sunnah. Fungsi dan peranan Al-Qur’an yang merupakan wahyu Allah adalah sebagai mu’jizat bagi Rasulullah saw; pedoman hidup bagi setiap muslim; sebagai korektor dan penyempurna terhadap kitab-kitab Allah yang sebelumnya; dan bernilai abadi serta universal yang dapat diaplikasikan oleh seluruh umat manusia.

  1. b.      Hadits dan Sunnah

Dalam konteks hukum Islam, sunnah yang secara harfiah berarti “cara, adat istiadat, kebiasaan hidup” mengacu pada perilaku Nabi Muhammad saw yang dijadikan teladan. Sunnah sebagian besar didasarkan pada praktek normatif masyarakat di jamannya. Pengertian sunnah mempunyai arti tradisi yang hidup pada masing-masing generasi berikutnya. Suatu sunnah harus dibedakan dari hadits yang biasanya merupakan cerita singkat, pada pokoknya berisi informasi mengenai apa yang dikatakan, diperbuat, disetujui, dan tidak disetujui oleh Nabi Muhammad saw, atau informasi mengenai sahabat-sahabatnya. Hadits adalah sesuatu yang bersifat teoritik, sedangkan sunnah adalah pemberitaan sesungguhnya.

Hadits dan sunnah ini hadir sebagai tuntunan pelengkap setelah Al Qur’an yang menjadi pedoman hidup umat Muslim dalam setiap tingkah lakunya. Dan menjadi sumber hukum dari setiap pengambilan keputusan dalam ilmu ekonomi Islam. Hadits dapat menjadi pelengkap serta penjelas mengenai hukum ekonomi yang masih bersifat umum maupun yang tidak terdapat di Al-Qur’an. Hubungan sunnah dengan Al-Qur’an yaitu : (1) bayan tafsir, dimana sunnah menerangkan ayat-ayat yang sangat umum, mujmal dan musytarak; (2) bayan taqriri, yaitu sunnah berfungsi untuk memperkokoh dan memperkuat pernyataan dalam ayat-ayat Al-Qur’an; (3) bayan taudih, sunnah menerangkan maksud dan tujuan sesesuatu ayat dalam Al-Qur’an. Berdasarkan kualitas sanad maupun matan hadits mempunyai tingkatan dari shahih, hasan dan dhaif. Dan berdasarkan jumlah perawi hadits mempunyai tingkatan dari mutawatir dan ahad

  1. c.       Ijma

Ijma yang sebagai sumber hukum ketiga merupakan konsensus baik dari masyarakat maupun dari cendekiawan agama. Perbedaan konseptual antara sunnah dan ijma terletak pada kenyataan bahwa sunnah pada pokoknya terbatas pada ajaran-ajaran Nabi dan diperluas pada sahabat karena mereka merupakan sumber bagi penyampaiannya. Sedangkan ijma adalah suatu prinsip hukum baru yang timbul sebagai akibat dari penalaran atas setiap perubahan yang terjadi di masyarakat, termasuk dalam bidang ekonomi.

Ijma merupakan faktor yang paling ampuh dalam memecahkan kepercayaan dan praktek rumit kaum Muslimin. Ijma ini memiliki kesahihan dan daya fungsional yang tinggi setelah Al Qur’an dan Hadits serta sunnah. Karena merupakan hasil konsensus bersama para ulama yang ahli di bidangnya, sehingga ijma hanya dapat diakui sebagai suatu hukum apabila telah disepakati oleh para ulama yang ahli. Akan tetapi ada beberapa pihak yang seringkali meragukan hasil ijma ulama, dan lebih cenderung mempercayai hasil pengambilan hukum oleh sendiri meskipun pengambilan hukum tersebut seringkali salah. Hal inilah yang saat ini banyak terjadi, dimana perkembangan pemikiran yang timbul banyak yang bertentangan dengan prinsip syariah.

  1. d.      Ijtihad dan Qiyas

Secara teknik, ijtihad berarti meneruskan setiap usaha untuk menentukan sedikit banyaknya kemungkinan suatu persoalan syariat. Pengaruh hukumnya ialah bahwa pendapat yang diberikannya mungkin benar, walaupun mungkin juga keliru. Maka ijtihad mempercayai sebagian pada proses penafsiran dan penafsiran kembali, dan sebagian pada deduksi analogis dengan penalaran. Di abad-abad dini Islam, Ra’y (pendapat pribadi) merupakan alat pokok ijtihad. Tetapi ketika asas-asas hukum telah ditetapkan secara sistematik, hal itu kemudian digantikan oleh qiyas. Terdapat bukti untuk menyatakan bahwa kebanyakan para ahli hukum dan ahli teologi menganggap qiyas sah menurut hukum tidak hanya aspekl intelektual, tetapi juga dalam aspek syariat. Peranan qiyas adalah memperluas hukum ayat kepada permasalahan yang tidak termasuk dalam bidang syarat-syaratnya, dengan alasan sebab ”efektif” yang biasa bagi kedua hal tersebut dan tidak dapat dipahami dari pernyataan (mengenai hal yang asli). Menurut para ahli hukum, perluasan undang-undang melalui analogi tidak membentuk ketentuan hukum yang baru, melainkan hanya membantu untuk menemukan hukum.

 

  1. G.                Kesimpulan

Ekonomi Islam dapat didefinisikan sebagai suatu prilaku individu muslim dalam setiap aktivitas ekonomi syariahnya harus sesuai dengan tuntunan syariat Islam dalam rangka mewujudkan dan menjaga maqashid syariah (agama, jiwa, akal, nasab, dan harta). Pola berpikir ekonomi konvensional yang tanpa nilai telah menyebabkan ilmu ekonomi ini  menjadi suatu ilmu yang digunakan untuk memenuhi tuntutan nafsu manusia semata tanpa ada aturan yang jelas, serta melegalkan terjadinya eksploitasi dalam kegiatan ekonomi yang terjadi. Kemudian tampillah beberapa mazhab ekonomi konvensional baru untuk memasukkan aspek-aspek normatif, sosial, dan institusional prilaku manusia dalam model-model ekonominya. Namun semua ini mengalami masalah karena mereka sulit untuk menemukan standar nilai yang dapat disepakati secara luas oleh seluruh kalangan.

Para ekonom muslim perlu mengembangkan suatu ilmu yang khas yang berlandaskan atas nilai-nilai iman dan Islam yang sejati. Rancang bangun ekonomi Islam terdiri atas dasar (yang terdiri atas: tauhid, adil, nubuwwah, khilafah, dan ma’ad), tiang (terdiri atas multitype ownership, freedom to act, dan social justice), dan terakhir adalah atapnya yaitu akhlak.

 

Keywords

Adil

Akhlak

Akidah

Al’quran

Freedom to act

Hadits & sunnah

Ijma

Ijtihad & qiyas

Islamic Economics

Khilafah

Ma’ad

Maqashid-syariah

Multitype ownership

Nubuwwah

Social justice

Faktor-faktor produksi

Kelangkaan (scarcity)

Mazhab iqtishaduna

Mazhab mainstream

Mazhab alternatif-kritis

Opportunity cost

Production possibilities frontier

Pilihan (choice)


[1] Karl E Case dan Ray C Fair . Prinsip-prinsip Ekonomi Mikro. Penerjemah Benyamin Molan (Jakarta: Pearson Education Asia), h. 8.

[2] Ibid., h. 8

[3]Mohamed Asalam Haneef, Contemporary Islamic Economic Thought: A Selected Comparative Analysis, Kuala Lumpur: S. Abdul Majeed & Co., 1995, h. 11

[4] Heri Sudarsono, Konsep Ekonomi Islam: Suatu Pengantar, Yogyakarta: Ekonisia, 2002, h. 149. Penulis buku ini mengkompilasi dari sumber M.N. Siddiqi (1995), M. Aslam Haneef (1995), Adiwarman Karim (2001)

[5]M. Dawam Rahardjo, Islam dan Transformasi Sosial Ekonomi, Jakarta: LSAF, 1999, h. 3-4

[6] Monzer Kahf, The Islamic Economy, Plainfield: Muslim Student Association (US-Canada), 1978, h. 18.

[7]Monzer Kahf, The Islamic Economy: Analytical  Study of  the Functioning od the Islamic Economic System, (T.tt.: Plainfield In Muslim Studies Association of U.S and Canada, 1978), h. 16. Lihat juga Euis Amalia, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta, Pustaka Asatruss, 2005, h.275.

[8]M. Umar Chapra,  The Future of Economics: an Islamic Perspektive, Jakarta: SEBI, 2001

[9]Hasanuzzaman, “Definition of Islamic Economics” dalam Jurnal of Research in Islamic Economics, Vol 1 No. 2, 1984.

[10]Muhammad N. Siddiqi, Muslim Economic Thinking: A Survey of Contemporary Literature. Jeddah and The Islamic Foundation, 1981.

[11]Syed Nawab Haider naqvi, Etika dan Ilmu Ekonomi: Suatu Sintesis Islami,  Bandung : Mizan, 1985

[12] M. Abdul Mannan, Islamic Economics: Theory and Practice., Delhi.Sh. M. Ashraf, 1970. Lihat juga M.A Mannan, The Making of an Islamic Economic Society, Cairo, 1984.

[13]M.M. Metwally, Teori dan Model Ekonomi Islam. Jakarta: Bangkit Daya Insana, 1995

[14] ibid.

[15] Tim P3EI UII dan BI, Ekonomi Islam (Jakarta: Rajagrafindo Pers, 2008), h. 32.

[16]Terhadap permasalahan ini antara lain dibahas oleh  M. A. Mannan , “The Behaviour of Firm and Its Objectives in an Islamic Framework”, dalam Tahir, Sayyed (at al, ed.) Readings in Microeconomics: an Islamic Perspective (Malyasia: Longman,1992).  dan Metwally, Essays on Islamic Economics (Kalkuta: Academic Publishers, 1993). Lihat  Metwally, Teori dan Model Ekonomi Islam, Edisi Pertama (Jakarta: PT Bangkit Insani, 1997). LIhat juga M. Umar Chapra, The Future of Economics; an Islamic Perspectif (Leicester UK: Islamic Foundation, 2001).

[17] Ketika prilaku rasional ekonomi diartikan sebagai upaya untuk mewujudkan materi semata, maka perilaku etis dipandang sebagai perilaku yang tidak rasional dan karenanya dikeluarkan dari pokok bahasan ilmu ekonomi.Ekonomi Islam mempelajari perilaku ekonomi pelaku ekonomi yang rasional Islami berdasarkan masla­hah. Oleh karena itu, standar moral suatu perilaku ekonomi didasarkan pada ajaran Islam dan bukan semata-mata didasarkan atas nilai-nilai yang dibangun oleh kesepakatan sosial. Moralitas Islam ini tidak diposisikan sebagai suatu batasan ilmu ekonomi, justru sebagai pilar atau patokan dalam menyusun ekonomi Islam.

[18] Murasa Sarkaniputra, Ruqyah Syar’iyyah: Teori, Model, dan Sistem Ekonomi, Jakarta: al Ishlah Press & STEI, 2009, h. 112-113.

[19] Mausudul Alam Choudury, Contributions to Islamic Economic Theory, New York : St Martin’s Press, 1988, 59-61.

[20]M. A. Mannan, Op. Cit.

[21]Monzer Kahf, Ekonomi Islam : Telaah Analitik terhadap Fungsi Sistem Ekonomi Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.

[22]M. Umer Chapra, Islam dan Pembangunan Ekonomi, terjemahan Ikhwan Abidin, Jakarta: Gema Insani Press, 2000

[23] Sadono Sukirno, Pengantar Teori Mikroekonomi,Cet. 18 (Jakarta:  RajaGrafindo Persada, 2002), h. 5.

[24] Boediono. Ekonomi Mikro Cet. 18 (Yogyakarta: BPFE Yogyakarta, 1996), h. 7

[25] Ibid, h. 14

[26] Adiwarman A Karim. Ekonomi Mikro Islami. IIT-Indonesia. 2002, hal. 13

[27] Adiwarman A. Karim. Ekonomi Mikro Islami. IIT-Indonesia, 2002, hal. 17

SISTEM EKONOMI ISLAM/SYARIAH

Sistem Ekonomi Islam atau syariah sekarang ini sedang banyak diperbincangkan di Indonesia. Banyak kalangan masyarakat yang mendesak agar Pemerintah Indonesia segera mengimplementasikan sistem Ekonomi Islam dalam sistem Perekonomian Indonesia seiring dengan hancurnya sistem Ekonomi Kapitalisme.Makalah ini akan membahas tentang apa sistem ekonomi Islam/syariah itu.

Definisi Ekonomi Islam/Syariah menurut beberapa Ekonom Islam

  • Muhammad Abdul Mannan

“Ekonomi Islam merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam”.

  • M.M Metwally

“Ekonomi Islam dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari per4ilaku muslim (yang beriman) dalam suatu masyarakat Islam yang mengikuti Al Quran,Hadits Nabi,Ijma dan Qiyas”.

  • Hasanuzzaman

“Ilmu ekonomi Islam adalah pengetahuan dan aplikasi dari anjuran dan aturan syariah yang mencegah ketidakadilan dalam memperoleh sumber daya material sehingga tercipta kepuasan manusia dan memungkinkan mereka menjalankan perintah Allah dan masyarakat”.

Sejarah tentang Sistem Ekonomi Islam/Syariah

Dengan hancurnya komunisme dan sistem ekonomi sosialis pada awal tahun 90-an membuat sistem kapitalisme disanjung sebagai satu-satunya sistem ekonomi yang sahih. Tetapi ternyata, sistem ekonomi kapitalis membawa akibat negatif dan lebih buruk, karena banyak negara miskin bertambah miskin dan negara kaya yang jumlahnya relatif sedikit semakin kaya.

Dengan kata lain, kapitalis gagal meningkatkan harkat hidup orang banyak terutama di negara-negara berkembang. Bahkan menurut Joseph E. Stiglitz (2006) kegagalan ekonomi Amerika dekade 90-an karena keserakahan kapitalisme ini. Ketidakberhasilan secara penuh dari sistem-sistem ekonomi yang ada disebabkan karena masing-masing sistem ekonomi mempunyai kelemahan atau kekurangan yang lebih besar dibandingkan dengan kelebihan masing-masing. Kelemahan atau kekurangan dari masing-masing sistem ekonomi tersebut lebih menonjol ketimbang kelebihannya.

Karena kelemahannya atau kekurangannya lebih menonjol daripada kebaikan itulah yang menyebabkan muncul pemikiran baru tentang sistem ekonomi terutama dikalangan negara-negara muslim atau negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam yaitu sistem ekonomi syariah. Negara-negara yang penduduknya mayoritas Muslim mencoba untuk mewujudkan suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada Al-quran dan Hadist, yaitu sistem ekonomi Syariah yang telah berhasil membawa umat muslim pada zaman Rasulullah meningkatkan perekonomian di Zazirah Arab. Dari pemikiran yang didasarkan pada Al-quran dan Hadist tersebut, saat ini sedang dikembangkan Ekonomi Syariah dan Sistem Ekonomi Syariah di banyak negara Islam termasuk di Indonesia. Ekonomi Syariah dan Sistem Ekonomi Syariah merupakan perwujudan dari paradigma Islam. Pengembangan ekonomi Syariah dan Sistem Ekonomi Syariah bukan untuk menyaingi sistem ekonomi kapitalis atau sistem ekonomi sosialis, tetapi lebih ditujukan untuk mencari suatu sistem ekonomi yang mempunyai kelebihan-kelebihan untuk menutupi kekurangan-kekurangan dari sistem ekonomi yang telah ada. Islam diturunkan ke muka bumi ini dimaksudkan untuk mengatur hidup manusia guna mewujudkan ketentraman hidup dan kebahagiaan umat di dunia dan di akhirat sebagai nilai ekonomi tertinggi. Umat di sini tidak semata-mata umat Muslim tetapi, seluruh umat yang ada di muka bumi. Ketentraman hidup tidak hanya sekedar dapat memenuhi kebutuhan hidup secara melimpah ruah di dunia, tetapi juga dapat memenuhi ketentraman jiwa sebagai bekal di akhirat nanti. Jadi harus ada keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan hidup di dunia dengan kebutuhan untuk akhirat.

Tiga Prinsip Dasar Yang Menyangkut sistem ekonomi Syariah menurut Islam

  1. Tawhid, Prinsip ini merefleksikan bahwa penguasa dan pemilik tunggal atas jagad raya ini adalah Allah SWT.
  2. Khilafah, mempresentasikan bahwa manusia adalah khalifah atau wakil Allah di muka bumi ini dengan dianugerahi seperangkat potensi spiritual dan mental serta kelengkapan sumberdaya materi yang dapat digunakan untuk hidup dalam rangka menyebarkan misi hidupnya.
  3. ‘Adalah, merupakan bagian yang integral dengan tujuan syariah (maqasid al-Syariah). Konsekuensi dari prinsip Khilafah dan ‘Adalah menuntut bahwa semua sumberdaya yang merupakan amanah dari Allah harus digunakan untuk merefleksikan tujuan syariah antara lain yaitu; pemenuhan kebutuhan (need
    fullfillment), menghargai sumber pendapatan (recpectable source of earning), distribusi pendapatan dan kesejah-teraan yang merata (equitable distribution of income and wealth) serta stabilitas dan pertumbuhan (growth and stability).

Empat Ciri/Sifat Sistem Islam

  1. Kesatuan (unity)
  2. Keseimbangan (equilibrium)
  3. Kebebasan (free will)
  4. Tanggungjawab (responsibility)

 

Pandangan Islam Terhadap Persoalan Ekonomi

Menurut Para Ahli , perkataan “ekonomi” berasal dari bahasa yunani, Yaitu “Oicos” dan “Nomos” yang berarti rumah, dan nomos yang berarti aturan. Jadi ekonomi ialah aturan2 untuk menyelenggarakan kebutuhan hidup manusia dalam rumah tangga, baik rumah tangga rakyat (Volkshuishouding) maupun rumah tangga Negara (Staatshuishouding).

Dalam bahasa Arab dinamakan mu’amalah maddiyah sebagaimana ialah aturan2 tentang pergaulan dan perhubungan manusia mengenai kebutuhan hidupnya. Lebih tepat lagi dinamakan iqtishad.

Iqtishad ialah mengatur soal2 penghidupan manusia dengan sehemat-hematnya dan secermat-cermatnya.

Karena luasnya kaidah ekonomi, pembahasan ekonomi terbagi pada :

  1. Ekonomi sebagai usaha hidup dan pencarian manusia dinamakan economicsl life
  2. Ekonomi dalam rencana suatu pemerintahan dinamakan political economy
  3. Ekonomi dalam teori dan pengetahuan dinamakan economical science.

Dengan lengkapnya, soal-soal ekonomi ini disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW. dalam suatu hadits yang diriwayatkan Bukhari, Muslim, dan Nasai dari Zubair bin Awwam.

لِأَنَّ يَأْخُذَ أَحَدُ كُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِي بِحُزْمَةِ اْلحَطَيِ عَلىَ ظَهْرِهِ فَيَبِعَهَا فَيَكُفُّ اللهُ بِهَا وَجْهَهُ أَوْيَتَصَلّاَقُ بِهَا خَيْرٌلَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النّاَسَ أَعْطَوْهُ أَوْمَنَعُوْهُ

Artinya :

“seseorang yang membawa tali (pada pagi hari) berangkat mencari dan mengerjakan kayu bakar ke bukit-bukit, lalu menjualnya, memakannya, dan menyedekahkannya lebih baik daripada hidup meminta-minta kepada manusia lainnya.”

Dengan contoh yang sangat sederhana dan klasik, Nabi dapat menegaskan soal-soal ekonomi dan bagiannya:

  1. Mengerjakan kayu bakar berarti berusaha menambah produksi
  2. Berusaha menjualnya berarti mengerjakan distribusi (pembagian)
  3. Memakannya berarti memenuhi konsumsi (pemakaian)
  4. Menyedekahkan kepada orang lain berarti mengerjakan rencana sosial.

Sesuai pula dengan teori ekonomi tentang tingkatan kemajuan perekonomian bahwa pada mulanya masing-masing orang memborong sendiri pekerjaan segala rencana ekonomi ini. Setelah lapangan ekonomi meluas barulah tiap-tiap rencana tersendiri daripada rencana dikerjakan lainnya. Caranya ialah:

  1. Pada zaman purbakala setiap orang menjadi produsen (pengusaha) dan menjadi konsumen pula (pemakai). Setelah perhubungan manusia sedikit meluas, timbullah bagian yang ketiga, yaitu distributor (pembagi), golongan saudagar
  2. Pada mulanya manusia dapat mengerjakan sendiri ketiganya, yaitu mengusahakan (produsen), menjual (distributor), dan memakai (konsumen). Akan tetapi satu persatu kemudian berdiri sendiri dan dikerjakan oleh banyak orang (produsen sendiri, distributor sendiri, dan konsumen sendiri pula). Di zaman modern ini, lapangan ketiganya sangat luas. Rencana ekonomi banyak bercabang-cabang dan tiap-tiap cabang tidak lagi dikerjakan satu orang atau satu bangsa, tetapi memerlukan tenaga banyak orang atau berbagai Negara.[1]

Di ajarkanya bahwa segala pekerjaan untuk mencari rezeki yang halal merupakan amal yang paling mulia dan terhormat meskipun hanya memotong kayu dan menjualnya sekedar menghindari hidup mengemis.

Manusia tidak dapat lepas dari pergaulan bermuamalah. Oleh karena itu, Islam yang diturunkan untuk manusia, membawa suatu tuntutan dan system muaalah yang mengatur dengan rapi perhubungan dalam segala kebutuhan mereka. Ternyata, titik berat dari ajaran Islam diletakkan dalam soal muamalah. Di samping ajarannya yang pokok tentang keimanan dan ibadah kepada Tuhan, ajaran tentang muamalah untuk mengatur perhubungan manusia, tidak pula kurang pentingnya. Ukuran iman seorang muslim tidaklah cukup dengan ibadahnya belaka, tetapi soal muamalah, sosial dan ekonomi dijadikan pula oleh Nabi sebagai ukuran yang setepat-tepatnya bagi keimanan seorang muslim.

Ekonomi atau mu’amalah maddiyah sangat sukar, tetappi memegang peranan yang penting sekali, karena hubungan dengan benda dan uang yang sangat dicintai dan berkuasa di hati manusia. Ekonomi pula, manusia mencapai tingkatan yang paling lebih tinggi dari kemajuan dan kebahagiaan.

Memang, dalam agama Islam, ekonomi dan sosial sangat erat hubungannya karena eratnya pertalian antara kebutuhan dan rohaninya. Keduanya tidaklah dapat dipisahkan, saling berhubungan serta saling berkaitan, sehingga di suatu waktu menjadi satu. Dalam meninjau suatu persoalan dari sudut ekonomi, kita tidak dapat melepaskannya dari sudut sosial.

Materiel dan moral harus berjalan bersama-sama untuk mencapai susunan ekonomi sosial yang sehat dan terartur. Jika materiel berjalan sendiri, dan segala hubungan manusia hanya diukur dengan ukuran kebendaan belaka, sebagai hasilnya dengan susunan ekonomi dunia yang kapitalitas sekarang-niscaya hancurlah hubungan yang baik dan berubahlah sifat manusia dari moralitasnya yang mulia menjadi hewan yang sangat rendah. Begitu pula sebaliknya, moral yang berjalan sendiri tanpa disertai materiel, hilanglah pula kebutuhan hidup manusia yang sangat dihayatinya di dunia ini Misalnya, dalam membicarakan soal perburuhan, tidaklah dapat dipisahkan antara soal gaji dan segala kebutuhan materielnya. Yaitudari soal hak-hak dan kepentingan buruh yang mengenai soal moral baginya. Keduanya memiliki hubungan yang erat sekali, yaitu hubungan antara kepentingan ekonomi di perusahaan yang mengeluarkan produksi dengan kepentingan kaum buruh yang bekerja di dalamnya.

Oleh karena itu, Islam memberikan peringatan kepada seluruh manusia agar tidak memisahkan kebutuhan materiel dan kepentingan moral dan juga persoalan ekonomi dengan persoalan sosial. Memang, masing-masing mempunyai persoalan sendiri-sendiri. Soal ekonomi mempunyai persoalan yang banyak, demikian pula sosial. Akan tetapi, dalam prinsipnya, haruslah dipecahkan dan diselesaikan dengan perhitungan yang tepat atas dasar materiel dan moral yang sehat.


[1] Abdullah Zaky AlKaaf, Ekonomi dalam Perspektif Islam, (Pustaka setia: Bandung, 2002), Cet. 1, hlm. 18-20

Tafsir 1 Tentang Tujuan Pendidikan

PEMBAHASAN

1. Pengertian Tujuan Pendidikan

Tujuan adalah suatu yang diharapakan tercapai setelah sesuatu kegiatan selesai atau tujuan adalah cita, yakni suasana ideal itu nampak yang ingin diwujudkan. Dalam tujuan pendidikan, suasana ideal itu tampak pada tujuan akhir (ultimate aims of education). Adapun tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana individu hidup, selain sebagai arah atau petunjuk dalam pelaksanaan pendidikan, juga berfungsi sebagai pengontrol maupun mengevaluasi keberhasilan proses pendidikan.
Sebagai pendidikan yang notabenenya Islam, maka tentunya dalam merumuskan tujuan harus selaras dengan syari’at Islam. Adapun rumusan tujuan pendidikan Islam yang disampaikan beberapa tokoh adalah :
1. Al-attas (1979;1) menghendaki tujuan pendidikan Islam adalah manusia yang baik
2. Marimba (1964:39) berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya orang yang berkepribadian Muslim.
3. Al-Abrasyi (1974:15) menghendaki tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang berakhlak mulia.
4. Munir Mursyi (1977;18) menyatakan bahwa tujuan akhir pendidikan menurut Islam adalah manusia sempurna
5. Menurut Abdul Fattah Jalal (1988:119), tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Ia mengatakan bahwa tujuan ini akan mewujudkan tujuan-tujuan khusus.
6. Dr. Ali Ashraf; “tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang menyerahkan diri secara mutlak kepada Allah pada tingkat individu, masyarakat dan kemanusiaan pada umumnya”.

7. Muhammad Athiyah al-Abrasy. “the fist and highest goal of Islamic is moral refinment and spiritual, training” (tujuan pertama dan tertinggi dari pendidikan Islam adalah kehalusan budi pekerti dan pendidikan jiwa)”
8. Syahminan Zaini; “Tujuan Pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berjasmani kuat dan sehat dan trampil, berotak cerdas dan berilmua banyak, berhati tunduk kepada Allah serta mempunyai semangat kerja yang hebat, disiplin yang tinggi dan berpendirian teguh”.
Dari berbagai pendapat tentang tujuan pendidikan Islam diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta moral yang tinggi, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai anggota masyarakat.
2. Tafsir Ali Imran ayat 138-139
  ••              
Artinya :
138. (Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Ali Imran : 138)
139. Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Q.S. Ali Imran : 139)
Arti kata :
ini = هَذَا
penjelasan tentang akibat jelek yang mereka lakukan, berupa kebohongan = بَيَانٌ
Penambah penerang mata hati dan petunjuk kepada jalan agama lurus = وَهُدًى
Manusia = لِلنَّاسِ
Dan Pelajaran/suatu hal yang bias melunakkan hati dan mengajak = وَمَوْعِظَةٌ
berpegang kepada ketaatan yang ada padanya
Bagi Orang-orang Yang Bertakwa = لِلْمُتَّقِينَ
Dan Jangan bersikap lemah = تَهِنُوا وَلَا
Dan janganlah kamu bersedih hati = تَحْزَنُوا وَلَا

Penjelasan :
Surah Ali ‘Imran (Arab: آل عمران , Āli-‘Imrān, “Keluarga ‘Imran”) adalah surah ke-3 dalam al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah. Dinamakan Ali ‘Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran, ibu Nabi Isa. Surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut apa yang disampaikan Al-Qur’an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad dan sebagainya.
Ayat ini memerintahkan untuk mempelajari “sunnah” yakni kebiasaan-kebiasaan atau ketetapan lilahi dalam masyarakat. Sunatullah adalah kebiasaan –kebiasaan Allah dalam memperlakukan masyarakat. Perlu diingat bahwa apa yang dinamai hukum-hukum alampun adalah kebiasaan-kebiasaan yang dialami manusia menyangkut fenomena alam. Apa yang ditegaskan al-Qur’an ini dikonfirmasiakn oleh ilmuan : hukum-hukum alam sebagaimana hukum-hukum kemasyarakatan bersifat umum dan pasti. Tidak satupun di negeri manapun yang dapat terbebaskan dari sanksi bila melanggarnya. Hukum-hukum ini tidak memperingatkan siapa yang melanggarnya dan sanksinya pun membisu sebagaimana membisunya hukum itu sendiri. Masyarakat dan jenis manusia yang tidak membedakan antara yang haram dan halal akan terbentur oleh malapetaka ketercabikan, dan kematian. Ini semata-mata adalah sanksi otomatis, karena hukum alam/ kemasyarakatan : demikian tulis Alexic Carrel yang menamai huku-hukum kemasyarakatan dengan hukum-hukum alam/materi. Demikian juga terlihat bahwa kitab suci al-Qur’an adalah kitab pertama yang mengungkapkan adanya hukum-hukum yang mengatur kehidupan masyarakat. Tidak heran hal tersebut diungkapkan al-Qur’an, karena kitab suci itu berfungsi mengubah masyarakat dan mengeluarkan anggotanya dari kegelapan menuju terang benderang, dari kehidupan negative menuju kehidupan positif. Al-Qur’an memang adalah penerang bagi seluruh manusia, petunjuk, serta peringatan bagi orang-orang bertakwa.
Janganlah kamu bersikap lemah dan bersedih hati atas apa yang telah menimpamu dan luput darimu, karena kamu adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya. Akidahmu lebih tinggi karena kamu hanya bersujud kepada Allah saja, sedang mereka sujud kepada sesuatu dari makhluk Ciptaan-Nya. Manhaj kamulebih tinggi karena kamu berjalan menurut manhaj Allah, sedang mereka menempuh jalan kehidupan menurut manhaj yang dibuat oleh makhluk Allah. Peranan kamu lebih tinggi, karena kamu mengemban wasiat atas kemanusiaan seluruhnya, pembawa petunjuk kepada semua manusia, sedang mereka menyimpang dari manhaj Allah, tersesat dari jalan yang lurus. Kedudukanmu lebih tinggi karena kamu adalah pewaris bumi sebagaimana yang dijanjikan Allah, sedang mereka akan musnah dan dilupakan. Maka jika kamu benar-benar beriman, niscaya kamu adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya. Jika kamu benar-benar beriman, maka janganlah kamu merasa lemah dan bersedih hati, karena semua itu adalah Sunnah Allah, yang mungkin saja ditimpakan kepadamu dan mungkin saja ditimpakan kepada orang-orang lain. Akan tetapi hanya kamulah yang akan mendapatkan akibat yang baik setelah kamu berjihad dan berusaha keras, setelah mendapatkan ujian dan setelah mengalami pembersihan.
Ayat ini menghendaki agar kaum muslimin jangan bersifat lemah dan bersedih hati, meskipun mereka mengalami kekalahan dan penderitaan yang cukup pahit pada perang Uhud, karena kalah atau menang dalam sesuatu peperangan adalah soal biasa yang termasuk dalam ketentuan Allah. Yang demikian itu hendaklah dijadikan pelajaran. Kaum muslimin dalam peperangan sebenarnya mempunyai mental yang kuat dan semangat yang tinggi jika mereka benar-benar beriman.
Dapat juga dilihat dari sisi jalan dan hasil perang itu. Ketika mereka taat kepada Rasul, para pemanah tidak meninggalkan posisinya dan mereka berhasil menang serta mengkocar kacirkan kaum musyrik, bahkan membunuh dua orang lebih dari mereka. Tetapi ketika mereka melanggar perintah Rasul Saw, justru mereka yang kocar-kacir sehingga pada akhirnya gugur 70 orang lebih.

3. Tafsir Al-Fath : 29

                                                         • •  
Artinya :

29. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
[1406] Maksudnya: pada air muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati mereka.

Artikata :
dengan dia adalah keras = مَعَهُ أَشِدَّاءُ
berkasih sayang sesama mereka = رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
pahala = فَضْلًا
sifat orang-orang mukmin = مَثَلُهُمْ
Ajaib yang sesuai dengan yang dikatakan dalam perumpamaan-perumpamaan tentang keindahannya.
kamu lihat mereka ruku’ = تَرَاهُمْ رُكَّعًا
Penjelasan :
Seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya itulah citra islam sejak dari permulaan kebangkitannya, bertambah lama bertambah banyak pengikutnya hingga ia menjadi kuat dan mengagumkan/tidak ubahnya dengan tunas yang tumbuh pada pokoknya. Hal demikian menjengkelkan hati orang-orang kafir.
Setelah Allah SWT. menyebutkan bahwa Dia mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama Islam, supaya Dia meluhurkan derajat agama tersebut atas semua agama-agama yang lain, maka dilanjutkan dengan menerangkan ihwal rasul dan umat yang kepada mereka ia diutus. Allah menggambarkan mereka dengan sifat-sifat yang seluruhnya terpuji dan merupakan peringatan bagi generasi sesudah mereka dan sifat-sifat itulah mereka dapat menguasai bangsa-bangsa lain dan memiliki negeri-negeri mereka, bahkan menggenggam tampuk kepemimpinan seluruh dunia. Yaitu :
1. Bahwa mereka bersikap keras terhadap siapa pun yang menentang agama-Nya, dan mengajak bermusuhan, dan bersifat belas kasih sesame mereka.
2. Bahwa mereka menjadikan salat dan keikhlasan kepada Allah sebagai kebiasaan mereka pada kebanyakan waktu.
3. Bahwa mereka dengan amal mereka mengharapkan pahala dari Tuhan mereka dan kedekatan-Nya serta keridaan dari-Nya.
4. Bahwa mereka mempunyai tanda yang dengan itu mereka mudah dikenal. Yakni bahwa mereka bercahaya pada wajah mereka, khuyu’ dan tunduk yang bias dikenali oleh orang yang cerdas.
5. Bahwa Injil mengumpamakan keadaan mereka dengan mengatakan, akan muncul suatu kaum yang akan tumbuh bagaikan tumbuhnya tanaman, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran.
Bahwasanya pada permulaan Islam orang-orang mukmin jumlahnya sedikit saja. Kemudian mereka semakin banyak dan semakin teratur dan hari demi hari semakin meningkat sehingga membuat orang-orang kagum terhadap mereka Nabi saw. berdakwah sendirian. Kemudian Allah memperkuat dengan orang-orang yang ada bersamanya sebagaimana diperkuatnya benih yang pertama dari suatu tanaman dengan hal-hal yang keluar padanya.
Surah Al-Fath (Arab: الفتح , “Kemenangan”) adalah surah ke-48 dalam al-Qur’an. Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 29 ayat. Dinamakan Al-Fath yang berarti Kemenangan diambil dari perkataan Fat-han yang terdapat pada ayat pertama surah ini. Sebagian besar dari ayat-ayat surah ini menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan kemenangan yang dicapai Nabi Muhammad SAW. dalam peperangannya.
Nabi Muhammad SAW sangat gembira dengan turunnya ayat pertama surat ini. Kegembiraan ini dinyatakan dalam sabda beliau yang diriwayatkan Sahih Bukhari; Sesungguhnya telah diturunkan kepadaku satu surat, yang surat itu benar-benar lebih aku cintai dari seluruh apa yang disinari matahari. Kegembiraan Nabi Muhammad SAW itu ialah karena ayat-ayatnya menerangkan tentang kemenangan yang akan diperoleh Muhammad SAW. dalam perjuangannya dan tentang kesempurnaan nikmat Allah kepadanya.
4. Kandungan Al-Qur’an Surat al-Dzariyat [51] ayat 56

      
Artinya :
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. ” (Q.S. al-Dzariyat [51] : 56
Arti kata :

aku tidak menciptak jin = خَلَقْتُ الْجِنَّ
dan manusia وَالْإِنسَ =
melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku = . إِلاّلِيَعْبُدُونِ

Penjelasan :
Surah Az-Zariyat (Arab: الذاريات ,”Angin Yang Menerbangkan”) adalah surah ke-51 dalam al-Qur’an. Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 60 ayat. Dinamakan Az-Zariyat yang berarti Angin Yang Menerbangkan diambil dari perkataan Az-Zariyat yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Ayat ini dengan sangat jelas mengabarkan kepada kita bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain hanyalah untuk “mengabdi” kepada Allah SWT. Dalam gerak langkah dan hidup manusia haruslah senantiasa diniatkan untuk mengabdi kepada Allah. Tujuan pendidikan yang utama dalam Islam menurut Al-Qur’an adalah agar terbentuk insan-insan yang sadar akan tugas utamanya di dunia ini sesuai dengan asal mula penciptaannya, yaitu sebagai abid. Sehingga dalam melaksanakan proses pendidikan, baik dari sisi pendidik atau anak didik, harus didasari sebagai pengabdian kepada Allah SWT semata.
Mengabdi dalam terminologi Islam sering diartikan dengan beribadah. Ibadah bukan sekedar ketaatan dan ketundukan, tetapi ia adalah satu bentuk ketundukan
dan ketaatan yang mencapai puncaknya akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi. Ibadah juga merupakan dampak keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang tidak terjangkau dan tidak terbatas. Ibadah dalam pandangan ilmu Fiqh ada dua yaitu ibadah mahdloh dan ibadah ghoiru mahdloh. Ibadah mahdloh adalah ibadah yang telah ditentukan oleh Allah bentuk, kadar atau waktunya seperti halnya sholat, zakat, puasa dan haji. Sedangkan ibadah ghoiru mahdloh adalah sebaliknya, kurang lebihnya yaitu segala bentuk aktivitas manusia yang diniatkan untuk memperoleh ridho dari Allah SWT.
Pokok-Pokok Isi
– Keimanan
• Bagaimana keadaan orang-orang yang beriman di dalam syurga sebagai balasan ketaatan bagi orang yang bertakwa
• Manusia dan jin dijadikan Allah untuk beribadah kepada-Nya
• Allah sebagai pemberi rezki
• Neraka sebagai balasan bagi orang- orang kafir
– Hukum-hukum
• Larangan mempersekutukan Allah dengan selain-Nya
• Perintah berpaling dari orang-orang musyrik yang berkepala batu dan memberikan peringatan dan pengajaran kepada orang-orang mukmin
• Pada harta kekayaan seseorang terdapat hak orang miskin
Manusia diciptakan oleh Allah SWT agar menyembah kepadanya. Kata menyembah sebagai terjemahan dari lafal ‘abida-ya’budu-‘ibadatun (taat, tunduk, patuh). Beribadah berarti menyadari dan mengaku bahwa manusia merupakan hamba Allah yang harus tunduk mengikuti kehendaknya, baik secara sukarela maupun terpaksa.
• Ibadah muhdah (murni), yaitu ibadah yang telah ditentukan waktunya, tata caranya, dan syarat-syarat pelaksanaannya oleh nas, baik Al Qur’an maupun hadits yang tidak boleh diubah, ditambah atau dikurangi. Misalnya shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya.
• Ibadah ‘ammah (umum), yaitu pengabdian yang dilakuakn oleh manusia yang diwujudkan dalam bentuk aktivitas dan kegiatan hidup yang dilaksanakan dalam konteks mencari keridhaan Allah SWT
Jadi, setiap insan tujuan hidupnya adalah untuk mencari keridhaan Allah SWT, karena jiwa yang memperoleh keridhaan Allah adalah jiwa yang berbahagia, mendapat ketenangan, terjauhkan dari kegelisahan dan kesengsaraan bathin. Sedangkan diakhirat kelak, kita akan memperoleh imbalan surga dan dimasukkan dalam kelompok hamba-hamba Allah SWT yang istimewa. Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi :
 • •      •       • 
Artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhainya. Maka masuklah dalam jamaah hamba-hambaku. Dan masuklah ke dalam surgaku.” (QS Al Fajr : 27-30)
Selama hidup di dunia manusia wajib beribadah, menghambakan diri kepada Allah. Seluruh aktivitas hidupnya harus diarahkan untuk beribadah kepadanya. Islam telah memberi petunjuk kepada manusia tentang tata cara beribadah kepada Allah. Apa-apa yang dilakukan manusia sejak bangun tidur samapai akan tidur harus disesuaikan dengan ajaran Islam.
Jin dan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT mempunayi tugas pokok di muka bumi, yaitu untuk mengabdi kepada Allah SWT. Pengabdian yang dikehendaki oleh Allah SWT adlah bertauhid kepadanya, yakni bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Jin dan manusia wajib mengesakan Allah dalam segala situasi dan kondisi, baik dalam keadaan suka maupun duka.
Petunjuk Allah hanya akan diberikan kepada manusia yang taat dan patuh kepada Allah dan rasulnya, serta berjihad dijalannya. Taat kepada Allah dibuktikan dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Taat kepada rasul berarti bersedia menjalankan sunah-sunahnya. Kesiapan itu lalu ditambah dengan keseriusan berjihad, berjuang di jalan Allah dengan mengorbankan harta, tenaga, waktu, bahkan jiwa.

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari uraian dan penjelasan di atas, pemakalah menyimpulkan :
1. Tujuan utama dalam pendidikan Islam adalah membentuk pribadi muslim yang sadar akan tujuan asal mula penciptaannya, yaitu sebagai abid (hamba). Sehingga dalam melaksanakan proses pendidikan, baik dari sisi pendidik atau anak didik, harus didasari sebagai pengabdian kepada Allah SWT semata, selain itu dalam setiap gerak langkahnya selalu bertujuan memperoleh ridho dari Yang Maha Kuasa.
2. Pendidikan Islam mempunyai misi membentuk kader-kader khalifah fil ardl yang mempunyai sifat-sifat terpuji seperti amanah, jujur, kuat jasmani dan mempunyai pengetahuan yang luas dalam berbagai bidang. Diharapkan akan terbentuk muslim yang mampu mengemban tugas sebagai pembawa kemakmuran di bumi dan “Rahmatan Lil Alamin“.
3. Secara umum tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta moral yang tinggi, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai anggota masyarakat.
B. Saran
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca terutama pada dosen mata kuiah ini, agar dapat pembuatan makalah selanjutnya menjadi lebih baik. Atas kritik dan saranya, penulis ucapkan terima kasih.

hadits tentang persaudaraan

BAB I
PENDAHULUAN

(الحجرات) اخوة المؤمنون انما
Artinya :
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara”. (QS. Al-Hujurat : 10)
Dalam syari’at Islam banyak ajaran yang mengandung muatan untuk lebih mempererat tali persaudaraan dan solidaritas sesama umat Islam. Betapa penting silaturahmi dalam kehidupan umat islam terutama dalam pendidikan. Hal ini karena menyambung silaturahmi berpengaruh terhadap pendidikan karena bekal hidup di dunia dan akhirat, orang yang selalu menyambung silaturhami akan dipanjangkan usianya dalam arti akan dikenang selalu. Orang yang selalu bersilaturahmi tentunya akan memiliki banyak teman dan relasi, sedangkan relasi merupakan salah satu factor yang akan menunjang kesuksesan seseorang dalam berusaha. Selain dengan banyaknya teman akan memperbanyak saudara dan berarti pula ialah meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Hal ini karena telah melaksanakan perintah-Nya, yakni menghubungkan silaturahmi. Bagi mereka yang bertakwa Allah akan memberikan kemudahan dalam setiap urusannya.
Salah satu landasan utama yang mampu menjadikan umat bersatu atau bersaudara ialah persamaan kepercayaan atau akidah. Ini telah dibuktikan oleh bangsa Arab yang sebelum Islam selalu berperang dan bercerai-berai tetapi setelah mereka menganut agama Islam dan memiliki pandangan yang sama baik lahir maupun batin, mereka dapat bersatu.
Betapa penting silaturahmi dalam kehidupan umat islam terutama dalam pendidikan. Hal ini karena menyambung silaturahmi berpengaruh terhadap pendidikan karena bekal hidup di dunia dan akhirat, orang yang selalu menyambung silaturhami akan dipanjangkan usianya dalam arti akan dikenang selalu.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Hadits Tentang Persaudaraan Muslim
A. Hadits No. 1667 Lu’lu’ Wal Marjan
حَدِ يث عَبْدِاللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِ اللهُ عَنهُمَا. أنَّ رَسُولَ اللهِ صلّي اللهُ عليهِ
وَسَلّمَ ، قَالَ : الْمُسْلِمُ أَخُوالْمُسْلِمِ ، لَا يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يُسْلِمُهُ . وَمَنْ كَانَ فِى
حَاجَةِ أَخِيهِ . كَانَ اللهُ فِى حَاجَتِهِ . وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً ، فَرَّجَ اللهُ
عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ. وَمَنْ سَتَرَمُسْلِمًا ، سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اخرجه البخاري فى : – كتاب المظالم: – باب لايظلم المسلم المسلم ولايسلمه .
Artinya:
Abdullah bin Umar r.a. berkata : Rasulullah saw. Bersabda : Seorang muslim saudara terhadap sesama muslim, tidak menganiyayanya dan tidak akan dibiarkan dianiaya orang lain. Dan siapa yang menyampaikan hajat saudaranya, maka Allah akan menyampaikan hajatnya. Dan siapa yang melapangkan kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan kesukarannya di hari qiyamat, dan siapa yang menutupi aurat seorang muslim maka Allah akan menutupinya di hari qiyamat. (Bukhari, muslim).
Mufradat:
Seorang muslim saudara terhadap sesama = اْلمُسْلِمُ أَخُوالْمُسْلِمِ
muslim
tidak menganiyayanya = لَا يَظْلِمُهُ
dan tidak akan dibiarkan dianiaya orang lain = وَلاَ يُسْلِمُهُ
hajatnya = حَاجَتِهِ

Dan siapa yang melapangkan kesusahan = وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً
seorang muslim
maka Allah akan menutupinya di hari qiyamat = سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Penjelasan :
1. Tidak dibolehkan Penganiayaan : baik badan, hati, maupun perasaannya.
2. Larangan membuka aib dimuka umum.
3. Tidak dibolehkan Merendahkan, meremehkan, serta menyepelekan baik dengan tingkah laku, perbuatan dan perkataan.
Hadits di atas sangat jelas berbicara mengenai seorang muslim yang dalam keadaan bagaimana pun saudaranya itu, haruslah dibantu. Baik dia berada dalam keadaan yang tertindas, juga ketika dia tengah menindas. Inilah keistimewaan ajaran Islam. Sangatlah biasa jika seseorang membela orang yang dizalimi, karena seluruh dunia pun akan menyetujui dan berpikir sama tentang hal tersebut. Akan tetapi bagaimana jika menolong orang yang jelas-jelas menzalimi. Tentulah ini menjadi sangat spesial dan luar biasa, karena tidak semua berpikiran dan bertindak seperti ini.
Dalam hadits lain Rasulullah Saw bersabda :
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِى اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ص
اِنْصُرْاَخَاكَ ظَالِمًااَوْمَظْلُومًا قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ هذا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ
نَنْصُرُهُ ظَالِمًا ؟ قَالَ تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ .
Artinya:
Dari Anas bin Malik r.a berkata : Rasulullah Saw bersabda : “Tolonglah saudaramu baik zhalim atau dizhalimi, maka bagaimanakah kamu menolong orang yang zhalim? Beliau bersabda : “Kamu ambil (tahan) kedua tangannya”.
Adapun cara kita sebagai seorang mukmin menolong orang yang menzalimi adalah dengan mencegah dirinya dari berbuat zalim semampu dan sebisa kita. Hal ini serupa dengan perintah Allah untuk memerangi orang yang بَغَتْ dikarenakan mereka telah melampaui batas dan menzalim orang lain dan dirinya sendiri.
Hadit di atas, meski turun karena satu peristiwa tertentu, namun mencerminkan sebuah kaidah umum, qâ’idatu ‘âmmah, yang dapat berfungsi untuk memelihara kelompok Islam dari perpecahan dan tercerai-berai. Kaidah ini pun berguna li iqrâri al-haqq wa al-‘adl wa al-ishlâh, yakni untuk meneguhkan kebenaran, keadilan, dan perdamaian. Yang kesemuanya itu merupakan pilar atau tiang bagi ketakwaan kepada Allah dan harapan akan rahmat-Nya dengan menegakkan keadilan dan perdamaian.
Persaudaraan sesama muslim adalah sangat indah. Indah sebagaimana digambarkan dalam suatu hadits, Rasulullah saw bersabda:
وَعَنْ أنَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عليهِ وسلم : لاَتَقَا طَعُوا وَلاَتَدَا بَرُوا وَلَاتَبَا غَضُوا وَلاَتَحَا سَدُوا ، وَكُونُواعِبَادَ اللهِ إخْوَانًا ، وَلاَيَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أنْ يَهْجُرَ أخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .
Artinya :
Anas r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: jangan putus-memutus hubungan dan jangan belakang-membelakangi dan jangan benci-membenci, dan jangan hasud-menghasud dan jadilah kamu hamba Allah sebagai saudara, dan tidak dihalalkan bagi seorang muslim memboikot saudaranya sesama muslim lebih dari tiga hari. (Muttafaq Alaih) (Buchary, Muslim)
وَعَنْ أبِى أيُّوبَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عليهِ
وسلم قَالَ : لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أنْ يَهْجُرَ أخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ
فَيُعْرِضُ هذَا وَيُعْرِضُ هذَا ، وَخَيْرُ هُمَا الَّذِى يُبْدَأُبِالسَّلاَمِ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .
Artinya:
Abu Ajjub r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: Tidak dihalalkan seorang muslim memboikot saudara sesama Muslim lebih dari tiga hari, hingga bertemu masing2 mengabaikan pada yang lain. Dan sebaik-baik keduanya ialah yang dahulu memberi salam.
1.Haramnya perbuatan saling membenci, saling hasad, saling bertolak belakang dan saling memutuskan hubungan.
2.Larangan untuk menyakiti/mengganggu seorang Muslim dalam bentuk apapun.
3. Haramnya menjauhi saudaranya Muslim lebih dari tiga hari.
4. Semua perbuatan tersebut bukanlah dari akhlaq seorang Muslim.
5. Anjuran untuk bersaudara dan bersatu hati diantara sesama Muslim
Tidak diperbolehkan seorang muslim memboikot saudaranya selama tiga hari, karena manusia tidak akan mencapai ketentraman tanpa pergaulan didalam suatu kelompok sebagai bentuk persaudaraan
Pada hadits ini Rasulullah saw membimbing kita kepada perkara yang mengharuskan kita menjadi bersaudara, saling mencintai, bersatu hati serta saling berinteraksi antara kita dengan interaksi baik secara Islami, yang menunjukkan kita kepada akhlaq mulia dan menjauhkan kita dari keburukannya. Menghilangkan dari hati kita perasaan hasad dan benci serta menjadikan hubungan kita hubungan secara Islam yang mulia.
Hadits tersebut juga menunjukan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan dalam Islam lebih kuat daripada ikatan nasab dan darah karena landasannya adalah iman kepada Allah. Maka tidak boleh bagi seorang muslim menjauhi saudaranya atau berpaling darinya lebih dari tiga hari selama hal itu tidak terdapat sebab yang diperbolehkan oleh agama yang diharapkan orang yang yang dijahui tersebut kembali dari penyimpangan dalam agama.

B. Hadits No. 1670 Lu’lu’ Wal Marjan
حديث أبِى مُوسى ،عَنِ النَّبِىِّ صَلى الله عليه وسلم ، قَالَ : (( إنَّ الْمُؤ مِنَ
لِلْمُؤمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا )) وَشَبَّكَ أَصَا بِعَهُ .
أخرجه لبخارى فى : – كتاب الصلاة : – باب تشبيك الأصابع فى المسجد وغيره .

Artinya:
Abu Musa r.a. berkata : Nabi Saw. bersabda : Seorang mu’min terhadap sesama mu’min bagaikan satu bangunan yang setengahnya menguatkan setengahnya, lalu Nabi Saw. mengeramkan jari-jarinya. (Bukhari, Muslim).
Mufradat :
Bagaikan satu bangunan = كَالْبُنْيَانِ
yang setengahnya menguatkan setengahnya = يَشُدُّ
satu sama lain = بَعْضُهُ بَعْضًا
mengeramkan jari-jarinya = وَشَبَّكَ أَصَا بِعَهُ
Penjelasan :
Seorang muslim adalah bagian dari muslim yang lain. Bila ia sakit, maka muslim yang lain ikut merasakan sakit. Jika seorang muslim mempunyai masalah, sesungguhnya itupun merupakan masalah kaum muslimin seluruhnya. Jika seorang muslim tidak menolong saudaranya, maka hal itu akan berakibat fatal bagi dirinya dan bagi saudaranya
Hadits di atas sangat jelas berbicara mengenai seorang muslim yang dalam keadaan bagaimana pun saudaranya itu, haruslah dibantu. Baik dia berada dalam keadaan yang susah, juga ketika dia tengah kesulitan
عَنْ أبِيْ مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صَلّى اللهُ عليهِ وَسَلّمَ : “اَلمُؤمِنُ لِلْمُؤمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا”((روه مسلم)
Abu Musa mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Orang mukmin yang satu dengan lain bagai satu bangunan yang bagian-bagiannya saling mengokohkan.”
Pada hadits ini Rasulullah saw membimbing kita kepada perkara yang mengharuskan kita menjadi bersaudara, saling mencintai, bersatu hati serta saling berinteraksi antara kita dengan interaksi baik secara Islami, yang menunjukkan kita kepada akhlaq mulia dan menjauhkan kita dari keburukannya.
Dalam hadits tersebut telah dijelaskan bahwa hendaknya orang islam harus saling tolong-menolong dalam kebaikan dan membantu dalam kesulitan atau kesusahan yang menimpa saudara kita di dunia ketika kita membantu untuk meringankan bebannya dan bahkan menghapus kesulitannya di dunia, maka di akhirat kelak kitalah yang akan mendapatkan apa yang kita kerjakan di dunia dengan membantu mengurangi kesulitan orang lain

B. Hadits Tentang Persaudaraan
1. Hadits No. 1556 Riadhus Shalihin
وَعَنِ ابْنِ مُسْعُودٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّم : سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ . مُتَّفَقٌ عَلَيْه .
Ibn Mas’ud r. a. berkata : Rasulullah s.a.w. bersabda : Mencaci maki pada seorang Muslim berarti fasik (melanggar agama), dan memerangi orang Muslim berarti kafir. (Buchary, Muslim)
Mufradat :
Mencaci maki pada seorang Muslim berarti fasik سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ = (melanggar agama)
dan memerangi orang Muslim = وَقِتَالُهُ

fasik (melanggar agama) = فُسُوقٌ

Kafir = كُفْرٌ

Penjelasan

larangan mencaci orang islam, bahwasannya islam mengajarkan hubungan dengan sesama orang islam untuk selalu berbuat baik, tidak boleh mencaci maki dan berakhlak mulia.
akibat dari mencaci maki orang islam ialah menjadikan orang itu “fasik” fasik ialah perbuatan yang keluar dari kebenaran(dalam hal ini keluar dari dari taat kepada Allah SWT.
Perbuatan membunuh juga termasuk perbuatan yang sangat dilarang oleh Allah SWT, dikarenakan membunuh ini adalah termasuk dari dosa-dosa besar.
akibat dari perbuatan membunuh ini termasuk dari perbuatan kufur, dalam hal ini kufur dalam perbuatannya bukan imannya.
Orang Islam dilarang mencaci orang Islam lainnya dikarenakan semua orang Islam itu adalah bersaudara. Selain itu Allah juga sangat tidak menyukai orang yang mencaci sesamanya.
Mukmin itu pasti bersaudara. Dan tidak ada persaudaraan kecuali dengan keimanan. Jika Anda melihat ada yang bersaudara bukan karena iman, maka ketahuilah itu adalah persaudaraan dusta. Tidak memiliki akar dan tidak memiliki buah. Jika Anda melihat iman tanpa persaudaraan, maka itu adalah iman yang tidak sempurna, belum mencapai derajat yang diinginkan, bahkan bisa berakhir dengan permusuhan.

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Salah satu tanda kesempurnaan iman seseorang mukmin ialah mencintai saudaranya sendiri sebagaiman ia mencintai dirinya sendiri. Hal itu direalisasika dalam kehidupan sehari – hari dengan berusaha untuk menolong dan merasakan kesusahan maupun kebahagiaansaudaranya seiman yang didasarkan atas keimanan yang teguh kepada Allah SWT. Dia tidak berfikir panjang untuk menolong saudaranya sekalipin sesuatu yang diperlukan saudaranya adalah benda yang paling di cintainya. Sikap ini timbul karena ia merasakan adanya persamaanantara dirinya dan saudaranya seiman.
Ikatan persaudaraan dalam Islam lebih kuat daripada ikatan nasab dan darah karena landasannya adalah iman kepada Allah.
Persaudaraan merupakan hal yang umum, persaudaraan yang timbul karena saling memperkuat ikatan–ikatan persaudaraan dan sebagai fakor untuk mencapainya kesejahteraan masayarakat Islam. Setiap manusia memiliki kewajibannya dengan adanya rasa cinta, penghargaan, penghormatan dan pelaksanaan berbagai kewajiban – kewajiban yang harus dilaksanakan. Ukhuwah Islamiyah, persaudaraan Islam telah digariskan oleh Allah SWT.Dalam AlQur’an dan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya dan benar-benar diamalkan.
2. Saran
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca terutama pada dosen mata kuiah ini, agar dapat pembuatan makalah selanjutnya menjadi lebih baik. Atas kritik dan saranya, penulis ucapkan terima kasih.

Halo dunia!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.